Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sepenting Apa Mempertahankan Idealisme dalam Memilih Pekerjaan?
ilustrasi pekerjaan (pexels.com/Julia M Cameron)
  • Kesulitan ekonomi dan kebutuhan hidup dapat mendorong seseorang menerima pekerjaan dari program yang sebelumnya dikritik, tetapi keputusan itu tetap berarti terlibat di dalamnya.

  • Alasan membutuhkan uang perlu diakui secara jujur; menolak pekerjaan alternatif karena gaji, beban, atau statusnya membuat pilihan tersebut bukan semata-mata keterpaksaan.

  • Jika kondisi finansial membaik dan pilihan lain terbuka, alasan bertahan perlu dievaluasi karena kenyamanan serta keuntungan pekerjaan dapat menggeser idealisme awal.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Cari kerja di Indonesia memang tidak gampang. Lulus kuliah belum tentu langsung dapat pekerjaan, pengalaman kerja belum tentu membuat lamaran dilirik, dan sekalinya diterima belum tentu gajinya cukup untuk membayar kebutuhan hidup. Ada orang yang akhirnya menganggur bertahun-tahun sampai tabungan habis dan kondisi membuat dia mulai mengambil pekerjaan apa saja yang tersedia.

Lalu datang sebuah pekerjaan dari program pemerintah yang selama ini justru dia kritik. Dia tahu programnya bermasalah, tahu ada anggaran yang dipangkas untuk membuatnya tetap berjalan, bahkan ia melihat bahwa kebijakan tersebut sudah menimbulkan korban jiwa. Namun karena sudah lama menganggur, ia akhirnya ikut bekerja di program tersebut. Kalau memang begitu, apakah kondisi ekonomi membuat pilihan tersebut otomatis bisa dibenarkan?

1. Idealisme adalah kemewahan untuk orang yang butuh uang

ilustrasi tidak punya uang (pexels.com/Ahsanjaya)

Akan sangat mudah mengatakan, “Kalau gak suka, ya jangan kerja di sana.” Kalimat seperti itu terdengar sederhana kalau kebutuhan hidup kita masih tercukupi. Ketika masih punya tabungan, masih bisa minta bantuan ke orangtua, atau masih ada pekerjaan lain yang bisa dicoba, menolak satu tawaran pekerjaan memang jauh lebih mudah.

Masalahnya, gak semua orang punya privilese seperti itu. Ada yang sudah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun mengirim lamaran kerja tanpa hasil. Ada yang tabungannya tinggal sedikit. Ada yang harus membayar kos, cicilan, biaya pengobatan, atau membantu keluarga. Ketika tawaran kerja akhirnya datang, pilihan antara “mempertahankan prinsip” dan “punya penghasilan bulan depan” jelas bukan pilihan yang seimbang.

Karena itu, sulit juga menyalahkan orang yang akhirnya mengambil pekerjaan tersebut. Kalau memang sudah kehabisan pilihan dan pekerjaan itu bisa membayar kebutuhan hidup, alasan untuk menerimanya cukup jelas. Hanya saja, tetap tidak mengaburkan fakta bahwa ia secara sadar memilih pekerjaan yang bertentangan dengan apa yang sebelumnya dia percaya.

2. Kalau memang butuh uang, bilang saja butuh uang

ilustrasi butuh uang (unsplash.com/Roman Synkevych)

Kalimat “in this economy” bisa berubah menjadi pembenaran ketika dipakai untuk menutup pembicaraan. Seolah-olah keadaan ekonomi yang sulit membuat seseorang tidak lagi perlu mempertanggungjawabkan pekerjaan yang dia pilih. Padahal persoalannya sederhana. Kamu sebelumnya menentang program tersebut. Kamu menganggap ada masalah di dalamnya. Lalu ketika mendapat kesempatan bekerja di sana, kamu menerimanya karena membutuhkan uang. Ya sudah. Itu berarti kebutuhan ekonomi akhirnya lebih kuat daripada penolakanmu terhadap program tersebut.

Gak perlu dipoles menjadi cerita bahwa kamu tetap sepenuhnya memegang prinsip yang sama. Kamu memang masih boleh mengkritik programnya. Kamu juga boleh berharap program tersebut diperbaiki. Namun selama menerima gaji dan menjalankan pekerjaan di dalamnya, kamu tetap menjadi bagian dari program tersebut. Ketidaksetujuan tidak menghapus keterlibatan kamu di dalamnya atas kekacauan apa yang kelak akan terjadi.

