kucing siam (commons.wikimedia.org/Martin Bahmann)
Meski kamu penderita alergi, nyatanya kamu tetap bisa memelihara kucing dengan memilih ras kucing tertentu yang hypoallergenic. Semoga rekomendasi di atas bisa membantu kamu dalam memilih kucing peliharaan, ya!
Apakah ada ras kucing yang 100% tidak menimbulkan alergi sama sekali? | Tidak ada. Istilah hypoallergenic berarti mempunyai potensi lebih rendah dalam memicu alergi, bukan bebas alergi sama sekali. Semua kucing tetap memproduksi alergen (seperti protein Fel d 1), hanya saja ras hypoallergenic memproduksinya dalam jumlah yang jauh lebih sedikit atau melepaskannya lebih sedikit ke udara. |
Sebenarnya apa pemicu utama alergi kucing, apakah bulunya? | Pemicu utamanya bukan bulunya sendiri, melainkan protein Fel d 1 yang terdapat pada air liur, ketombe (serpihan kulit mati), dan urine kucing. Bulu kucing menjadi media penyebar alergen karena kucing sering menjilati tubuhnya saat grooming, sehingga air liur yang menempel di bulu mengering dan menyebar di udara. |
Apakah jenis kelamin atau kondisi steril berpengaruh terhadap tingkat alergen kucing? | Ya, berpengaruh. Kucing jantan yang belum disteril memproduksi protein Fel d 1 paling banyak. Kucing betina atau kucing jantan yang sudah disteril (kastrasi) memproduksi alergen dalam jumlah yang jauh lebih rendah, sehingga lebih aman bagi penderita alergi. |
Makanan atau nutrisi seperti apa yang bisa membantu mengurangi alergen pada kucing? | Saat ini sudah ada formula makanan kucing khusus (seperti produk yang mengandung antibodi telur alami) yang dirancang untuk meredakan dan menetralkan protein Fel d 1 aktif pada air liur kucing. Pemberian pakan khusus ini secara rutin terbukti dapat mengurangi jumlah alergen pada bulu dan ketombe kucing secara signifikan. |