Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kasus Bunuh Diri Siswa di Korsel Melonjak 65 Persen dalam 5 Tahun

6 min read
Kasus Bunuh Diri Siswa di Korsel Melonjak 65 Persen dalam 5 Tahun
bendera Korea Selatan (pexels.com/aboodi vesakaran)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Jumlah kematian akibat bunuh diri di kalangan pelajar di Korea Selatan mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah pencatatan pada 2025. Data audit parlemen dari Kementerian Pendidikan Korsel yang dirilis pada Minggu (13/9/2026) mengungkapkan bahwa sebanyak 244 siswa sekolah dasar hingga sekolah menengah atas meninggal akibat bunuh diri pada tahun tersebut. Angka tersebut menunjukkan lonjakan sebesar 64,9 persen jika dibandingkan dengan catatan pada 2020 silam.

Laporan yang diterima oleh anggota Komite Pendidikan Majelis Nasional Korsel dari Partai Demokrat Korea, Kim Moon-soo, merinci bahwa kasus terbanyak ditemukan pada jenjang sekolah menengah atas. Tingginya angka kematian ini berkaitan dengan berbagai dinamika persoalan yang dialami pelajar, mulai dari masalah keluarga hingga tekanan akademik.

  1. 1. Lonjakan kasus kematian siswa capai rekor tertinggi pada 2025

    ilustrasi pelajar
    ilustrasi pelajar (pexels.com/Karola G)

    Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Korsel yang dilaporkan The Korea Herald, sebanyak 244 pelajar tercatat bunuh diri sepanjang 2025. Jumlah tersebut terdiri dari enam siswa sekolah dasar, 92 siswa sekolah menengah pertama, dan 146 siswa sekolah menengah atas. Secara keseluruhan, total kematian pelajar ini naik 10,4 persen dibandingkan tahun 2024 yang berjumlah 221 kasus.

    Laporan media Maeil Business Newspaper memaparkan bahwa angka 244 kematian tersebut bertambah satu orang dari data 243 orang yang sebelumnya dicatat kementerian saat peluncuran rencana pencegahan pada Juni lalu. Pihak kementerian menjelaskan bahwa penambahan satu orang terjadi selama proses rekapitulasi laporan dari kantor-kantor pendidikan daerah. Dalam rentang lima tahun terakhir, jumlah tahunan kasus kematian siswa ini melonjak sebanyak 96 orang dari angka 148 kasus pada 2020.

    Tren kasus bunuh diri di kalangan pelajar Korsel bergerak fluktuatif, dengan kecenderungan meningkat. Angka kasus sempat melonjak dari 148 kasus pada 2020 menjadi 197 kasus pada 2021, sebelum mengalami sedikit penurunan menjadi 194 kasus pada 2022. Namun, grafik kembali menanjak melampaui angka dua ratus menjadi 214 kasus pada 2023 dan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya.

  2. 2. Kota Seoul dan Busan catat kenaikan kasus bunuh diri signifikan

    potret suasana Busan di malam hari
    potret suasana Busan di malam hari (pexels.com/thuan Nguyen)

    Kenaikan angka kematian siswa dilaporkan terjadi secara tajam di sejumlah wilayah, termasuk Seoul, Busan, dan Provinsi Gyeongsang Selatan. Seoul mencatatkan 51 kematian pada 2025, naik 27,5 persen dari 40 kasus pada 2024 atau naik 131,8 persen dari 22 kasus pada 2020. Sementara itu, kematian siswa di Busan naik lebih dari tiga kali lipat dalam satu tahun, yakni dari tujuh orang pada 2024 menjadi 22 orang pada 2025.

    Provinsi Gyeongsang Selatan mencatat 25 kasus bunuh diri pada 2025, meningkat 25 persen dibandingkan 2024 dan melesat 3,6 kali lipat dari tujuh kasus pada 2020. Provinsi Gangwon turut mencatat kenaikan dari tiga kasus pada 2020 menjadi sembilan kasus pada 2025, sedangkan Provinsi Chungcheong Selatan naik dari tiga menjadi 14 kasus pada periode yang sama. Adapun wilayah Incheon dan Ulsan mencatatkan angka yang tetap sama antara 2020 dan 2025, masing-masing dengan 12 dan tiga kematian.

    Sebaliknya, Provinsi Gyeonggi yang memiliki jumlah siswa terbesar justru mencatat tren penurunan. Wilayah ini membukukan 51 kasus pada 2025, turun 19 persen dari 63 kasus pada 2024 dan menjadi angka terendah sejak 2021. Penurunan kasus dibanding 2020 juga tercatat di beberapa daerah lain seperti Jeju dari dua menjadi satu kasus, Jeolla Selatan dari tujuh menjadi lima kasus, Jeolla Utara dari delapan menjadi lima kasus, serta Chungcheong Utara dari tiga menjadi dua kasus.