3. Masih banyak pilihan pekerjaan, cuma gak semuanya kamu mau

ilustrasi kurir (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Di sinilah persoalannya menjadi lebih menarik. Mengatakan “aku terpaksa mengambil pekerjaan ini karena butuh uang” berbeda dengan mengatakan “aku gak punya pilihan selain pekerjaan ini.” Kalimat pertama mengakui keadaan. Kalimat kedua menutup kemungkinan bahwa ada pilihan lain. Padahal, pekerjaan lain masih tersedia masih bisa kamu coba. Buruh pabrik, pekerja gudang, kasir, kurir, barista, staf toko, pekerja restoran, dan serentetan pekerjaan lain tetap masih bisa kamu coba lamar.

Bukan berarti pekerjaan tersebut gampang, nyaman, atau layak dianggap lebih rendah. Justru banyak di antara pekerjaan punya jam kerja panjang dan beban fisik yang gak sedikit. Tetapi kalau seseorang menolak semua pilihan tersebut karena merasa gajinya lebih kecil, pekerjaannya lebih berat, kurang prestisius atau statusnya gak sesuai dengan yang diinginkan, lalu memilih pekerjaan yang selama ini dia tentang karena menawarkan keuntungan yang lebih menarik, sulit menyebut keputusan itu sebagai “gak punya pilihan.” Hal yang terjadi mungkin bukan gak punya pilihan, melainkan memilih satu pilihan yang paling menguntungkan dari pilihan yang tersedia.

4. Lama-lama, kamu bisa terbiasa dengan pekerjaan yang dulu kamu kritik

ilustrasi koperasi (pexels.com/RF._.studio _)

Awalnya mungkin memang cuma soal uang. Kamu masuk, kerja, terima gaji, lalu tetap mencari pekerjaan lain. Kamu juga masih bisa bilang, “Aku gak setuju sama programnya, tapi aku butuh kerja butuh uangnya.” Masalahnya, setelah setahun berlalu, pekerjaan itu sudah bukan sesuatu yang sekadar kamu jalani sementara. Gaji bulanannya sudah dipakai untuk bayar kos, cicilan, makan, atau membantu keluarga. Kamu juga sudah punya teman kerja, atasan yang dikenal, dan posisi yang sudah susah ditinggalkan begitu saja.

Di titik tersebut, cara kamu melihat programnya bisa ikut berubah. Dulu kamu melihat kebijakannya sebagai orang luar dan gampang menemukan masalahnya. Sekarang kamu bekerja di dalamnya dan tahu kenapa beberapa keputusan dibuat, kenapa target tertentu harus dikejar, atau kenapa atasan mengambil keputusan yang sebelumnya kamu anggap salah. Bukan berarti semua orang pasti berubah pikiran setelah bekerja di sana. Namun semakin lama pekerjaan itu menjadi bagian dari hidupmu, semakin sulit juga memisahkan kritik terhadap program dari rasa aman karena masih punya pekerjaan.

5. Kalau keadaan sudah berubah, alasan “butuh uang” juga perlu untuk ditinjau lagi

ilustrasi uang (unsplash.com/naufal jajuli)

Waktu pertama menerima pekerjaan itu, mungkin memang gak banyak yang bisa dilakukan. Sudah lama menganggur, tabungan menipis, lalu ada pekerjaan yang bisa langsung menghasilkan uang. Menolaknya demi mempertahankan idealisme bisa terasa terlalu mahal. Dalam keadaan seperti itu, sulit juga menyalahkan orang yang memilih menerima. Namun keadaan gak selalu berhenti di situ. Setelah beberapa tahun, bisa saja tabungan sudah terkumpul, penghasilan sudah cukup, atau pengalaman kerja sudah membuka kesempatan di tempat lain.

Kalau saat itu kamu tetap bertahan karena merasa gajinya lebih besar, fasilitasnya lebih enak, atau pekerjaan lain terasa terlalu berat, alasan “in this economy” mulai terdengar berbeda. Kamu bukan lagi sedang mencari cara untuk bertahan sampai bulan depan. Kamu sudah punya pilihan, hanya saja pilihan lain tidak semenarik pekerjaan yang sekarang. Idealisme memang gak selalu bisa dipertahankan ketika kebutuhan hidup sedang mendesak. Tetapi kalau kondisi sudah berubah, alasan yang kamu pakai juga seharusnya ikut berubah. Kalau sekarang bertahan karena pekerjaan itu sudah lebih nyaman dan menguntungkan, gak perlu lagi berpura-pura bahwa tidak ada pilihan lain.

Menghadapi realitas ekonomi memang sering memaksa kita bertaruh dengan idealisme demi bertahan hidup. Namun, ada batas tegas antara bertahan hidup dan menjual prinsip. Stop menggunakan dalih "terpaksa" saat kamu sudah nyaman menikmati gajinya. Pada akhirnya, keberanian untuk angkat kaki saat kondisi membaiklah yang membuktikan apakah idealisme itu pernah ada atau cuma harga diri yang murah untuk dibeli.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article

Kepercayaan Harus Dijaga!16 Oct 2026, 20:57 WIB