Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Tahun Agresi Israel, Aliansi Global Palestina Bakal Gelar Demo Besar
Orang-orang sedang melakukan demo pembebasan Palestina dari agresi Israel. (pexels.com/Monirul Islam)
  • Aliansi Global Palestina akan menggelar demonstrasi global pada 9-11 Oktober 2026, bertepatan tiga tahun sejak agresi Israel kembali berlangsung di Palestina.
  • Aksi 10 Oktober akan berfokus mendesak negara-negara dunia menerapkan sanksi ekonomi, boikot, dan embargo senjata terhadap Israel.
  • Agresi Israel dilaporkan masih berlanjut meski gencatan senjata disepakati pada Oktober 2025; serangan terbaru di Az-Zawayda menewaskan tiga warga Palestina, termasuk seorang anak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Aliansi Global Palestina (GAFP) akan menggelar demo besar di seluruh dunia pada Oktober mendatang. Menurut keterangan Ketua GAFP, Robert Andrews, pada Minggu (23/8/2026), aksi ini bertujuan untuk mengecam dan mendesak Israel menghentikan agresi militernya di Palestina. Sebab, agresi tersebut kini sudah menewaskan lebih dari 70 ribu warga Palestina.

Andrews menambahkan, demo pada Oktober mendatang juga bertujuan untuk mendesak negara-negara di dunia agar bersedia melakukan embargo senjata dan sanksi ekonomi ke Israel. Langkah ini bertujuan untuk melemahkan kekuatan Tel Aviv agar tidak terus melakukan serangan ke Palestina, terutama ke Gaza dan Tepi Barat.

1. Demo GAFP akan digelar selama tiga hari

potret demo menuntut gencatan senjata di Gaza, Palestina (pexels.com/Alfo Medeiros)

Andres menjelaskan, GAFP akan menggelar demo terhadap Israel di seluruh dunia selama kurang lebih tiga hari, yakni pada 9 sampai 11 Oktober. Waktu tersebut bertepatan dengan peringatan tiga tahun agresi Israel ke Palestina. Sebab, Tel Aviv kembali menyerang Palestina pada 7 Oktober 2023. Oleh karena itu, Andrews mengatakan bahwa persiapan demo sudah dimulai dari sekarang.  

Ratusan organisasi atau kelompok pro-Palestina di seluruh dunia diprediksi akan turut menggelar demo besar di negara masing-masing seperti yang sudah digagas GAFP. Organisasi pro-Palestina di Indonesia juga diprediksi akan mengikuti aksi ini. Sebab, Indonesia merupakan rumah bagi banyak organisasi pro-Palestina yang sering menggelar aksi demo untuk mengecam agresi Israel ke Palestina. 

2. Demo khusus akan dilakukan pada 10 Oktober

potret demo pembebasan Palestina (pexels.com/TIMO)

Menurut Andrews, GAFP akan melakukan demo khusus pada 10 Oktober mendatang. Pada waktu tersebut, GAFP dan organisasi pro-Palestina lainnya akan menggelar demo yang fokus untuk mendesak negara-negara di dunia agar mau memberikan sanksi, boikot, dan embargo ekonomi terhadap Israel. 

Andrews sendiri mengaku bahwa demo tersebut tidak semata-semata bisa langsung membuat negara-negara di dunia akan mematuhi desakan organisasinya. Kendati demikian, ia yakin langkah ini perlahan bisa mengubah kebijakan dunia terhadap Israel sehingga komunitas internasional mau menerapkan sanksi, boikot, dan embargo terhadap mereka. 

“Dalam hal perubahan kebijakan, kami mendorong kebijakan yang sesuai dengan hukum internasional dan pada dasarnya menjauhkan diri dari wacana rasis atau wacana apa pun terhadap Palestina yang kita lihat di berbagai konteks yang berbeda. Jadi, bukan berarti kami berharap mobilisasi ini tiba-tiba akan mengarah pada embargo senjata terhadap Israel atau peningkatan langkah-langkah BDS, tetapi kami ingin berkontribusi pada berbagai upaya yang terjadi dalam gerakan solidaritas untuk mencoba mendorong hal-hal tersebut terjadi,” jelas Andrews kepada The New Arab.  

3. Agresi Israel di Palestina masih berlangsung hingga saat ini

Sebuah bangunan di Jalur Gaza hancur akibat serangan Israel. (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)

Hingga saat ini, agresi militer Israel di Palestina masih berlangsung. Padahal, Israel dan Hamas sudah menyepakati gencatan senjata pada Oktober 2025 lalu. Itu berarti, selama setahun ini, Tel Aviv sudah melanggar kesepakatan tersebut. 

Serangan terakhir Israel ke Palestina terjadi pada Minggu. Menurut keterangan Pasukan Pertahanan Sipil Gaza, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) ketika itu menyerang Kota Az-Zawayda di pusat Gaza hingga menewaskan 3 warga Palestina, termasuk 1 anak berusia empat tahun bernama Muhammad Abdel Salam Taha. “Kedua martir tersebut serta beberapa korban luka sudah dibawa ke Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Deir el-Balah,” kata seorang anggota Pasukan Pertahanan Sipil Gaza anonim dilansir Al Jazeera

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article