  3. 3. Masalah keluarga, kesehatan mental, dan tekanan akademik jadi pemicu utama

    ilustrasi lelah mental
    ilustrasi lelah mental (pexels.com/cottonbro studio)

    Data kementerian menunjukkan bahwa masalah keluarga menjadi faktor pemicu bunuh diri yang paling banyak dilaporkan dengan total 77 kasus. Di urutan berikutnya, persoalan kesehatan mental teridentifikasi mendasari 58 kasus, sementara konflik hubungan antarpribadi dilaporkan menyumbang 38 kasus. Selain faktor-faktor tersebut, terdapat 79 kasus yang faktor pemicu utamanya belum dapat dipastikan.

    Kekhawatiran terkait capaian akademik dan arah karier masa depan tercatat menjadi pemicu dalam 54 kasus. Angka tersebut memperlihatkan bahwa problem akademik dan karier diperkirakan melatarbelakangi lebih dari satu perlima kematian pelajar pada 2025. Keseluruhan faktor penyebab ini dirangkum berdasarkan estimasi para guru dalam laporan kematian bunuh diri siswa, dengan kemungkinan adanya lebih dari satu faktor yang tercatat untuk satu kasus.

  4. 4. Pemerintah Korsel targetkan penurunan angka bunuh diri remaja

    ilustrasi pemerintah
    ilustrasi pemerintah (unsplash.com/Dámaris Azócar)

    Sebelumnya, pada Juni lalu, Pemerintah Korsel telah merilis strategi lintas kementerian untuk pencegahan bunuh diri remaja. Melalui kebijakan terpadu tersebut, pemerintah menetapkan target untuk memangkas separuh angka bunuh diri pada kelompok usia remaja hingga 2035 mendatang.

    Anggota parlemen Kim Moon-soo mendesak seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk segera mengambil tindakan pencegahan yang nyata. "Kementerian Pendidikan, kantor pendidikan metropolitan dan provinsi, kantor pendidikan distrik, dan sekolah harus bersama-sama berupaya mencegah anak-anak mengakhiri hidup mereka," kata Kim. Ia juga menegaskan, "Kita perlu memperkuat kebijakan terkait, termasuk program dukungan kesehatan mental siswa yang saat ini sedang berjalan."

    Depresi bukanlah persoalan sepele. Bila kamu merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.

    Saat ini, tidak ada layanan hotline atau sambungan telepon khusus untuk pencegahan bunuh diri di Indonesia. Kementerian Kesehatan Indonesia pernah meluncurkan hotline pencegahan bunuh diri pada 2010. Namun, hotline itu ditutup pada 2014 karena rendahnya jumlah penelepon dari tahun ke tahun, serta minimnya penelepon yang benar-benar melakukan konsultasi kesehatan jiwa.Walau begitu, Kemenkes menyarankan warga yang membutuhkan bantuan terkait masalah kejiwaan untuk langsung menghubungi profesional kesehatan jiwa di Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat.Kementerian Kesehatan RI juga telah menyiagakan lima RS Jiwa rujukan yang telah dilengkapi dengan layanan telepon konseling kesehatan jiwa:

    RSJ Amino Gondohutomo Semarang (024) 6722565

    RSJ Marzoeki Mahdi Bogor (0251) 8324024, 8324025

    RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta (021) 5682841

    RSJ Prof Dr Soerojo Magelang (0293) 363601

    RSJ Radjiman Wediodiningrat Malang (0341) 423444.

    Selain itu, terdapat pula beberapa komunitas di Indonesia yang secara swadaya menyediakan layanan konseling sebaya dan support group online yang dapat menjadi alternatif bantuan pencegahan bunuh diri dan memperoleh jejaring komunitas yang dapat membantu untuk gangguan kejiwaan tertentu.Kamu juga bisa menghubungi LSM Jangan Bunuh Diri, lembaga swadaya masyarakat yang didirikan sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan jiwa.

    Tujuan dibentuknya komunitas ini adalah untuk mengubah perspektif masyarakat terhadap mental illness dan meluruskan mitos serta agar masyarakat paham bunuh diri sangat terkait dengan gangguan atau penyakit jiwa. Kalian dapat menghubungi komunitas ini melalui nomor telepon 021-06969293 atau melalui email janganbunuhdiri@yahoo.com.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More