Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Laki-laki Lebih Sering Diuntungkan dalam Pernikahan?

Kenapa Laki-laki Lebih Sering Diuntungkan dalam Pernikahan?
ilustrasi pernikahan (pexels.com/Kalamata Creative)
  • Struktur patriarki historis mengaitkan laki-laki dengan kepemilikan, warisan, dan pengambilan keputusan keluarga, sementara perempuan lebih ditempatkan pada peran reproduksi serta domestik.
  • Pekerjaan rumah dan pengasuhan yang tidak dibayar kerap lebih banyak dibebankan kepada istri, memberi suami lebih banyak waktu untuk karier, istirahat, atau aktivitas lain.
  • Ketimpangan juga terlihat dalam pengakuan pencari nafkah, pengaruh atas keputusan reproduksi, serta tuntutan penampilan yang lebih berat bagi perempuan setelah menikah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ada anggapan bahwa pernikahan membuat laki-laki dan perempuan berada dalam posisi yang setara karena keduanya sama-sama membangun rumah tangga. Namun, kalau dilihat lebih dekat, banyak aturan tidak tertulis dalam pernikahan yang justru membuat laki-laki menerima lebih banyak keuntungan.

Keuntungan tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan berkaitan dengan pembagian peran yang sudah lama dianggap wajar dalam kehidupan rumah tangga. Urusan rumah, pengasuhan anak, sampai berbagai kebutuhan keluarga masih banyak dibebankan kepada istri, sementara suami lebih sering diposisikan sebagai pencari nafkah. Kalau begitu, kenapa laki-laki lebih sering diuntungkan dalam pernikahan?

  1. 1. Patriarki tumbuh bersama aturan tentang harta dan warisan

    ilustrasi patriarki
    ilustrasi patriarki (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

    Pernikahan pada awalnya bukan sekadar urusan dua orang yang hidup bersama, tetapi juga berkaitan dengan keturunan, harta, dan pewarisan. Ketika manusia mulai menetap dan bertani sekitar 10 hingga 12 ribu tahun lalu, tanah, ternak, hasil panen, dan tempat tinggal menjadi sesuatu yang bisa dimiliki serta diwariskan kepada keturunan. Pada banyak masyarakat, garis keturunan kemudian ditarik melalui laki-laki sehingga harta lebih sering berpindah dari ayah kepada anak laki-laki. Perubahan tersebut ikut memperkuat posisi laki-laki dalam keluarga karena mereka memiliki akses lebih besar terhadap harta dan kewenangan untuk menentukan bagaimana harta itu diwariskan.

    Hubungan antara keluarga, kepemilikan harta, dan dominasi laki-laki kemudian menjadi bagian penting dalam pembahasan tentang patriarki. Friedrich Engels termasuk pemikir yang mengaitkan munculnya keluarga patriarkal dengan perubahan kepemilikan dan pewarisan harta, meskipun penjelasannya tidak dapat diterapkan begitu saja pada semua masyarakat dan masih diperdebatkan dalam kajian antropologi modern. Namun, gagasan tersebut membantu menunjukkan bahwa anggapan laki-laki sebagai kepala keluarga bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Ada sejarah panjang yang membuat laki-laki lebih dekat dengan harta, pewarisan, dan pengambilan keputusan, sementara perempuan lebih banyak ditempatkan dalam urusan reproduksi dan rumah tangga.

  2. 2. Pekerjaan domestik yang tidak dibayar menguntungkan suami

    ilustrasi membersihkan rumah
    ilustrasi membersihkan rumah (pexels.com/SHVETS production)

    Ada jenis pekerjaan dalam pernikahan yang jarang dianggap sebagai pekerjaan karena tidak menghasilkan pendapatan, padahal justru membuat kehidupan rumah tangga bisa berjalan. Memasak, mencuci, membersihkan rumah, mengurus anak, membeli kebutuhan, sampai memastikan berbagai urusan keluarga tidak terlewat membutuhkan waktu dan tenaga, tetapi semuanya dilakukan tanpa upah. Dalam kajian gender, pekerjaan ini dikenal sebagai unpaid domestic labor, dan persoalannya muncul ketika sebagian besar pekerjaan tersebut dibebankan kepada istri. Suami tetap menikmati hasilnya karena rumah terurus, kebutuhan sehari-hari tersedia, dan pengasuhan anak tetap berjalan, meskipun tidak ikut menanggung beban pekerjaan dalam porsi yang sama.

    Keuntungan itu terutama terlihat dari waktu yang dimiliki masing-masing pasangan. Suami yang tidak banyak mengerjakan pekerjaan domestik punya lebih banyak waktu untuk bekerja, membangun karier, beristirahat, atau melakukan kegiatan lain setelah urusan rumah selesai ditangani istrinya. Ketimpangan tersebut bahkan bisa terjadi ketika istri juga memiliki pekerjaan dan penghasilan sendiri, sehingga pekerjaan domestik pada akhirnya menjadi tanggung jawab tambahan setelah jam kerja berakhir. Artinya, keuntungan laki-laki dalam pernikahan tidak selalu berupa uang atau harta, tetapi juga bisa berupa waktu yang terbebas karena ada orang lain yang mengerjakan pekerjaan rumah.

  3. 3. Penghasilan laki-laki lebih sering dianggap sebagai tanggung jawab utama

    ilustrasi penghasilan
    ilustrasi penghasilan (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

    Dalam pernikahan, penghasilan laki-laki sering ditempatkan sebagai ukuran utama keberhasilannya sebagai suami. Laki-laki yang mampu menghasilkan banyak uang dianggap telah menjalankan tanggung jawab keluarga, sementara penghasilan istri kerap diposisikan sebagai tambahan meskipun jumlahnya sama besar. Cara pandang ini membuat pekerjaan berbayar laki-laki memiliki nilai sosial yang lebih tinggi di dalam rumah tangga. Pada saat yang sama, perempuan tetap dapat dituntut untuk menjaga urusan rumah dan keluarga meskipun ikut menanggung kebutuhan ekonomi.

