Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Trump Sebut Negosiasi AS-Iran Bisa Berlanjut di Pakistan dalam 2 Hari Ini
Pada 19 Maret 2016, Donald Trump mengadakan rapat umum di Fountain Park, Fountain Hills, Arizona. (Gage Skidmore, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)
  • Donald Trump menyebut negosiasi damai AS-Iran bisa berlanjut di Islamabad dalam dua hari, dengan Pakistan berperan penting sebagai mediator melalui Kepala Angkatan Darat Asim Munir.
  • AS menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium selama 20 tahun dan memindahkan stoknya ke luar negeri, sementara Iran hanya menawarkan jeda singkat dan menolak tuntutan tinggi Washington.
  • Blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran di Teluk meningkatkan ketegangan di Selat Hormuz, memicu lonjakan harga minyak global meski gencatan senjata dua minggu masih berlangsung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut peluang kelanjutan dialog damai antara AS dan Iran dalam waktu dekat di Islamabad, Pakistan. Ia juga menyoroti peran kepala angkatan darat Pakistan yang dinilai membantu mempertemukan kedua pihak.

Pernyataan tersebut ia sampaikan pada Selasa (14/4/2026), saat berbicara dengan reporter New York Post yang meliput putaran awal pembicaraan gencatan senjata di Islamabad pada akhir pekan. Trump kemudian kembali menghubungi jurnalis tersebut untuk menyampaikan perkembangan terbaru.

“Anda harus tetap di sana, sungguh, karena sesuatu bisa terjadi dalam dua hari mendatang, dan kami lebih cenderung pergi ke sana,” kata Trump, dikutip NBC News.

1. Pakistan susun ulang jadwal pertemuan

Bendera Pakistan (pexels.com/Talha Riaz)

Field Marshal Asim Munir yang memimpin angkatan darat Pakistan disebut berperan penting dalam proses mediasi ini. Ia memiliki kedekatan dengan Trump sekaligus menjalin komunikasi dengan Pengawal Revolusi Iran.

Seorang pejabat Pakistan pada Selasa (14/4/2026) menyampaikan bahwa pembicaraan diperkirakan akan segera dilanjutkan, meski waktunya bisa mundur satu hingga dua hari dari perkiraan awal.

“Permainan sedang berlangsung,” ujar pejabat tersebut.

Otoritas Pakistan kini tengah menata ulang jadwal pertemuan berikutnya. Langkah ini dimaksudkan agar tersedia waktu yang cukup sebelum masa gencatan senjata dua minggu berakhir pada 22 April 2026.

Dua sumber yang mengikuti proses negosiasi mengatakan kepada NBC News bahwa pertemuan tatap muka berikutnya antara AS dan Iran dapat berlangsung paling cepat dalam pekan ini.

2. AS dan Iran berbeda sikap soal uranium

ilustrasi tambang (pexels.com/Vlad Chețan)

Dalam perundingan di Islamabad, AS meminta Iran menghentikan pengayaan uranium selama 20 tahun. Iran hanya menawarkan jeda tiga hingga lima tahun, yang dinilai Trump tak dapat diterima.

Selain itu, AS menuntut agar seluruh uranium dengan tingkat pengayaan tinggi dipindahkan ke luar wilayah Iran. Iran justru mengusulkan metode pencampuran yang diawasi untuk menurunkan kadar bahaya material tersebut.

Wakil Presiden AS JD Vance menyampaikan kepada Fox News bahwa Iran menunjukkan sedikit kelonggaran dalam negosiasi, tetapi belum memenuhi harapan. Ia juga menekankan bahwa material yang diperkaya harus dipindahkan keluar dari Iran serta diperlukan komitmen jelas dari Teheran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, sekaligus menyebut peluang tercapainya kesepakatan besar tetap terbuka dan keputusan kelanjutan pembicaraan berada di pihak Iran.

Pertemuan itu berakhir saat Vance meninggalkan ruang perundingan. Ia menilai Iran belum memberikan jaminan tegas terkait komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

Seorang pejabat Iran menyebut tuntutan AS terlalu tinggi.

“Iran tidak menyerah di medan perang dan juga tidak akan menyerah di belakang meja,” katanya, The Guardian.

3. Ketegangan Selat Hormuz pengaruhi dinamika konflik

Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Perkembangan terkait stok uranium Iran masih belum menunjukkan kejelasan. Material tersebut mendekati tingkat kemurnian senjata dan diperkirakan tersimpan di lokasi bawah tanah di wilayah tengah negara itu.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memperkirakan Iran memiliki hampir seribu pon uranium dengan tingkat pengayaan tinggi. Jumlah itu dinilai cukup untuk sekitar sebelas senjata nuklir.

Iran menegaskan program nuklirnya bertujuan damai dan membantah rencana pengembangan senjata nuklir. Pemerintah di Tehran juga menyebut uranium tersebut tetap berada di bawah tanah setelah serangan udara AS terhadap fasilitas pengayaan pada tahun sebelumnya.

Seorang pejabat Pakistan mengungkapkan Iran meminta agar JD Vance memimpin langsung delegasi AS dalam pembicaraan berikutnya. Iran disebut tidak menaruh kepercayaan pada utusan khusus Trump, Steve Witkoff, maupun Jared Kushner sebagai mitra negosiasi.

4. Blokade laut AS picu dampak ekonomi global

Kapal USS Frank E. Peterson (Commander Naval Sea Systems Command/Huntington Ingalls Industries, Public domain, via Wikimedia Commons)

Setelah perundingan tidak mencapai hasil, Trump mengumumkan blokade angkatan laut AS terhadap kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran di kawasan Teluk. Kebijakan ini diambil setelah Iran hampir sepenuhnya menutup Selat Hormuz bagi kapal yang menggunakan pelabuhan lain di kawasan tersebut.

Komando Pusat Amerika Serikat (USCENTCOM) melaporkan tidak ada kapal yang berhasil melintasi blokade dalam 24 jam terakhir. Enam kapal dagang mengikuti instruksi pasukan AS untuk berbalik dan kembali ke pelabuhan Iran di Teluk Oman.

Laporan independen mencatat sejumlah kapal tanker yang mendekati selat sempat berbalik arah. Kapal tanker Rich Starry bahkan sempat mengubah arah dua kali sebelum akhirnya melintasi jalur tersebut.

Penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia sempat mendorong harga minyak melampaui 100 dolar AS (setara Rp1,7 juta) per barel. Harga kemudian turun ke kisaran 95 dolar AS (setara Rp1,628 juta) setelah muncul kabar kemungkinan pembicaraan lanjutan.

Militer Iran mengecam blokade tersebut sebagai tindakan pembajakan. Mereka juga memperingatkan kemungkinan serangan balasan terhadap pelabuhan di kawasan Teluk jika fasilitas Iran diserang.

Di tengah ketegangan yang masih berlangsung di Selat Hormuz, gencatan senjata dua minggu dalam konflik yang lebih luas tetap berjalan hingga saat ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team