Hassan Wirajudha: Negosiasi AS-Iran Penuh Dinamika, Bakal Ngagetin!

- Hassan Wirajuda menegaskan MoU AS-Iran baru mencakup prinsip umum dan masih butuh negosiasi lanjutan 60 hari di Swiss untuk merinci kesepakatan akhir.
- Ia menilai proses negosiasi penuh dinamika dan bisa terganggu faktor eksternal seperti Israel serta Hizbullah, sehingga hasil akhirnya belum bisa dipastikan.
- Isi MoU mencakup penghentian ancaman militer, kerja sama ekonomi termasuk pembukaan Selat Hormuz, komitmen non-nuklir Iran, serta peluang pencabutan sanksi ekonomi.
Jakarta, IDN Times - Mantan Menteri Luar Negeri RI Hassan Wirajuda menilai, nota kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran yang diteken pekan lalu masih merupakan kesepakatan awal yang membutuhkan perundingan lanjutan dalam 60 hari ke depan.
Menurut Hassan, isi yang disepakati saat ini masih berupa prinsip-prinsip umum. Detail pelaksanaannya masih harus dielaborasi dalam negosiasi yang kini berlangsung di Swiss.
Ia mengatakan, proses perundingan semacam itu tidak selalu berjalan mulus, terlebih karena terdapat pihak lain di luar dua negara yang ikut memengaruhi dinamika situasi, seperti Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon.
Karena itu, Hassan menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa peluang tercapainya kesepakatan akhir akan berjalan dengan mudah, meski ruang untuk penyelesaian damai tetap terbuka.
1. Negosiasi masih panjang, faktor Israel dan Hizbullah bisa mengganggu

Hassan mengatakan, dokumen yang ditandatangani pekan lalu belum merupakan kesepakatan akhir antara Washington dan Teheran.
“Yang ditandatangani dari minggu yang lalu itu baru sebuah MoU yang merangkum prinsip-prinsip pokok. Yang akan dibuat detailnya, dielaborate dalam perundingan yang sedang terjadi di Switzerland (Swiss) sekarang ini,” kata Hassan.
Menurut dia, proses perundingan semacam ini lazimnya menghadapi berbagai tantangan dan tidak selalu berjalan mulus.
“Biasanya dalam proses itu tidak selalu mulus, apalagi ini melibatkan sebuah akibat dari perundingan ini melibatkan pihak-pihak di luar yang ikut berunding,” ujarnya usai Jakarta Forum 2026, Senin (22/6/2026).
Hassan mencontohkan Israel dan Hizbullah sebagai pihak yang berpotensi menjadi faktor negatif dalam proses tersebut.
“Satu contoh adalah Israel, yang kedua Hizbullah. Karena itu bisa menjadi faktor yang negatif. Misalnya ketika Israel menyerang lagi Hizbullah di Beirut dan di Lebanon Selatan, dia akan membuat salah satu pihak dari dua pihak, yaitu Iran, akan merasa itu pelanggaran terhadap komitmen,” katanya.
Meski demikian, Hassan menilai hambatan tersebut masih dapat diatasi melalui mekanisme yang telah disepakati kedua pihak. “Menurut saya hal-hal begini bisa diatasi,” ujarnya.
2. Jangan terlalu cepat menyimpulkan peluang damai

Saat ditanya mengenai peluang negosiasi berakhir dengan kesepakatan permanen, Hassan enggan menyebut peluangnya bagus. “Saya tidak bilang bagus,” kata dia.
Hassan mengatakan, dinamika yang muncul belakangan justru menunjukkan bahwa proses negosiasi masih rentan terhadap berbagai perkembangan politik.
“Tapi bahwa faktanya ada komentar Presiden Trump yang kesannya bisa mengganggu, atau juga dari pihak Iran,” ujarnya.
Ia menilai pernyataan para pejabat dari kedua negara menunjukkan adanya dinamika yang terus berubah. “Pagi ini saya lihat Wakil Presiden JD Vance yang suaranya lebih positif. Jadi itu dinamika dari proses perundingan,” kata Hassan.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan negosiasi masih dapat berubah sewaktu-waktu. “Jadi akan gampang ngagetin,” ujarnya.
3. Isi MoU AS-Iran: dari Selat Hormuz hingga nuklir

Berdasarkan isi nota kesepahaman yang telah diumumkan, AS dan Iran sepakat mengakhiri operasi militer baru serta menghentikan ancaman satu sama lain. Kedua negara juga berkomitmen menjaga kedaulatan Lebanon dan mendorong penghentian konflik secara permanen.
Kesepakatan itu juga mengatur proses negosiasi lanjutan selama 60 hari yang dapat diperpanjang berdasarkan persetujuan kedua pihak.
Dalam bidang ekonomi, AS berkomitmen menghentikan blokade terhadap pelabuhan Iran dan membuka jalan bagi pemulihan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Iran juga diminta menjamin jalur pelayaran komersial di selat strategis tersebut tetap terbuka dan bebas biaya.
Selain itu, AS dan mitra regionalnya akan menyusun rencana pembangunan ekonomi Iran senilai sedikitnya 300 miliar dolar AS, meski Washington menegaskan tidak akan memberikan dana secara langsung kepada Teheran.
Dalam isu nuklir, Iran sepakat untuk tidak memperoleh atau membeli senjata nuklir. Pengelolaan uranium Iran akan dibahas lebih lanjut, dengan pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Kesepakatan itu juga membuka peluang pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran serta pengembalian aset-aset Iran yang selama ini dibekukan AS. Kedua negara akan membentuk mekanisme pemantauan implementasi kesepakatan dan melanjutkan perundingan menuju perjanjian final yang nantinya akan diperkuat melalui resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
















