Trump Sebut Ada Kecurangan di Pilpres Brasil yang Menangkan Lula

- Donald Trump menuding ada kecurangan dalam pilpres Brasil putaran kedua yang dimenangi Luiz Inacio Lula da Silva, tetapi menyatakan AS tidak akan mengambil tindakan.
- Lula menang dengan 52 persen suara, mengungguli Flavio Bolsonaro yang meraih 48 persen, setelah sebelumnya kalah pada putaran pertama.
- Pemimpin Uruguay, Meksiko, dan sejumlah negara Amerika Latin mengucapkan selamat kepada Lula, sementara Presiden Argentina Javier Milei belum menyampaikan ucapan.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengatakan bahwa terdapat kecurangan dalam pemilihan presiden (pilpres) di Brasil pada Senin (26/10/2026). Pernyataan ini menanggapi kemenangan calon presiden (capres) petahana, Luiz Inacio Lula da Silva.
Meski tidak menyatakan dukungannya secara langsung, Trump dikenal memiliki kedekatan dengan mantan Presiden Brasil Jair Bolsonaro dan anaknya Flavio Bolsonaro. Presiden AS itu juga sudah menetapkan sejumlah sanksi dan tekanan ke Brasil menjelang pilpres.
1. Sebut kecurangan terlihat dalam pilpres Brasil

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (Gage Skidmore from Peoria, AZ, United States of America, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons) Trump berdalih bahwa terjadi kecurangan dalam pilpres Brasil putaran kedua. Ia menilai pilpres Brasil terlihat buruk dan korup baginya, meskipun ia mengaku tidak memihak siapapun di pilpres Brasil.
“Saya tidak memihak siapapun, tapi sepertinya terdapat kecurangan dalam pilpres ini. Maka dari itu, pemilihan umum (pemilu) ini nampak buruk bagi dunia. Pemilu seharusnya tidak dapat dipermasalahkan dan ini sangat buruk bagi saya,” katanya, dikutip dari Le Monde.
Ketika ditanya soal langkah AS selanjutnya, Trump mengaku tidak akan melakukan apapun. Ia menekankan bahwa dirinya hanya memerintah di AS bukan di Brasil. Trump juga mengaku mengenal Lula dengan baik.
2. Pengaruh Trump tidak berdampak kepada Lula

Presiden Brasil, Lula da Silva. (REPÚBLICA DE COLOMBIA, Public domain, via Wikimedia Commons) Kemenangan Lula ini menunjukkan kegagalan Trump dalam menyebarkan pengaruh di Amerika Latin. Presiden sayap kanan AS itu terus mendorong dan mendukung capres sayap kanan di Amerika Latin untuk memenangkan pemilu dan beraliansi dengannya.
Dilansir EFE, Lula dinyatakan menang dalam pilpres setelah unggul di 52 persen suara dari Flavio yang memperoleh 48 persen pada pilpres putaran kedua ini. Padahal, Lula sebelumnya mengalami kekalahan dari Flavio pada putaran pertama pilpres.
3. Pemimpin di Amerika Latin ucapkan selamat atas kemenangan Lula

ilustrasi bendera Brasil (pexels.com/rodrigo-menezes) Menyusul kemenangan Lula, sejumlah pemimpin di Amerika Latin sudah mengucapkan selamat. Presiden Uruguay, Yamandu Orsi menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat atas kemenangan Lula di pilpres Brasil dan disusul oleh Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum.
Dilansir Mercopress, sejumlah pemimpin sayap kanan di Amerika Latin, seperti Presiden Paraguay, Santiago Pena, Presiden Bolivia, Rodrigo Paz, Presiden Chile, Jose Antonio Kast, Presiden Peru, Keiko Fujimori, Presiden Panama, José Raúl Mulino, dan Presiden Ekuador, Daniel Noboa turut mengucapkan selamat. Meski berbeda pandangan, ucapan ini menunjukkan pentingnya Brasil, sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Amerika Latin dan salah satu terbesar di dunia.
Namun, Presiden Argentina, Javier Milei yang secara terang-terangan mendukung Flavio masih belum memberikan ucapan selamat kepada Lula. Sebelumnya, ia bahkan menuding Lula berencana mencuri pemilu di Brasil.





















