Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Suramnya Krisis Sosial Korea: 540 Ribu Pemuda Pilih Mengurung Diri

5 min read
Suramnya Krisis Sosial Korea: 540 Ribu Pemuda Pilih Mengurung Diri
ilustrasi pemuda, pejalan kaki, Korea Selatan (pexels.com/VANBLV)
  • Sekitar 540 ribu orang di Korea Selatan mengalami social withdrawal pada 2022, dengan pola mengisolasi diri, menghindari partisipasi sosial, dan membatasi hubungan dengan orang lain.
  • Laki-laki usia 20-an serta kelompok berpendidikan tinggi banyak terdampak; isolasi sosial berkaitan dengan pengangguran, depresi, rasa tertinggal, pandangan masa depan negatif, dan self-esteem rendah.
  • Penarikan diri berkepanjangan atau hikikomori terkait kebutuhan layanan kesehatan yang tak terpenuhi, terutama kesehatan mental; risikonya meningkat seiring tingkat keparahan dan durasi isolasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Korea Selatan tengah menghadapi persoalan sosial serius berupa semakin banyak orang yang menarik diri dari kehidupan sosial. Konselor Lee Ho-sun menyebut sekitar 540 ribu orang di Korea Selatan mengalami social withdrawal pada 2022, dengan laki-laki berusia 20-an dan orang berpendidikan tinggi menjadi bagian besar dari kelompok tersebut.

Kondisi ini dapat berkaitan dengan berbagai pengalaman sulit, mulai dari masalah akademik, pekerjaan, hingga hubungan interpersonal. Penelitian ilmiah juga menunjukkan bahwa isolasi sosial pada anak muda Korea berkaitan dengan pengangguran, depresi, rendahnya self-esteem, serta pandangan negatif terhadap masa depan. Fenomena ini akhirnya memperlihatkan bahwa menarik diri dari lingkungan sosial gak selalu sesederhana seseorang yang sekadar ingin menghabiskan waktu sendirian.

Lantas, seberapa besar sebenarnya fenomena social withdrawal yang terjadi di Korea Selatan? Yuk, simak fakta dan penyebabnya berikut ini.

  1. 1. Ada 540 ribu orang mengalami social withdrawal

    ilustrasi pemuda, pejalan kaki, Korea Selatan
    ilustrasi pemuda, pejalan kaki, Korea Selatan (pexels.com/Theodore Nguyen)

    Konselor Lee Ho-sun menjelaskan bahwa skala social withdrawal di Korea Selatan sudah cukup besar. Dalam acara Lee Ho-sun Counseling Center yang tayang di tvN STORY, ia menyebut estimasi sekitar 540 ribu orang mengalami kondisi tersebut pada 2022. Lee menggambarkan orang yang mengalami social withdrawal sebagai mereka yang memilih mengisolasi diri, menghindari partisipasi sosial, serta enggan mempertahankan hubungan dengan orang lain.

    Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan mengisolasi diri sudah menjadi fenomena sosial dengan jumlah cukup besar. Kamu mungkin membayangkan orang yang mengalami kondisi ini sebagai seseorang yang sama sekali gak pernah keluar rumah, tapi bentuknya bisa lebih beragam, lho. Ada orang yang masih melakukan aktivitas tertentu, tapi sangat membatasi interaksi dan hubungan sosialnya. Ketika pola tersebut berlangsung terus-menerus, kehidupan seseorang dapat semakin terpisah dari lingkungan sekitarnya.

  2. 2. Anak muda dan orang berpendidikan tinggi ikut terdampak

    ilustrasi ruang baca di Asia Culture Center, Gwangju, Korea Selatan
    ilustrasi ruang baca di Asia Culture Center, Gwangju, Korea Selatan (pexels.com/Asia Culture Center)

    Hal cukup menarik dari penjelasan Lee adalah kelompok yang banyak mengalami social withdrawal ternyata mencakup laki-laki berusia 20-an dan orang-orang berpendidikan tinggi. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi gak otomatis membuat seseorang terbebas dari persoalan isolasi sosial. Tekanan setelah menyelesaikan pendidikan, mencari pekerjaan, dan membangun kehidupan mandiri tetap dapat menjadi tantangan besar. Lee mengaitkan persoalan ini dengan kesulitan dalam bidang akademik, pekerjaan, dan hubungan interpersonal.

    Temuan itu sejalan dengan penelitian dalam Frontiers in Public Health yang menganalisis 521 orang dewasa muda di Korea Selatan berusia 19-39 tahun. Penelitian tersebut menemukan bahwa pengangguran berkaitan dengan tingkat isolasi sosial yang lebih tinggi, begitu pula dengan rasa tertinggal dibandingkan orang lain, depresi, pandangan negatif terhadap masa depan, dan rendahnya self-esteem. Keterampilan sosial yang lebih rendah serta pengalaman kekerasan juga ditemukan berkaitan dengan isolasi sosial yang lebih tinggi.

