Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengapa Karhutla Bisa Membuat Langit Berwarna Oranye atau Merah?

Mengapa Karhutla Bisa Membuat Langit Berwarna Oranye atau Merah?
ilustrasi kebakaran hutan (pexels.com/Vladyslav Dukhin)
  • Karhutla menghasilkan asap tebal berisi jelaga, abu, dan senyawa organik yang dapat terbawa angin, mengganggu jarak pandang serta meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
  • Partikel asap yang lebih besar dari molekul udara mengubah hamburan cahaya matahari melalui hamburan Mie, sekaligus menyerap sebagian cahaya sehingga komposisi warna di atmosfer berubah.
  • Asap menyaring lebih banyak cahaya biru dan hijau, terutama melalui brown carbon, sehingga kuning, oranye, dan merah dominan; efeknya makin kuat saat matahari terbit atau terbenam.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membawa banyak masalah bagi lingkungan dan masyarakat, mulai dari asap tebal yang mengganggu pemandangan hingga risiko gangguan pernapasan. Selain itu, dampaknya juga bisa dirasakan di wilayah yang cukup jauh dari lokasi kebakaran karena asap dapat terbawa angin dan menyebar ke area lain.

Di tengah kondisi tersebut, ada satu fenomena yang cukup menarik perhatian, yaitu langit yang berubah menjadi oranye atau kemerahan saat karhutla terjadi. Warna langit yang tidak biasa ini bukan karena cahaya api menyebar ke udara, melainkan karena asap dan partikel hasil pembakaran memengaruhi cara cahaya matahari melewati atmosfer. Lantas, bagaimana prosesnya?

  1. 1. Langit biasanya berwarna biru karena cahaya matahari

    Pada hari biasa, langit tampak biru karena sinar matahari mengalami proses yang disebut Rayleigh scattering atau hamburan Rayleigh. Sinar matahari sendiri sebenarnya terdiri atas berbagai warna dengan panjang gelombang yang berbeda.

    Cahaya biru dan ungu memiliki panjang gelombang yang lebih pendek sehingga lebih mudah dihamburkan ketika bertemu dengan molekul-molekul kecil di udara, seperti nitrogen dan oksigen. Cahaya biru yang tersebar ke berbagai arah inilah yang akhirnya lebih banyak ditangkap oleh mata kita sehingga langit terlihat biru. Namun, kondisi tersebut bisa berubah ketika atmosfer dipenuhi asap karhutla.

  2. 2. Asap karhutla mengubah cara cahaya matahari menyebar

    Kebakaran hutan menghasilkan asap dalam jumlah besar yang membawa berbagai partikel, seperti jelaga, abu, dan senyawa organik. Ukuran partikel-partikel ini jauh lebih besar dibandingkan molekul udara biasa.

    Karena ukurannya berbeda, partikel asap berinteraksi dengan cahaya melalui mekanisme yang berbeda pula, salah satunya disebut Mie scattering atau hamburan Mie. Partikel asap tidak hanya menghamburkan cahaya biru, tetapi dapat memengaruhi berbagai panjang gelombang sekaligus dan menyerap sebagian cahaya. Akibatnya, komposisi cahaya yang berhasil melewati lapisan asap menjadi berbeda dari kondisi normal.

  3. 3. Mengapa langit bisa berubah menjadi oranye atau merah

    ilustrasi kebakaran hutan
    ilustrasi kebakaran hutan (unsplash.com/Fachy Marín)

    Asap bekerja seperti semacam penyaring bagi cahaya matahari. Ketika sinar matahari melewati lapisan asap yang tebal, sebagian cahaya biru dan hijau lebih banyak dihamburkan atau diserap.

    Ada pula senyawa tertentu dalam asap, terutama brown carbon yang banyak dihasilkan dari pembakaran yang tidak sempurna atau proses pembakaran yang masih membara. Senyawa ini menyerap cahaya biru secara lebih efektif dibandingkan cahaya dengan panjang gelombang yang lebih panjang.

    Pada akhirnya, cahaya yang berhasil menembus asap menjadi relatif lebih kaya akan warna dengan panjang gelombang lebih panjang, seperti kuning, oranye, dan merah. Itulah sebabnya ketika asap karhutla memenuhi atmosfer, langit dan benda-benda di sekitarnya bisa terlihat memiliki warna jingga atau kemerahan.

