Kapal USS Frank E. Peterson (Commander Naval Sea Systems Command/Huntington Ingalls Industries, Public domain, via Wikimedia Commons)
Setelah perundingan tidak mencapai hasil, Trump mengumumkan blokade angkatan laut AS terhadap kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran di kawasan Teluk. Kebijakan ini diambil setelah Iran hampir sepenuhnya menutup Selat Hormuz bagi kapal yang menggunakan pelabuhan lain di kawasan tersebut.
Komando Pusat Amerika Serikat (USCENTCOM) melaporkan tidak ada kapal yang berhasil melintasi blokade dalam 24 jam terakhir. Enam kapal dagang mengikuti instruksi pasukan AS untuk berbalik dan kembali ke pelabuhan Iran di Teluk Oman.
Laporan independen mencatat sejumlah kapal tanker yang mendekati selat sempat berbalik arah. Kapal tanker Rich Starry bahkan sempat mengubah arah dua kali sebelum akhirnya melintasi jalur tersebut.
Penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia sempat mendorong harga minyak melampaui 100 dolar AS (setara Rp1,7 juta) per barel. Harga kemudian turun ke kisaran 95 dolar AS (setara Rp1,628 juta) setelah muncul kabar kemungkinan pembicaraan lanjutan.
Militer Iran mengecam blokade tersebut sebagai tindakan pembajakan. Mereka juga memperingatkan kemungkinan serangan balasan terhadap pelabuhan di kawasan Teluk jika fasilitas Iran diserang.
Di tengah ketegangan yang masih berlangsung di Selat Hormuz, gencatan senjata dua minggu dalam konflik yang lebih luas tetap berjalan hingga saat ini.