Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Trump Sebut Selat Hormuz Wilayah AS dan Tegaskan Tak Ada Dialog Iran
potret Presiden Amerika Serikat Donald Trump (whitehouse.gov)
  • Donald Trump menyatakan tidak ada negosiasi dengan Iran, mempertahankan blokade laut, dan mengunggah peta yang mengklaim Selat Hormuz sebagai wilayah baru AS.
  • Iran menolak membuka Selat Hormuz sebelum AS mencabut blokade dan sanksi, mencairkan aset, membayar ganti rugi perang, serta menjamin penghentian perang total.
  • UEA menuduh Iran menembakkan dua rudal ke jalur pelayaran Teluk, tuduhan yang dibantah Teheran; ketegangan mengganggu kapal tanker dan mendorong kenaikan harga bahan bakar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung maupun dijadwalkan dengan pihak Iran pada Selasa (18/8/2026). Pernyataan keras ini disampaikan melalui unggahan di media sosial Truth Social, di mana ia juga membagikan peta yang mengklaim Selat Hormuz sebagai wilayah kekuasaan baru bagi AS. Langkah provokatif tersebut makin memperpanjang tensi panas perang kedua negara yang sudah berlangsung hampir enam bulan sejak akhir Februari lalu.

Kebuntuan diplomasi di perairan strategis itu memicu eskalasi baru di kawasan Teluk setelah Uni Emirat Arab (UEA) menuding Teheran menembakkan dua rudal balistik ke jalur pelayaran internasional. Pihak Iran menolak tuduhan tersebut, namun membalas gertakan Washington dengan menegaskan bahwa jalur vital distribusi minyak dunia itu tidak akan dibuka sampai AS mencabut seluruh sanksi serta blokade laut. Perselisihan sengit ini membuyarkan harapan publik internasional akan tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat.

1. Klaim peta wilayah baru AS dan bantahan negosiasi

Kapal militer AS di Selat Hormuz (Official U.S. Navy Page from United States, Public Domain, via Wikimedia Commons)

Pernyataan Donald Trump di platform media sosial miliknya langsung menyedot perhatian publik internasional. Ia memajang sebuah peta yang menandai jalur laut Selat Hormuz dengan label wilayah baru milik Amerika Serikat ("NEW U.S. Territory").

"Tidak ada pembicaraan atau percakapan yang sedang berlangsung, atau dijadwalkan, dengan Republik Islam Iran. Blokade Angkatan Laut tetap berlaku sepenuhnya," kata Trump melalui akun Truth Social miliknya. Ia juga menambahkan bahwa jalur Selat Hormuz saat ini berada dalam kondisi terbuka dan seluruh ranjau air telah berhasil dibersihkan oleh pasukan militer.

Sikap tegas sang presiden ini berbanding terbalik dengan keterangan yang sempat disampaikan oleh utusan khususnya, Jared Kushner. Sebelumnya, Kushner sempat mengutarakan bahwa ada komunikasi yang sangat aktif dan positif di balik layar antara pejabat Washington dan Teheran. Namun, Trump secara terbuka menepis laporan tersebut dan memastikan tidak ada agenda pertemuan resmi yang disiapkan dalam waktu dekat.

Dilansir Inquirer, sumber internal AS menyebut bahwa diplomasi memang sempat berjalan cukup konstruktif beberapa waktu lalu. Meski demikian, Trump memilih menghentikan sementara proses negosiasi tersebut hingga pihak Iran benar-benar siap berkompromi secara nyata. Keputusan ini mempertegas sikap keras sang presiden yang enggan terburu-buru menandatangani kesepakatan damai tanpa keuntungan strategis bagi negaranya.

2. Iran tuntut pemenuhan janji kesepakatan sela

Mohammad Bagher Ghlibaf, Ketua Parlemen Iran (Duma.gov.ru, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Dari pihak seberang, pemerintah Iran merespons gertakan Washington dengan sikap yang tidak kalah sengit. Negosiator utama sekaligus Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan pernah dibuka kembali secara bebas untuk pelayaran komersial sebelum janji AS dipenuhi.

"Saya ingin menyatakan dengan jelas bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka sampai komitmen Amerika yang tercantum dalam memorandum kesepahaman (MoU) diimplementasikan," tegas Ghalibaf dalam pidatonya yang disiarkan televisi pemerintah Iran.

Teheran menuntut syarat berat berupa penghentian blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, pencabutan sanksi ekspor minyak mentah, pencairan aset yang dibekukan, serta pembayaran ganti rugi atas kerusakan perang oleh pihak AS. Selain itu, pemerintah Iran juga mendesak AS agar segera mencairkan aset finansial mereka yang dibekukan di lembaga keuangan luar negeri. Menurut Ghalibaf, tanpa pemenuhan syarat dasar dari MoU Juni lalu tersebut, pembukaan jalur pelayaran vital ini mustahil terwujud.

Sebagaimana dilaporkan CBS News, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menyatakan bahwa pihaknya tidak tertarik dengan sekadar gencatan senjata sementara. Iran hanya menginginkan penghentian perang secara total yang dibarengi jaminan keamanan agar agresi serupa tidak terulang di masa depan. Keteguhan sikap Teheran ini membuat proses diplomasi yang dijembatani mediator kawasan terus menemui jalan buntu.

3. Eskalasi regional dan dampaknya bagi pasar global

Selat Hormuz (MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC, Public Domain, via Wikimedia Commons)

Ketegangan di lapangan makin memanas seiring tuduhan terbaru yang dilayangkan oleh Uni Emirat Arab terhadap militer Iran. Pihak UEA mengklaim telah mendeteksi dua rudal balistik yang diluncurkan dari wilayah Iran menuju perairan Teluk untuk mengganggu jalur navigasi kapal komersial. Merespons insiden tersebut, pemerintah UEA mengambil tindakan drastis dengan menghentikan seluruh transaksi perdagangan dan aktivitas keuangan dengan Iran.

Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei membantah keras tuduhan peluncuran rudal ke wilayah UEA tersebut dan menyebutnya tidak berdasar. Meskipun bantahan telah disampaikan, keputusasaan pelaku pasar komoditas makin meningkat akibat ketidakpastian keamanan di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan urat nadi energi global yang biasanya dilewati oleh seperlima dari total pasokan minyak mentah dunia setiap harinya.

Dampak dari terhambatnya arus lalu lintas kapal tanker ini sudah mulai memukul perekonomian global dan menaikkan harga bahan bakar secara drastis. Situasi ini pun memicu tekanan politik domestik bagi Trump menjelang pemilu sela AS yang krusial pada November mendatang. Gelombang keluhan dari konsumen AS yang menghadapi lonjakan inflasi menjadi ujian berat bagi janji kampanye sang presiden.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article