ilustrasi uang (unsplash.com/naufal jajuli)
Waktu pertama menerima pekerjaan itu, mungkin memang gak banyak yang bisa dilakukan. Sudah lama menganggur, tabungan menipis, lalu ada pekerjaan yang bisa langsung menghasilkan uang. Menolaknya demi mempertahankan idealisme bisa terasa terlalu mahal. Dalam keadaan seperti itu, sulit juga menyalahkan orang yang memilih menerima. Namun keadaan gak selalu berhenti di situ. Setelah beberapa tahun, bisa saja tabungan sudah terkumpul, penghasilan sudah cukup, atau pengalaman kerja sudah membuka kesempatan di tempat lain.
Kalau saat itu kamu tetap bertahan karena merasa gajinya lebih besar, fasilitasnya lebih enak, atau pekerjaan lain terasa terlalu berat, alasan “in this economy” mulai terdengar berbeda. Kamu bukan lagi sedang mencari cara untuk bertahan sampai bulan depan. Kamu sudah punya pilihan, hanya saja pilihan lain tidak semenarik pekerjaan yang sekarang. Idealisme memang gak selalu bisa dipertahankan ketika kebutuhan hidup sedang mendesak. Tetapi kalau kondisi sudah berubah, alasan yang kamu pakai juga seharusnya ikut berubah. Kalau sekarang bertahan karena pekerjaan itu sudah lebih nyaman dan menguntungkan, gak perlu lagi berpura-pura bahwa tidak ada pilihan lain.
Menghadapi realitas ekonomi memang sering memaksa kita bertaruh dengan idealisme demi bertahan hidup. Namun, ada batas tegas antara bertahan hidup dan menjual prinsip. Stop menggunakan dalih "terpaksa" saat kamu sudah nyaman menikmati gajinya. Pada akhirnya, keberanian untuk angkat kaki saat kondisi membaiklah yang membuktikan apakah idealisme itu pernah ada atau cuma harga diri yang murah untuk dibeli.