  4. 4. Mengapa saat matahari terbit dan terbenam warnanya bisa lebih dramatis

    Warna merah atau oranye sebenarnya bukan sesuatu yang hanya muncul saat terjadi kebakaran hutan. Kita juga dapat melihatnya ketika matahari terbit dan terbenam.

    Pada kedua waktu tersebut, posisi matahari berada lebih rendah di cakrawala. Akibatnya, cahaya matahari harus melewati lapisan atmosfer yang lebih panjang sebelum sampai ke mata kita. Dalam perjalanan tersebut, lebih banyak cahaya biru yang dihamburkan sehingga warna merah dan oranye menjadi lebih dominan.

    Saat atmosfer dipenuhi asap kebakaran hutan, efek ini bisa menjadi jauh lebih kuat. Partikel-partikel asap memberikan lebih banyak kesempatan bagi cahaya biru dan hijau untuk dihamburkan atau diserap.

    Hasilnya, langit tampak jauh lebih merah atau oranye dari biasanya. Dalam kondisi tertentu, warnanya bahkan bisa tampak sangat pekat dan membuat suasana terkesan mencekam.

  5. 5. Tidak semua asap karhutla menghasilkan warna yang sama

    Warna langit yang muncul akibat asap juga tidak selalu sama. Ada beberapa faktor yang memengaruhinya, mulai dari jumlah asap hingga jenis kebakaran yang terjadi.

    1. Ketebalan dan jumlah partikel asap

    Semakin banyak partikel yang berada di atmosfer, semakin kuat pula pengaruhnya terhadap cahaya matahari. Lapisan asap yang tebal dapat membuat langit terlihat lebih gelap, berkabut, oranye, atau merah.

    2. Jenis kebakaran

    Kebakaran yang berlangsung dengan proses pembakaran yang tidak sempurna atau masih membara dapat menghasilkan lebih banyak brown carbon. Senyawa tersebut dapat menyerap cahaya biru dan membuat warna kemerahan terlihat semakin kuat.

    3. Waktu dan posisi matahari

    Sudut matahari juga berpengaruh. Di siang hari, langit yang dipenuhi asap mungkin terlihat berkabut atau berwarna jingga. Sementara itu, ketika matahari terbit atau terbenam, warnanya bisa berubah menjadi merah yang jauh lebih pekat.

  6. 6. Langit oranye tidak selalu jadi pemandangan menarik

    Pemandangan sunset di Madrid
    ilustrasi langit berwarna oranye (unsplash.com/Andrés García)

    Kendati langit berwarna oranye atau merah bisa terlihat indah dan dramatis dalam foto, kondisi tersebut juga bisa menjadi tanda bahwa kualitas udara sedang buruk. Partikel-partikel yang membuat warna langit berubah adalah bagian dari asap yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Paparan asap kebakaran dapat mengiritasi mata dan paru-paru, terutama pada orang yang memiliki masalah pernapasan seperti asma.

    Karenanya, saat langit berubah warna akibat asap karhutla, jangan hanya sibuk mengabadikan pemandangannya. Perhatikan juga informasi kualitas udara dan imbauan dari pihak berwenang. Jika kondisi udara buruk, mengurangi aktivitas di luar ruangan dapat membantu mengurangi paparan asap.

    Pada akhirnya, langit yang berubah menjadi oranye atau merah saat karhutla terjadi merupakan hasil interaksi antara cahaya matahari dan partikel asap di atmosfer. Asap membuat sebagian warna, terutama biru, lebih banyak dihamburkan atau diserap sehingga warna dengan panjang gelombang lebih panjang seperti oranye dan merah menjadi lebih dominan. Jadi, di balik pemandangan langit yang terlihat menakjubkan tersebut, sebenarnya ada proses fisika sekaligus tanda bahwa atmosfer sedang dipenuhi polusi asap.

    Referensi

    Business Insider. Diakses pada September 2026. Dispatches from the Apocalypse: Photos Show Eerie Scenes and Orange Skies as Smoke Tints the Atmosphere Across the West Coast
    CNN. Diakses pada September 2026. Why Skies in The Northeast are Turning Orange from The Smoke 
    Los Angeles Times. Diakses pada September 2026. How Smoke from California Wildfires Turns the Sky Red
    Popular Science. Diakses pada September 2026. How Raging Wildfires Create Hellish Skies Across the Country
    Weather. Diakses pada September 2026. How Wildfire Smoke Turns The Sky A Radiant Red At Sunrise And Sunset

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More