Australia Investasi 33 Juta Dolar, Dorong Keahlian Bahasa Indonesia

- Pemerintah Australia menginvestasikan lebih dari AUD33 juta untuk memperkuat hubungan dengan Indonesia, termasuk peningkatan kemampuan bahasa Indonesia dan pemahaman tentang Indonesia di kalangan warga Australia.
- Pendanaan tersebut juga mendukung implementasi Jakarta Treaty yang menekankan kerja sama keamanan dan ketahanan ekonomi bersama antara Australia dan Indonesia di tengah tantangan geostrategis kawasan.
- Dewi Fortuna Anwar menyoroti penurunan pengetahuan masyarakat Australia tentang Indonesia, sementara pemerintah Australia berupaya memperluas wawasan publik melalui pendidikan, pariwisata, serta kegiatan budaya lintas negara.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Australia menginvestasikan lebih dari 33 juta dolar Australia (AUD) untuk memperkuat hubungan dengan Indonesia. Pendanaan tersebut salah satunya digunakan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia dan keahlian mengenai Indonesia di Australia.
Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan sekaligus Asisten Menteri Imigrasi Australia, Matt Thistlethwaite, mengatakan pendanaan tersebut menjadi bagian dari upaya Australia dalam memperkuat hubungan kedua negara, setelah penandatanganan Australia-Indonesia Treaty on Common Security atau Jakarta Treaty oleh Perdana Menteri Australia Anthony Albanese dan Presiden Prabowo Subianto pada Februari 2026.
“Pemerintah kami menginvestasikan 33 juta dolar untuk mengimplementasikan perjanjian tersebut, termasuk langkah-langkah untuk mendukung keamanan dan ketahanan ekonomi bersama,” kata Matt dalam diskusi bertajuk The Jakarta Treaty: A New Chapter in the Australia-Indonesia Partnership di JS Luwansa Hotel, Jakarta Selatan, Selasa (14/7/2026).
1. Australia tambah pendanaan untuk tingkatkan pemahaman soal Indonesia

Dalam forum diskusi itu, Matt mengungkapkan, implementasi Jakarta Treaty memberi kesempatan bagi Australia untuk berinvestasi pada salah satu aset terpenting dalam hubungan kedua negara, yakni masyarakat.
Pemerintah Australia, kata Matt, memberikan tambahan pendanaan kepada Australia-Indonesia Institute, untuk meningkatkan kemampuan bahasa Indonesia dan keahlian mengenai Indonesia di Negeri Kanguru.
“Saya selalu mengatakan bahwa jika Australia ingin menjadi bagian dari Asia, kami harus mampu berkomunikasi dengan Asia,” tutur Matt.
Matt mengatakan, pemerintah Australia juga berupaya meningkatkan literasi mengenai Asia di kalangan generasi muda melalui sistem pendidikan.
“Pemerintah kami melakukan upaya khusus untuk memastikan peningkatan literasi mengenai Asia di kalangan generasi muda Australia, melalui sistem pendidikan. Kami juga membentuk dialog kepemimpinan baru yang akan mempertemukan anggota parlemen, pelaku bisnis, pemerintah, media, dan para pemimpin senior lainnya, untuk mempererat hubungan dan mendiskusikan cara-cara untuk semakin memperkuat hubungan kedua negara,” jelas dia.
2. Pendanaan juga dukung keamanan dan ketahanan ekonomi

Matt menjelaskan investasi pemerintah Australia juga mencakup langkah-langkah untuk mendukung keamanan dan ketahanan ekonomi bersama.
Hal itu sejalan dengan Jakarta Treaty yang mengikat Indonesia dan Australia untuk berkonsultasi secara rutin, mengenai berbagai persoalan yang memengaruhi keamanan bersama.
“Perjanjian ini mengikat kedua negara untuk berkonsultasi secara rutin mengenai hal-hal yang memengaruhi keamanan bersama dan mengembangkan bentuk kerja sama yang akan meningkatkan keamanan kedua negara serta kawasan,” jelas Matt.
Matt menyebutkan, penguatan kerja sama melalui Jakarta Treaty diperlukan di tengah lingkungan geostrategis yang semakin menantang.
“Ketika kita menghadapi lingkungan geostrategis yang semakin menantang, kita menghadapinya bersama. Dengan memperdalam kerja sama di bawah Jakarta Treaty, kita dapat saling membantu, sebagai tetangga, mitra, dan sahabat,” kata Matt.
3. Dewi Fortuna Anwar soroti pengetahuan warga Australia soal RI yang menurun

Masih dalam forum diskusi yang sama, Co-founder Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) sekaligus Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dewi Fortuna Anwar, menyoroti pengetahuan masyarakat umum Australia mengenai Indonesia yang dinilai menurun.
"Lowy Institute, seperti yang kamu ketahui, sudah melakukan banyak survei dan berulang kali menunjukkan opini publik di Australia mengenai Indonesia tidak selalu positif,” ungkap dia.
Dewi menyebut, kondisi itu sebagai sebuah ironi. Ia menyoroti pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah Australia yang mengalami penurunan, sementara pengetahuan sebagian masyarakat mengenai Indonesia masih terbatas pada Bali.
“Mereka tidak benar-benar mengetahui Indonesia. Mereka tahu Bali. Mereka masih berpikir Indonesia identik dengan Islamisme, digerakkan oleh terorisme, atau berada di bawah militerisme,” ujar Dewi.
Menanggapi hal tersebut, Matt mengatakan, sekitar 1,5 juta warga Australia mengunjungi Bali setiap tahun. Namun, menurut dia, semakin banyak warga Australia yang mulai menyadari jika Indonesia lebih dari sekadar Bali, dan mengunjungi berbagai wilayah lain di Indonesia.
“Semakin banyak warga Australia yang menyadari Indonesia lebih dari sekadar Bali, dan itu merupakan hal yang baik. Semakin banyak pula warga Australia yang bepergian ke wilayah lain di Indonesia, memperluas wawasan mereka dan mengeksplorasi peluang baru,” jawab Matt.
Matt turut menyoroti banyaknya bisnis, restoran, serta organisasi seni dan budaya Indonesia di Australia. Menurut dia, perkembangan tersebut membuat semakin banyak warga Australia mengenal budaya Indonesia.
“Saya pikir persepsi mengenai Indonesia adalah Bali mulai memudar di Australia. Semakin banyak warga Australia yang mulai mengenal dan menyukai budaya Indonesia, memahami sejarah dan warisan Anda, serta memahami hubungan kuat yang telah terjalin antara kedua negara,” pungkas Matt.





















