Jakarta, IDN Times – Pemerintah Spanyol mengerahkan angkatan bersenjata demi memperketat keamanan di Ceuta, wilayah enklave Afrika Utara, setelah gelombang migran nekat menyeberang lewat laut dari Maroko. Kedatangan ribuan orang secara masif ini langsung melumpuhkan fasilitas penerimaan dan sistem pengawasan perbatasan di wilayah tersebut.
Pemimpin Pemerintah Ceuta Juan Jesús Vivas pada Rabu (29/7/2026) melaporkan lebih dari 1.500 migran, mencakup dewasa hingga anak-anak, telah tiba dalam beberapa hari terakhir. Ia menyebut pusat penampungan sudah jenuh melebihi kapasitasnya sehingga ratusan orang terpaksa tidur di luar fasilitas, dilaporkan Euronews.
Aksi penyelamatan melibatkan Garda Civil Spanyol, Dinas Penyelamatan Maritim, dan Palang Merah yang menerjunkan kapal untuk mengevakuasi para migran dari perairan. Setidaknya 15 orang tewas tenggelam dalam insiden terbaru ini, sementara tragedi sepanjang tahun lalu mencatat 60 jenazah ditemukan mengapung di laut.
