Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mendagri: E-Voting Pemilu Efisien dan Murah tapi Rawan Diretas

Mendagri: E-Voting Pemilu Efisien dan Murah tapi Rawan Diretas
Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Muhammad Tito Karnavian saat Konferensi Pers Pemerintah terkait Update Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC)/Program Prioritas serta Percepatan Fase Pemulihan Permanen Pascabencana Sumatra di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta, Rabu (5/8/2026)(Dok. Kemendagri)
  • Usulan e-voting untuk pemilu masih akan dibahas pemerintah dan DPR sebelum masuk pembahasan revisi undang-undang pemilu.
  • Tito Karnavian menyebut e-voting pernah diterapkan terbatas di desa; India menjadi salah satu negara yang direncanakan untuk studi banding.
  • KPU menilai e-voting cepat dan lebih murah, sementara Mendagri menyoroti risiko hacking dan potensi kecurangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian, mengatakan usulan e-voting atau pemilu elektronik masih akan dibahas pemerintah dan DPR, sebelum dibawa dalam pembahasan revisi undang-undang pemilu.

Tito juga mengatakan, ada wacana untuk melakukan studi banding ke India mengenai penerapan e-voting pada pemilu mendatang.

"Ya, ada-ada wacana itu (e-voting). Tapi itu kan harus dibicarakan pemerintah, DPR, KPU, Bawaslu, DKPP, ya, partai-partai politik, apakah mereka setuju atau tidak dengan wacana e-voting," kata Tito, di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (15/9/2026).

  1. 1. Kelebihan e-voting pemilu menurut KPU

    Mendagri: E-Voting Pemilu Efisien dan Murah tapi Rawan Diretas
    Mendagri Tito Karnavian pertimbangkan tertibkan sound horeg. (IDN Times/Amir Faisol).

    Tito menjelaskan, sedianya e-voting telah diterapkan di Indonesia dalam skala terbatas. Hal ini berbanding terbalik dengan India, yang telah memberlakukan hal serupa.

    "Boleh saja, ada juga rencana, ada wacana ya, untuk studi banding misalnya di India. India itu juga sama negara besar, penduduknya banyak, tapi juga melakukan e-voting," katanya.

    "Sebetulnya e-voting juga dilaksanakan di Indonesia sudah ada di beberapa tingkat desa, ya. Tapi dalam skala yang kecil," ujar dia.

    Menurut Tito, hasil kajian Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyampaikan keuntungan e-voting pada pemilu, salah satunya lebih murah. Selain itu, pelaksanaan pemilu bisa lebih efektif karena masyarakat tak perlu berbondong-bondong ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk mencoblos.

    "Dari KPU pernah menyampaikan juga, pernah saya tahu, ada pro-kontra. Di antaranya mereka menyampaikan bahwa keuntungan dari e-voting itu kekuatannya adalah cepat dan biayanya pasti lebih murah, ya. Karena cepat, orang bisa melakukan tanpa harus ke TPS, misalnya ya, dengan sistem online," jelasnya.

  2. 2. Kelemahan e-voting pemilu menurut Mendagri

    Mendagri: E-Voting Pemilu Efisien dan Murah tapi Rawan Diretas
    Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Muhammad Tito Karnavian saat menghadiri Rapat Kerja Tingkat I yang membahas 15 RUU tentang kabupaten/kota di ketiga provinsi tersebut di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (14/9/2026). (dok. Kemendagri)

    Kendati, Mendagri juga menyoroti risiko keamanan dalam penerapan e-voting, salah satunya kemungkinan sistem diretas.

    "Tapi kelemahannya, yang dikhawatirkan di antaranya takut adanya hacking. Kemudian ditembus sistem apa namanya itu, e-votingnya diganggu, misalnya. Kemudian kalau manual, itu bisa dilihat banyak orang jumlahnya ya, suaranya dihitung bertahap," kata dia.

    Selain itu, Tito menyebut, potensi kecurangan dalam pemilu melalui mekanisme e-voting tak bisa dihindari. Dalam sistem pemungutan suara manual memungkinkan proses penghitungan suara dilihat dan dilakukan secara bertahap.

    "Kalau e-voting kan langsung dia, tanpa melalui penghitungan itu tingkat secara bertingkat. Sehingga mungkin akan ada terdapat kelemahan moral hazard, misalnya, takut ada kecurangan misalnya, ya. Nah, tapi kita harus belajar. Dari kita mau melakukan apa, melihatlah, praktik di negara-negara yang melakukan itu," ungkapnya.

  3. 3. Mendagri tegaskan e-voting pemilu masih wacana

    Mendagri: E-Voting Pemilu Efisien dan Murah tapi Rawan Diretas
    Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Muhammad Tito Karnavian saat dalam Rapat Satgas Karhutla Provinsi Sumatera Selatan di Posko Utama Satgas Karhutla Provinsi Sumatra Selatan, Kota Palembang, Senin (24/8/2026). (Dok. Kemendagri)

    Tito menegaskan, penerapan e-voting untuk pemilu hingga hari ini masih sekadar wacana. Pemerintah perlu mempelajari praktik negara-negara yang telah menerapkan sistem tersebut.

    "Ada juga negara-negara yang gak melakukan itu, negara-negara modern juga, negara maju ada juga yang gak melakukan e-voting. Kenapa juga alasannya gitu kan? Jadi kira-kira seperti itulah. Ini masih sebatas wacana. Intinya adalah sebatas wacana baru. Kita mau belajar dulu beberapa," tuturnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More