Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bahaya Setelah Karhutla Padam, Apa Saja Dampaknya?

Bahaya Setelah Karhutla Padam, Apa Saja Dampaknya?
ilustrasi karhutla (pexels.com/Quý Hoàng)
  • Meski api padam, bara di lahan gambut dan sisa pembakaran dapat menghasilkan CO, SO₂, NO₂, serta ozon permukaan.

  • Partikulat sekunder dan VOC seperti benzena masih dapat mengancam kesehatan, termasuk di dalam rumah karena material berpori menyerap lalu melepaskan kembali polutan dari asap.

  • Abu, sedimen, logam, dan PAHs dapat mencemari sumber air saat hujan; kerusakan tanah, terutama gambut, juga meningkatkan risiko banjir, kekeringan, dan kebakaran berulang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memang menjadi lebih melegakan ketika kobaran api berhasil dikendalikan. Namun, kondisi setelah api padam tetap perlu mendapat perhatian karena proses pemulihan lingkungan tidak terjadi dalam waktu singkat. Ada sejumlah kondisi yang masih dapat muncul setelah kebakaran berakhir dan berpotensi menimbulkan masalah baru.

Bahaya setelah karhutla padam dapat berdampak pada kesehatan manusia maupun lingkungan, mulai dari kualitas udara yang belum sepenuhnya pulih hingga gangguan pada sumber air dan ekosistem. Lantas, apa saja bahaya yang perlu diwaspadai setelah karhutla berhasil dipadamkan? Simak penjelasan lengkapnya berikut!

  1. 1. Bahaya setelah karhutla padam

    Padamnya api bukan berarti bahaya karhutla langsung berakhir. Lahan yang terlihat sudah tidak terbakar masih dapat menyimpan bara dan panas, terutama pada lahan gambut. Ketika proses pemadaman tidak benar-benar menuntaskan titik panas, pembakaran tidak sempurna dapat menghasilkan karbon monoksida (CO), yaitu gas beracun yang tidak berwarna dan tidak berbau. Gas ini dapat mengikat hemoglobin lebih kuat daripada oksigen sehingga mengurangi kemampuan darah membawa oksigen ke seluruh tubuh.

    Selain CO, proses pembakaran juga dapat menghasilkan sulfur dioksida (SO₂) dan nitrogen dioksida (NO₂). Dalam kondisi tertentu, gas-gas tersebut dapat berkontribusi terhadap terbentuknya polutan sekunder, termasuk ozon permukaan (O₃), yang dapat mengiritasi dan mengganggu sistem pernapasan. Karena itu, kondisi udara tetap perlu diperhatikan meski api sudah dinyatakan padam.

    Dosen Teknik Lingkungan ITB, Raden Driejana, menekankan pentingnya pemantauan kualitas udara justru pada masa peralihan setelah kebakaran selesai. Menurutnya, ISPU dapat membantu menentukan apakah kondisi udara sudah cukup aman untuk beraktivitas di luar rumah atau masih perlu diwaspadai karena beberapa parameter pencemar justru dapat meningkat setelah proses pemadaman.

  2. 2. Asap dan gas beracun masih mengancam kesehatan

    Bahaya Setelah Karhutla Padam
    ilustrasi karhutla yang dahsyat (pexels.com/K)

    Bahaya pasca karhutla tidak hanya berasal dari gas yang masih berada di udara. Gas seperti SO₂ dan NO₂ dapat berkontribusi terhadap terbentuknya partikulat sekunder berukuran sangat kecil. Partikel ini dapat bertahan di lingkungan dan menjadi bagian dari polusi udara yang tetap berbahaya meski asap tebal sudah mulai menghilang.

    Risiko tersebut juga dapat masuk ke dalam rumah. Studi Universitas California, Los Angeles (UCLA), pada awal 2026 menemukan bahwa warga yang kembali ke rumah setelah kebakaran hutan masih berpotensi terpapar senyawa organik volatil (VOC) karsinogenik, termasuk benzena. Profesor kesehatan lingkungan UCLA, Yifang Zhu, yang memimpin penelitian tersebut, menjelaskan bahwa VOC dapat berasal dari material bangunan maupun berbagai produk rumah tangga yang ikut terbakar.

    Benda-benda berpori seperti sofa, bantal, dan boneka juga dapat menyerap senyawa dari asap selama kebakaran. Setelah kondisi kembali tenang, senyawa tersebut berpotensi dilepaskan kembali ke udara melalui proses off-gassing. Artinya, membersihkan udara pasca-karhutla tidak cukup hanya dengan menunggu asap menghilang karena sebagian polutan dapat tertinggal di dalam lingkungan rumah.

  3. 3. Air dan ekosistem tetap berisiko tercemar

    Karhutla juga meninggalkan dampak pada sistem air dan lingkungan sekitar. Setelah kebakaran, abu halus dan sedimen dapat menutupi permukaan tanah serta mengganggu kemampuan tanah menyerap air. Ketika hujan turun, air kemudian membawa abu, sedimen, logam, hingga senyawa berbahaya seperti polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs) menuju sungai dan danau.

    Dampaknya tidak selalu langsung terlihat. Penelitian Ben Livneh dari Cooperative Institute for Research in Environmental Sciences (CIRES), Universitas Colorado, menunjukkan bahwa pemulihan kualitas air setelah kebakaran hutan dapat berlangsung jauh lebih lama dari yang diperkirakan. Efek pencemaran bahkan dapat muncul atau menjadi lebih terasa ketika terjadi hujan atau badai yang cukup besar untuk melarutkan sisa kontaminan dari wilayah bekas kebakaran.

  4. 4. Kerusakan lahan bisa memicu bencana berulang

    Bahaya Setelah Karhutla Padam
    Gubernur Kalbar tinjau lokasi karhutla di Kubu Raya (IDN Times/Teri).

    Dampak karhutla tidak berhenti ketika kualitas udara dan kondisi lingkungan mulai membaik. Kerusakan pada lahan, khususnya gambut, dapat menciptakan siklus bencana yang sulit diputus. Ketika kemampuan tanah menyimpan dan mengatur air terganggu, wilayah bekas kebakaran dapat menjadi lebih rentan mengalami banjir saat musim hujan dan kekeringan ketika musim kemarau.

    Kondisi tersebut juga membuat lahan lebih mudah terbakar kembali pada periode kering. Dengan demikian, satu kejadian karhutla dapat meninggalkan masalah lingkungan yang berlangsung jauh lebih lama daripada durasi kebakarannya. Pemulihan lahan dan ekosistem pun menjadi bagian penting untuk mencegah munculnya kembali kebakaran serta dampak turunannya.

    Jadi, jangan langsung menganggap kondisi sudah aman setelah api karhutla padam karena sejumlah ancaman masih bisa tersisa. Semoga ulasan ini membantu kamu memahami bahaya setelah karhutla padam dan lebih waspada terhadap dampaknya, ya.

    Referensi

    "Even After Wildfires Are Extinguished, Smoke Damage May Continue To Pose Risks To Residents". UCLA Newsroom. Diakses September 2026.
    Brucker, Carli P., Ben Livneh, Fernando L. Rosario-Ortiz, Fangfang Yao, A. Park Williams, William C. Becker, Stephanie K. Kampf, and Balaji Rajagopalan. “Wildfires Drive Multi-year Water Quality Degradation Over the Western United States.” Communications Earth & Environment 6, no. 1 (June 23, 2025).

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More