ilustrasi rupiah (unsplash.com/naufal jajuli)
Rupiah lemah bukan nasib buruk, kutukan, dan bukan konspirasi. Ia adalah hasil logis dari struktur ekonomi yang belum selesai dibenahi dan entah akan selesai kapan. Kita mengekspor komoditas mentah seperti nikel, batu bara, atau CPO yang harganya ditentukan di bursa London dan Chicago. Ketika harga komoditas global sedang bagus, dolar akan masuk banyak, rupiah oke. Ketika siklusnya berbalik, dolar kering, rupiah limbung. Kita tidak punya banyak kendali atas siklus itu. Rasio manufaktur terhadap PDB kita turun dari sekitar 28 persen pada 2001 menjadi sekitar 18 persen pada 2024. Para ekonom menyebutnya deindustrialisasi prematur, maksudnya negara kehilangan basis produksi sebelum cukup kaya untuk tidak membutuhkannya.
Artinya Indonesia terus butuh dolar untuk beli bahan baku, sementara kemampuan menghasilkan dolar dari ekspor manufaktur belum sanggup berkembang dengan sebanding. Posisi ini membuat rupiah selalu berada satu langkah dari kerentanan. Hilirisasi yang didengungkan bertahun-tahun punya logika yang masuk akal. Tapi implementasinya selalu tersandung regulasi tumpang tindih, infrastruktur yang belum siap, dan tarik-menarik kepentingan yang tidak pernah selesai. Sementara itu, Mas Dul yang sehari-hari narik ojek jelas tidak tahu dan tidak perlu tahu soal deindustrialisasi prematur. Dia hanya tahu bahwa tiap ke SPBU uangnya habis lebih cepat dari bulan lalu.
Orang desa memang tidak belanja pakai dolar. Mereka belanja pakai rupiah, iya, rupiah yang daya belinya terkikis oleh sesuatu yang wujudnya saja mungkin belum pernah mereka lihat sehari-hari. Tidak ada yang mengajari mereka istilah imported inflation atau deindustrialisasi prematur, tapi efeknya sangat mengenai mereka. Beberapa bukti orang desa kena imbas saat rupiah melemah adalah porsi makan mereka lebih kecil, kebutuhannya yang ditunda makin panjang, dan bulan ini terasa lebih berat dari bulan lalu meski tidak ada yang berubah dari cara mereka hidup. Tidak belanja pakai dolar bukan berarti tidak terdampak.
Referensi
"GDP (current US$)." World Bank Group. Diakses pada Mei 2026
"Indonesia GDP Growth — First Quarter 2026: Behind the 5.61% Headline." LPEM FEB UI. Diakses pada Mei 2026
"Made in Somewhere Else: How Premature Deindustrialization Undermines the Development of Indonesia and other Emerging Economies." AMINEF. Diakses pada Mei 2026
"Indonesian Rupiah." Trading Economics. Diakses pada Mei 2026
"Import Prices and Inflation." IJCB. Diakses pada Mei 2026