Gelombang Panas Eropa Sebabkan 10 Ribu Kasus Kematian Berlebih

- Gelombang panas ekstrem di Eropa akhir Juni menewaskan lebih dari 10 ribu orang, mayoritas lansia berusia di atas 65 tahun, dengan Prancis dan Belgia mencatat kematian tertinggi.
- Suhu tinggi memicu lonjakan insiden tenggelam, terutama di Jerman dan Prancis, dengan korban didominasi pria muda yang mencari kesegaran di perairan saat cuaca ekstrem.
- Panas ekstrem menyebabkan kebakaran hutan besar di Prancis dan Spanyol serta melumpuhkan fasilitas publik seperti pembangkit listrik dan museum demi menjaga keselamatan warga.
Jakarta, IDN Times - Cuaca panas ekstrem yang melanda Eropa pada akhir Juni telah menewaskan lebih dari 10 ribu orang. Mayoritas korban tewas merupakan lansia berusia 65 tahun ke atas.
Fenomena ini memicu lonjakan angka kematian yang tidak wajar di berbagai negara Eropa. Gelombang panas juga memicu serangkaian insiden tenggelam dan kebakaran hutan yang parah.
1. Rincian angka kematian akibat gelombang panas di Eropa

Data resmi dari jaringan EuroMOMO mencatat ada 10.650 kematian berlebih di Eropa. Angka ini tercatat selama sepekan sejak tanggal 22 hingga 28 Juni lalu. Gelombang panas dilaporkan memuncak di beberapa negara seperti Prancis, Spanyol, dan Inggris.
Dari total tersebut, lebih dari 9 ribu jiwa di antaranya merupakan warga berusia 65 tahun ke atas. Lansia dinilai sebagai kelompok paling rentan terhadap sengatan panas ekstrem. Suhu tinggi dapat memicu serangan panas dan memperburuk penyakit pernapasan.
Prancis dan Belgia tercatat sebagai negara yang mengalami tingkat kematian berlebih sangat tinggi pada akhir Juni. Belgia bahkan mencatat angka kematian tertinggi akibat gelombang panas sejak pencatatan dimulai pada 2000.
Pada waktu yang sama, Inggris dan Wales juga mencatatkan 2.700 kematian terkait panas sepanjang Mei dan Juni. Sementara itu, Jerman telah melaporkan lebih dari 5.120 kematian akibat panas pada tahun ini. Mayoritas korban tewas di Jerman adalah warga yang berusia 75 tahun ke atas.
"Memiliki angka kematian berlebih seperti ini pada saat ini adalah hal yang tidak biasa, ini benar-benar tinggi," ujar Kepala Dokter Statens Serum Institut Lasse Vestergaard, dilansir The Straits Times pada Minggu (12/7/2026).
2. Cuaca panas meningkatkan angka insiden tenggelam

Suhu ekstrem juga mendorong masyarakat Eropa mencari kesegaran di perairan yang berujung pada insiden mematikan. Jerman mencatat 99 insiden tenggelam sepanjang bulan Juni. Angka tersebut menjadi rekor korban tewas tenggelam bulanan tertinggi di Jerman dalam lebih dari dua dekade terakhir. Suhu di beberapa wilayah Jerman bahkan melonjak tajam hingga 41,7 derajat Celsius.
Lebih dari 90 persen korban jiwa dari insiden tenggelam ini berasal dari kelompok pria. Mayoritas korban merupakan anak muda, dengan 40 orang di antaranya berusia di bawah 30 tahun. Fenomena serupa juga memakan banyak korban jiwa di negara tetangganya, Prancis. Menteri Olahraga Prancis, Marina Ferrari, mencatat 131 warganya tewas tenggelam sejak 19 Juni.
"Gelombang panas adalah jenis cuaca ekstrem yang paling berbahaya," tutur Clair Barnes, peneliti cuaca ekstrem di Imperial College London, melansir The Straits Times.
3. Kebakaran hutan dan lumpuhnya fasilitas publik akibat panas ekstrem

Panas ekstrem memicu kebakaran seluas 800 hektare di hutan Fontainebleau, dekat Paris. Ratusan petugas pemadam kebakaran dan pesawat khusus dikerahkan untuk mengatasi bencana tersebut. Kebakaran ini memaksa aparat untuk menutup sebagian jalan raya A6 dan mengacaukan jadwal kereta cepat. Sekitar 15 rumah di desa sekitar juga terpaksa dikosongkan untuk mengevakuasi warga.
Spanyol turut dilanda bencana serupa setelah kebakaran hutan di wilayah Almeria menewaskan 12 orang. Ribuan warga lokal harus mengungsi demi menghindari ancaman api.
Gelombang panas juga melumpuhkan aktivitas dan operasional fasilitas publik di benua Eropa. Tiga pembangkit listrik tenaga nuklir di Prancis terpaksa dihentikan operasinya akibat cuaca ini. Menara Eiffel serta dua museum populer, Louvre dan Musee d'Orsay, bahkan harus ditutup lebih awal. Langkah ini diambil demi melindungi para pengunjung dari paparan suhu udara berbahaya.





















