Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Trump Umumkan Hadiah Rp18 Miliar untuk Pelapor Kecurangan Pemilu AS
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (The White House from Washington, DC, public domain, via Wikimedia Commons)
  • Donald Trump menawarkan hadiah 1 juta dolar AS bagi pelapor kecurangan pemilih yang informasinya berujung pada penangkapan dan penghukuman, menjelang pemilu sela AS 2026.
  • Trump juga mengaitkan sejumlah janji politik dan langkah hukum dengan peluang Partai Republik, termasuk rencana pembayaran 5 ribu dolar AS kepada warga dewasa bila partainya menguasai Kongres.
  • Pasar prediksi Polymarket dan Kalshi memicu kekhawatiran misinformasi karena ekspektasi taruhan dapat disalahartikan sebagai hasil resmi; Maryland meminta penyelidikan legalitas taruhan pemilu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan hadiah sebesar 1 juta dolar AS (setara Rp18 miliar) untuk informasi yang berujung pada penghukuman kasus kecurangan pemilih. Pengumuman lewat Truth Social itu disampaikan menjelang pemilu sela yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa (03/11/2026).

“Siapa pun yang melaporkan Kecurangan Pemilih dalam Pemilu-pemilu sebelumnya, atau Pemilu Sela 2026 yang akan datang, akan dibayar 1 juta dolar AS setelah penangkapan dan penghukuman terhadap mereka yang menciptakan Kecurangan tersebut!” ujar Trump,” menurut laporan Malay Mail yang mengutip AFP.

Tawaran tersebut muncul di tengah keunggulan sementara Partai Demokrat, sementara berbagai kajian konsisten menunjukkan kecurangan pemilih sangat jarang terjadi terutama oleh non-warga negara.

1. Kaitannya dengan janji politik dan gugatan hukum

Pada 19 Maret 2016, Donald Trump mengadakan rapat umum di Fountain Park, Fountain Hills, Arizona. (Gage Skidmore, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

Trump sebelumnya juga menjanjikan pemberian 5 ribu dolar AS (setara Rp90,6 juta) kepada setiap warga dewasa jika Partai Republik mempertahankan kendali di kedua kamar Kongres, sebuah rencana senilai lebih dari 1 triliun dolar AS (setara Rp18.134 triliun) yang membutuhkan persetujuan legislatif.

Ia turut mengaitkan santunan bagi veteran sakit di North Carolina dengan kemenangan partainya, serta mengakui secara pribadi memerintahkan gugatan Departemen Kehakiman untuk mencegah pengesahan hasil Senat Alaska demi menghindari potensi kebingungan nama, meskipun jaksa agungnya membantah berusaha membatalkan hasil pemilu.

2. Pengaruh pasar prediksi terhadap perilaku publik

ilustrasi Amerika Serikat (pexels.com/Breet Sayles)

Pemilu sela kali ini menjadi yang pertama kalinya melibatkan pasar prediksi arus utama melalui pelantar Polymarket dan Kalshi yang memperjualbelikan kontrak hasil pemilu senilai ratusan juta dolar AS. Para ahli memperingatkan bahwa ekspektasi pasar keuangan berisiko membawa bobot lebih besar di benak publik daripada suara resmi itu sendiri.

“Pemilu bukanlah permainan. Kekhawatiran saya adalah kita telah mencapai titik di mana ekspektasi pasar keuangan membawa bobot lebih besar di benak publik daripada suara itu sendiri,” kata Davina Hurt selaku Direktur Etika Pemerintahan di Pusat Etika Terapan Markkula di Universitas Santa Clara, dikutip The Straits Times.

3. Risiko misinformasi dan langkah pengamanan pemilu

ilustrasi pemungutan suara (pexels.com/Edmond Dantès)

Contoh kebingungan publik telah terlihat pada pemilihan pendahuluan wali kota Los Angeles pada Juni, ketika peluang lokal yang sempat mengunggulkan Spencer Pratt sempat dipakai warganet sayap kanan sebagai bukti kecurangan. Michael Sanchez selaku juru bicara kantor pencatatan Los Angeles County menjelaskan bahwa kasus tersebut menegaskan betapa cepat ekspektasi hasil dapat tertukar dengan hasil sebenarnya.

Elisabeth Diana selaku Kepala Komunikasi Kalshi menjelaskan bahwa platformnya harus dilihat sebagai pelengkap jajak pendapat, sementara Rachel Moran selaku peneliti senior di Pusat Masyarakat Berinformasi Universitas Washington menilai ada lebih banyak alasan untuk memproduksi rumor karena adanya elemen keuangan yang terikat. Menanggapi situasi ini, Jared DeMarinis selaku Kepala Pemilu Maryland menyatakan telah meminta penyelidikan legalitas taruhan pemilu dan melarang petugas pemungutan suara memasang taruhan terkait pemilu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article