ilustrasi lunch tray (vecteezy.com/jamroen jaiman)
Meski peluang Indonesia bubar seperti Uni Soviet atau Yugoslavia tergolong kecil, bukan berarti seluruh kekhawatiran publik mengenai, "Bisakah Indonesia bubar?" dianggap berlebihan. Banyak negara tidak langsung runtuh dalam bentuk perpecahan wilayah. Sebagian justru mengalami kemunduran perlahan melalui melemahnya institusi, menurunnya kualitas demokrasi, dan berkurangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
Di sinilah letak tantangan Indonesia saat ini. Polemik mengenai berbagai program pemerintah, perdebatan tentang arah demokrasi, hingga kritik terhadap prioritas anggaran menunjukkan bahwa hubungan antara negara dan masyarakat sedang mengalami ujian. Jika persoalan tersebut terus diabaikan, dampaknya mungkin bukan perpecahan wilayah seperti Uni Soviet atau Yugoslavia. Namun, negara dapat menghadapi masalah yang tidak kalah serius berupa melemahnya legitimasi publik terhadap institusi yang seharusnya menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Uni Soviet dan Yugoslavia runtuh karena kombinasi persoalan politik, ekonomi, dan sosial yang berlangsung dalam waktu panjang. Indonesia saat ini belum menunjukkan kondisi yang mengarah pada skenario serupa. Namun, ramainya narasi tentang Indonesia bubar menunjukkan bahwa sebagian masyarakat sedang menyimpan kegelisahan terhadap arah perjalanan negara. Kegelisahan itulah yang seharusnya menjadi perhatian utama sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
Referensi
"One Country or Many? Prospects for the Future of Indonesia". Education About Asia. Diakses pada Juni 2026.
"The break-up of Indonesia? Nationalisms after decolonisation and the limits of the nation-state in post-Cold War Southeast Asia". Australian National University. Diakses pada Juni 2026.
"The Politics of Military Reform in Post-Suharto Indonesia: Elite Conflict, Nationalism, and Institutional Resistance". East-West Center Washington. Diakses pada Juni 2026.