Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Taiwan Usir 16 Kapal China, Tuding Taktik Perang Hibrida
Bendera Taiwan (unsplash.com/xandreasw)
  • Badan Penjaga Pantai Taiwan mengusir 16 kapal China, termasuk kapal patroli, riset, dan nelayan, yang beroperasi serentak dekat Taiwan hingga Kepulauan Pratas pada 18 Oktober 2026.
  • Taiwan menilai manuver tersebut sebagai upaya terencana mengikis kedaulatan laut dan mengubah situasi Selat Taiwan; kapal patroli membayangi konvoi hingga keluar dari perairan teritorial.
  • Ketegangan meningkat setelah insiden meriam air di Pratas awal Oktober, sementara jumlah kapal nonmiliter China di sekitar Taiwan melonjak dari 30 pada Mei menjadi 244 pada Juli.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Badan Penjaga Pantai Taiwan (CGA) mengusir 16 kapal asal China yang berlayar di dekat wilayah perairan teritorialnya pada Minggu (18/10/2026). Armada tersebut diketahui terdiri atas kapal patroli pantai, kapal riset ilmiah, serta beberapa perahu nelayan.

Pergerakan kapal-kapal tersebut terpantau berlangsung serentak di sekeliling pulau utama Taiwan hingga ke kawasan Kepulauan Pratas di bagian barat daya. Merespons situasi tersebut, otoritas keamanan maritim Taiwan langsung menggelar operasi pencegatan cepat untuk menjaga batas wilayah perairan mereka.

1. Pencegatan belasan kapal China di zona terlarang

Kapal China Coast Guard (CCG) 5402 kembali mencoba masuk ke Laut Natuna Utara. (Dokumentasi Bakamla)

Formasi gabungan kapal China berlayar secara bersamaan di perairan timur, selatan, dan barat daya Taiwan hingga ke kawasan Kepulauan Pratas. Dari seluruh armada yang terdeteksi, empat di antaranya merupakan kapal penangkap ikan, sedangkan sisanya terdiri dari kapal patroli dan kapal riset yang sebagian sempat menerobos area terlarang.

Otoritas Taiwan memandang manuver ini sebagai langkah terencana untuk mengikis batas kedaulatan wilayah laut mereka. Kapal patroli Taiwan segera bergerak mendekat dan membayangi konvoi tersebut hingga seluruh kapal berhasil dihalau keluar dari area teritorial.

"China berupaya mengubah situasi di Selat Taiwan secara sepihak dan menciptakan kesan keliru mengenai kepemilikan wilayah," kata Badan Penjaga Pantai Taiwan dalam pernyataan resminya, dilansir The Hindu.

2. Buntut insiden semprotan meriam air di Kepulauan Pratas

Kapal perang China melintasi jalur kapal perusak AL AS USS Chung-Hoon saat transit di Selat Taiwan dengan fregat AL Kanada HMCS Montreal. (ANTARA/Global News via REUTERS)

Peningkatan pergerakan armada China ini terjadi menyusul ketegangan yang sempat pecah di kawasan Kepulauan Pratas pada awal Oktober. Pada 1 Oktober lalu, kapal penjaga pantai Taiwan melepaskan semprotan meriam air ke arah kapal nelayan China yang kedapatan menangkap ikan tanpa izin di zona terlarang.

Wilayah Pratas sendiri merupakan atol strategis di utara Laut China Selatan yang difungsikan sebagai pangkalan militer sekaligus taman nasional tanpa penduduk sipil permanen. Tindakan pencegatan tegas tersebut memicu reaksi keras dari Beijing yang mengeklaim kepemilikan penuh atas kepulauan itu.

"Tindakan kasar Taiwan terhadap kapal dari daratan sengaja memicu perselisihan, dan mereka harus menanggung risikonya," kata Juru Bicara Kantor Urusan Taiwan di Beijing, Chen Binhua.

Di sisi lain, pemerintah Taiwan menegaskan bahwa patroli di kawasan Pratas merupakan operasi penegakan hukum rutin demi menjaga kelestarian ekosistem laut serta melindungi batas wilayah terluar.

3. Lonjakan jumlah kapal nonmiliter China di perairan Taiwan

Kapal militer Taiwan. (Twitter.com/MoNDefense)

Pengerahan kapal penjaga pantai dan armada sipil dinilai memperlihatkan perubahan pola pendekatan China di sekitar Taiwan tanpa memicu kontak militer secara langsung. Pihak Beijing tercatat mulai rutin menggelar patroli mandiri di wilayah perairan timur Taiwan sejak Juni lalu.

Jumlah kapal nonmiliter China yang melintas juga meningkat cukup tajam, dari 30 kapal pada Mei dan 55 kapal pada Juni, menjadi 244 kapal pada Juli, serta 152 kapal dalam tiga pekan pertama Agustus. Kehadiran kapal dinas serta kapal riset ini terus dipantau secara ketat karena beroperasi melengkapi patroli rutin kapal perang angkatan laut China.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article