  3. 3. Kegagalan berulang bisa membuat seseorang makin terpuruk

    ilustrasi cewek terlihat murung (pexels.com/Khoa Võ)
    ilustrasi cewek terlihat murung (pexels.com/Khoa Võ)

    Menurut Lee Ho-sun, persoalan social withdrawal gak selalu muncul setelah seseorang mengalami satu kali kegagalan. Kesulitan yang terjadi berulang kali dalam pendidikan, pekerjaan, atau hubungan interpersonal dapat membuat seseorang mulai meragukan dirinya sendiri. Frustrasi yang muncul kemudian dapat mendorong seseorang semakin menjauh dari lingkungan sosial. Dengan kata lain, kegagalan berulang bisa membentuk pola ketika seseorang merasa lebih nyaman menghindari situasi yang berpotensi kembali membuatnya kecewa.

    Penelitian dalam Frontiers in Public Health juga memberikan gambaran mengenai hubungan antara kondisi psikologis dan isolasi sosial. Rasa deprivation atau perasaan tertinggal dibandingkan orang lain, depresi, pandangan masa depan yang negatif, dan self-esteem yang rendah ditemukan berkaitan dengan isolasi sosial pada dewasa muda Korea Selatan. Kalau kamu terus merasa tertinggal dari teman sebaya, misalnya dalam pekerjaan atau pencapaian hidup, tekanan tersebut dapat memengaruhi cara kamu melihat diri sendiri dan lingkungan.

  4. 4. Dampaknya bisa berkaitan dengan kebutuhan kesehatan

    ilustrasi pasangan, pemuda, pejalan kaki, Korea Selatan
    ilustrasi pasangan, pemuda, pejalan kaki, Korea Selatan (pexels.com/Theodore Nguyen)

    Social withdrawal juga perlu dilihat dari dampaknya terhadap kebutuhan kesehatan seseorang. Salah satu istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan kondisi menarik diri secara ekstrem adalah hikikomori, yaitu keadaan ketika seseorang menghindari interaksi sosial dan cenderung mengisolasi diri dalam jangka waktu lama. Kondisi ini berbeda dari keinginan sesekali untuk menyendiri karena hikikomori dapat membuat seseorang membatasi aktivitas sosial, pendidikan, pekerjaan, hingga hubungan dengan lingkungan sekitar.

    Penelitian dalam JMIR Public Health and Surveillance menganalisis data 14.966 orang berusia 19-34 tahun dari 2022 Korean Youth Living Conditions Survey. Dalam penelitian tersebut, 2,9 persen peserta dikategorikan mengalami hikikomori berdasarkan perilaku menarik diri yang dilaporkan. Peneliti kemudian membandingkan kebutuhan layanan kesehatan kelompok tersebut dengan peserta yang gak mengalami hikikomori.

    Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok hikikomori memiliki kebutuhan layanan kesehatan yang tak terpenuhi lebih tinggi dibandingkan kelompok non-hikikomori. Untuk kebutuhan kesehatan mental, prevalensinya tercatat 10,3 persen pada kelompok hikikomori dibandingkan 2,6 persen pada kelompok non-hikikomori. Hubungan tersebut juga semakin kuat ketika tingkat penarikan diri lebih berat dan berlangsung lebih lama.

  5. 5. Menarik diri bisa menjadi lingkaran yang sulit diputus

    ilustrasi depresi (pexels.com/Inzmam Khan)
    ilustrasi depresi (pexels.com/Inzmam Khan)

    Masalahnya, seseorang yang semakin lama menghindari lingkungan sosial bisa semakin sedikit mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain. Penelitian dalam JMIR Public Health and Surveillance menunjukkan bahwa kebutuhan layanan kesehatan yang tak terpenuhi berkaitan kuat dengan kondisi hikikomori, terutama dalam aspek kesehatan mental. Risiko tersebut bahkan meningkat seiring bertambahnya tingkat keparahan dan durasi social withdrawal.

    Kondisi ini membuat persoalan social withdrawal gak cukup dipahami sebagai keputusan seseorang untuk lebih sering berada di rumah. Di baliknya bisa terdapat pengangguran, rasa tertinggal, pengalaman gagal, depresi, rendahnya kepercayaan diri, atau masalah hubungan dengan orang lain. Kalau kamu melihat seseorang mulai menarik diri, penting untuk memahami bahwa perubahan tersebut bisa memiliki alasan yang cukup kompleks. Fenomena di Korea Selatan menunjukkan bahwa menjaga hubungan sosial dan akses terhadap bantuan yang dibutuhkan menjadi bagian penting dalam menghadapi persoalan tersebut.

    Besarnya angka 540 ribu orang pada 2022 menunjukkan bahwa social withdrawal di Korea Selatan sudah menjadi persoalan sosial yang patut diperhatikan. Kondisinya juga bukan hanya berkaitan dengan anak muda yang sedang mencari pekerjaan, tapi dapat melibatkan berbagai pengalaman hidup dan kondisi psikologis.

    Dua penelitian ilmiah menunjukkan adanya kaitan antara isolasi sosial dengan faktor seperti pengangguran, depresi, rendahnya self-esteem, serta kebutuhan layanan kesehatan yang belum terpenuhi. Karena itu, memahami alasan seseorang memilih mengisolasi diri menjadi langkah penting agar persoalan tersebut tidak dipandang secara sederhana.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More