Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan sekaligus Asisten Menteri Imigrasi Australia, Matt Thistlethwaite, berbicara dalam diskusi bertajuk The Jakarta Treaty: A New Chapter in the Australia-Indonesia Partnership di JS Luwansa Hotel, Jakarta Selatan, Selasa (14/7/2026). (IDN Times/Zahira Hilman)
Matt pun menjelaskan pemerintah Australia menetapkan jumlah visa yang direncanakan pada setiap kategori setiap tahunnya. Kategori itu mencakup visa pasangan, visa pelajar, dan visa pekerja terampil.
Menurut Matt, penetapan jumlah visa tersebut dilakukan karena terdapat biaya yang harus ditanggung ketika seseorang datang untuk belajar, bekerja sementara, maupun menetap secara permanen di Australia, termasuk ketika mereka mendapatkan akses terhadap layanan kesehatan.
“Anak-anak mereka akan mendapatkan akses ke sistem pendidikan kami. Mereka dapat menggunakan transportasi publik, infrastruktur, mendapatkan akses terhadap perumahan, dan ada biaya terkait hal tersebut yang harus kami tanggung dalam anggaran,” jelas Matt.
“Ini murni karena jumlah permohonan untuk jumlah visa yang terbatas tersebut telah meningkat,” tegas Matt.
Matt juga mengakui waktu tunggu dan proses pengambilan keputusan visa memang mengalami peningkatan. Menurut dia, pemerintah Australia telah mengumumkan pendanaan tambahan untuk mengurangi waktu tunggu tersebut.
“Kami menyadari waktu tunggu dan proses pengambilan keputusan telah meningkat. Pemerintah kami dalam anggaran terakhir telah mengumumkan pendanaan tambahan untuk mencoba mengurangi waktu yang harus Anda tunggu untuk mendapatkan keputusan visa,” ujar Matt.
“Jadi, mudah-mudahan seiring waktu, situasinya akan mulai membaik,” lanjut dia.