Ditekan AS, Presiden Kuba Umumkan Paket Reformasi Ekonomi Baru

- Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengumumkan paket reformasi ekonomi baru yang menekankan desentralisasi dan liberalisasi di tengah tekanan berat dari Amerika Serikat.
- Reformasi ini membuka peluang bagi investor asing dan bisnis swasta, terutama di sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi Kuba.
- Pemerintah Kuba menuduh AS sengaja mengepung negaranya melalui sanksi terhadap perusahaan minyak nasional, memperburuk krisis energi yang sedang berlangsung.
Jakarta, IDN Times - Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel mengumumkan paket reformasi ekonomi di negaranya. Langkah ini termasuk perubahan karakter desentralisasi dan liberalisasi ekonomi.
“Detail reformasi ekonomi ini masih dibahas, kebijakan yang didiskusikan mengenai perubahan manajemen ekonomi sejak Kuba membuka diri untuk perusahaan swasta beberapa tahun lalu,” terangnya, dikutip dari The Latin Times, Sabtu (13/6/2026).
Kebijakan ini berada di tengah tekanan hebat dari Amerika Serikat (AS). Beberapa bulan terakhir, AS sudah memblokade minyak di Kuba yang menyebabkan krisis energi akut.
1. Kuba membuka diri untuk investor asing

Berdasarkan keterangan dari pemerintah setempat, kebijakan itu bukan untuk liberalisasi politik, tapi lebih kepada desentralisasi ekonomi. Dengan ini, perusahaan milik negara dan pemerintah daerah dapat lebih bebas untuk menentukan pembangunan ekonomi dan investasi.
Sementara itu, bagi masyarakat Kuba pada umumnya, reformasi ini akan memberikan kebebasan untuk menarik investor asing dan mendirikan bisnis swasta. Selain itu, akan ada dorongn untuk kerja sama antara institusi negara dan sektor swasta.
2. Dorong masuknya investor pariwisata asing ke Kuba

Reformasi ekonomi Kuba ini berfungsi untuk mendorong masuknya investor asing di sektor pariwisata. Sebab, pariwisata menjadi tulang punggung dan lokomotif ekonomi di negara Karibia tersebut.
Dilansir EFE, beberapa operator hotel asing sudah hengkang dari Kuba imbas sanksi dari AS. Alhasil, operasional hotel dialihkan ke Gaviota, perusahaan yang berada di bawah naungan konglomerasi militer Kuba, Gaesa.
Hingga kini, perusahaan milik negara itu sudah memiliki lebih dari 84 ribu kamar hotel. Selain itu, mereka juga memiliki sejumlah perusahaan operator penyewaan properti di Kuba.
3. Kuba sebut AS sengaja mengepung negaranya

Sehari sebelumnya, Menteri Luar Negeri (Menlu) Kuba, Bruno Rodriguez mengatakan bahwa AS sengaja mengepung negaranya. Pernyataan ini disampaikan setelah sanksi yang ditetapkan kepada perusahaan minyak negara, Union Cuba Petroleo (Cupet).
Menlu Kuba itu menyebut bahwa Menlu AS, Marco Rubio memiliki ambisi untuk berkuasa dan menjadi presiden serta memiliki perasaan yang penuh kebencian. Alhasil, ia berusaha untuk mengepung ekonomi dan energi Kuba.


