    Posisi tersebut menciptakan standar yang berbeda bagi suami dan istri. Ketika laki-laki menjadi pencari nafkah utama, waktu yang digunakan untuk bekerja di luar rumah dianggap sebagai bentuk pengorbanan untuk keluarga, sedangkan waktu perempuan untuk mengurus rumah dan anak dianggap sebagai kewajiban. Akibatnya, laki-laki lebih mudah mendapatkan pengakuan atas kontribusinya, sementara perempuan harus membuktikan kontribusinya melalui dua wilayah sekaligus. Ketika suami bekerja lebih banyak di luar rumah, hal tersebut dianggap sebagai bentuk tanggung jawab, sementara ketika istri melakukan pekerjaan yang sama, ia tetap diharapkan tidak meninggalkan urusan rumah dan anak.

  4. 4. Keputusan punya anak tidak selalu berada di tangan perempuan

    ilustrasi hamil
    ilustrasi hamil (pexels.com/Amina Filkins)

    Keputusan untuk memiliki anak seharusnya menjadi kesepakatan kedua pasangan, tetapi dalam masyarakat yang masih menempatkan laki-laki sebagai pemimpin keluarga, suara suami dapat memiliki pengaruh lebih besar. Keinginan untuk segera memiliki anak, menentukan jumlah anak, atau menolak penggunaan alat kontrasepsi tidak selalu dibicarakan dengan posisi yang benar-benar setara. Persoalannya menjadi lebih besar karena kehamilan dan persalinan berlangsung di tubuh perempuan, sementara keputusan tentang reproduksi dapat dipengaruhi oleh pasangan, keluarga, bahkan anggapan bahwa istri memang seharusnya memiliki anak setelah menikah. Perempuan akhirnya dapat menanggung konsekuensi fisik dari keputusan yang belum tentu sepenuhnya ia tentukan sendiri.

    Keuntungan laki-laki dalam kondisi tersebut terletak pada adanya jarak antara keputusan dan konsekuensi fisiknya. Suami dapat menginginkan anak tanpa mengalami kehamilan, melahirkan, atau perubahan fisik yang menyertainya, sedangkan istri harus menjalani seluruh proses tersebut apabila kehamilan terjadi. Setelah anak lahir, masyarakat juga lebih sering melihat kehadiran anak sebagai bagian dari keberhasilan perempuan menjalankan perannya sebagai ibu, sementara tuntutan terhadap laki-laki tidak selalu sebesar itu. Karena itu, ketimpangan dalam pernikahan tidak hanya dapat terlihat dari pembagian harta, pekerjaan, dan penghasilan, tetapi juga dari siapa yang memiliki pengaruh lebih besar atas keputusan reproduksi dan siapa yang menanggung akibat fisiknya.

  5. 5. Perempuan lebih dituntut menjaga penampilan setelah menikah

    ilustrasi dandan
    ilustrasi dandan (pexels.com/MART PRODUCTION)

    Menikah tidak membuat perempuan lepas dari tuntutan untuk terlihat menarik. Justru setelah menjadi istri, penampilan perempuan masih kerap dianggap perlu dijaga, mulai dari berat badan, pakaian, rambut, sampai kondisi tubuh setelah melahirkan. Komentar soal tubuh istri juga lebih mudah dianggap wajar, termasuk ketika datang dari keluarga atau orang lain di sekitarnya. Laki-laki biasanya tidak mendapat perlakuan serupa ketika perut bertambah, rambut menipis, atau tubuh berubah setelah memiliki anak.

    Hal ini berkaitan dengan cara masyarakat membentuk gambaran tentang istri dan suami. Perempuan masih sering dianggap perlu menjaga kecantikan sebagai bagian dari perannya sebagai istri, sedangkan laki-laki lebih banyak dinilai dari pekerjaan, penghasilan, dan tanggung jawabnya terhadap keluarga. Akibatnya, perempuan harus memenuhi tuntutan sebagai pasangan sekaligus tetap menjaga penampilan sesuai standar yang berlaku, sementara laki-laki dapat menjalani perubahan fisik setelah menikah tanpa mendapat tuntutan yang sama. Di titik ini, laki-laki kembali mendapat keuntungan karena standar yang dikenakan kepadanya sebagai suami tidak seberat standar yang dikenakan kepada perempuan sebagai istri.

    Laki-laki lebih sering diuntungkan dalam pernikahan, padahal ikatan tersebut seharusnya menjadi tempat suami dan istri sama-sama punya hak, kewajiban, dan suara dalam menentukan kehidupan bersama. Masalahnya, kebiasaan yang sudah lama dianggap lumrah membuat peran laki-laki dan perempuan tidak selalu dibentuk dengan ukuran yang sama. Karena itu, pembagian peran dalam rumah tangga perlu dilihat kembali, terutama ketika satu pihak terus mendapat lebih banyak keuntungan sementara pihak lain harus menanggung lebih banyak kewajiban.

    Referensi

    "Why Does Marriage Seem to Benefit Men More Than Women?" Psychology Today. Diakses pada Agustus 2026.

    "Marriage Benefits Men's Life Expectancy More Than Women's" Forbes. Diakses pada Agustus 2026.

    "Unmasking the Patriarchy: Its Origins, Impact, and the Path to Equality" PMC. Diakses pada Agustus 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More