Ratusan Migran Berenang dari Maroko Menuju Ceuta di Spanyol

- Ratusan migran berenang dari Maroko menuju Ceuta, Spanyol; sekitar 117 orang diselamatkan dan dua jenazah ditemukan di perairan.
- Dalam beberapa hari terakhir, lebih dari 1.500 migran tiba di Ceuta lewat laut, membuat pusat penampungan penuh dan fasilitas anak tanpa pendamping beroperasi jauh melampaui kapasitas.
- Spanyol memperkuat keamanan, pengendalian migrasi, dan bantuan kemanusiaan bersama Maroko, sementara putusan pengadilan melarang pemulangan langsung migran jalur laut tanpa proses hukum.
Jakarta, IDN Times - Otoritas Spanyol mengatakan bahwa ratusan migran berenang dari Maroko untuk mencapai kota Ceuta. Lonjakan kedatangan ini membuat aparat keamanan di perbatasan kewalahan.
Dilansir DW, Penjaga Sipil Spanyol, Layanan Penyelamatan Maritim dan Palang Merah berhasil menyelamatkan sekitar 117 migran dan menemukan dua jenazah dari perairan. Sementara itu, otoritas Maroko juga dilaporkan mengevakuasi puluhan migran lainnya yang sedang berenang menuju perairan Spanyol.
Ceuta merupakan wilayah kecil milik Spanyol yang terletak di pesisir Benua Afrika dan berbatasan langsung dengan Maroko bagian utara. Para migran dapat mencapai wilayah tersebut dengan berenang mengitari pagar perbatasan yang memisahkan kedua wilayah, tapi tindakan itu tergolong berbahaya.
1. Lebih dari 1.500 migran telah tiba di Ceuta melalui jalur laut

Hingga kini, belum jelas alasan ratusan orang tersebut nekat berenang menuju wilayah Spanyol. Menurut para aktivis di Maroko dan Ceuta, sebagian besar mereka yang berenang tersebut merupakan warga Maroko, sementara sebagian kecil lainnya adalah warga Aljazair yang tinggal di Maroko dalam upaya bermigrasi ke Eropa.
"Dalam beberapa hari terakhir, lebih dari 1.500 migran, baik orang dewasa maupun anak di bawah umur, telah tiba di Ceuta melalui jalur laut. Pusat-pusat penampungan sudah penuh. Tidak ada lagi ruang untuk menampung pendatang baru, sementara berdasarkan data kemarin jumlah migran yang masuk mencapai lebih dari 200 orang per hari," kata pemimpin pemerintahan Ceuta, Juan Jesus Vivas pada Rabu (29/7/2026).
Ia juga mengungkapkan bahwa fasilitas untuk anak-anak tanpa pendamping bahkan telah beroperasi pada tingkat 2.400 persen dari kapasitasnya.
2. Spanyol kerahkan sumber daya untuk menjamin keamanan, pengendalian arus migrasi dan bantuan kemanusiaan

Dilansir France24, Menteri Dalam Negeri Spanyol, Fernando Grande-Marlaska, dijadwalkan mengunjungi Ceuta pada Jumat (31/7/2026) untuk memantau situasi secara langsung. Ia mengatakan bahwa pemerintah telah meningkatkan sumber daya untuk menjamin keamanan, pengendalian arus migrasi dan bantuan kemanusiaan yang diperlukan agar tidak ada nyawa yang terancam di laut.
Grande-Marlaska juga menambahkan bahwa pemerintah Maroko bekerja sama secara erat dengan Spanyol dalam menangani situasi tersebut.
"Pasukan keamanan Maroko telah mencegah banyak orang yang berupaya mencapai Ceuta dari wilayah Maroko," ujarnya.
3. Aturan terbaru melarang migran yang tiba melalui laut dapat langsung dipulangkan tanpa adanya proses hukum

Awal bulan ini, Mahkamah Agung Spanyol memutuskan bahwa migran yang tiba melalui jalur laut tidak dapat langsung dipulangkan melintasi perbatasan tanpa melalui proses hukum yang berlaku, berbeda dengan migran yang masuk melalui jalur darat.
Namun, para aktivis meragukan bahwa warga Maroko pada umumnya, termasuk mereka yang berenang menuju Ceuta, mengetahui soal putusan tersebut. Mereka menepis adanya kaitan antara putusan tersebut dengan meningkatnya upaya penyeberangan.
Jumlah migran yang tiba di Spanyol melalui Ceuta dan Melilla di kawasan Mediterania tercatat lebih rendah tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hal ini terjadi karena banyak migran beralih ke rute lain seperti Kepulauan Canaria.





















