Jakarta, IDN Times - Mantan Menteri Luar Negeri RI Hassan Wirajuda menilai Indonesia belum perlu mengambil peran sebagai mediator dalam proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang saat ini masih berlangsung. Menurutnya, Indonesia sebaiknya mengikuti perkembangan perundingan tersebut secara saksama untuk melihat dampaknya terhadap kawasan dan dunia, termasuk terhadap pasokan energi.
Pernyataan itu disampaikan Hassan ketika dimintai tanggapan mengenai kemungkinan Indonesia ikut turun tangan dalam proses negosiasi yang saat ini dimediasi Pakistan dan Qatar. Kedua negara tersebut sebelumnya memfasilitasi tercapainya nota kesepahaman (MoU) antara Washington dan Teheran.
MoU yang diteken pekan lalu itu menjadi dasar bagi kedua negara untuk melanjutkan pembicaraan selama 60 hari ke depan. Negosiasi lanjutan saat ini berlangsung di Swiss dengan membahas rincian teknis dari sejumlah poin yang telah disepakati. Kesepakatan tersebut antara lain memuat penghentian konflik, pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran secara bertahap, hingga komitmen Iran untuk tidak memiliki senjata nuklir.
Di tengah proses tersebut, Hassan mengingatkan bahwa masih terdapat berbagai faktor yang dapat memengaruhi jalannya perundingan, termasuk konflik antara Israel dan Hizbullah yang berpotensi memicu ketegangan baru.
