Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Fakta Unik Trioceros Jacksonii, Bunglon Bertanduk yang Melahirkan
Trioceros jacksonii (Ryan van Huyssteen, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
  • Trioceros jacksonii, bunglon asal Kenya dan Tanzania, dikenal dengan tiga tanduk khas pada pejantan yang digunakan untuk bertarung mempertahankan wilayah di habitat pegunungan sejuk.
  • Bunglon betina spesies ini bereproduksi secara ovovivipar, melahirkan 8–30 bayi hidup setelah masa kehamilan sekitar lima hingga enam bulan tanpa melalui proses bertelur.
  • Akibat pelepasan di Hawaii tahun 1972, Trioceros jacksonii berkembang pesat tanpa predator alami dan kini dikategorikan sebagai spesies invasif yang mengancam fauna endemik setempat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Dunia reptil selalu menyimpan kejutan yang tidak ada habisnya bagi para pencinta alam. Salah satu makhluk yang paling mencuri perhatian adalah Trioceros jacksonii, atau yang lebih dikenal dengan nama bunglon Jackson. Reptil unik yang berasal dari wilayah pegunungan sejuk di Kenya dan Tanzania ini memiliki tampilan fisik yang sangat eksotis. Mereka tampak menawan dengan kulit berwarna hijau cerah yang bisa berubah warna sesuai dengan kondisi emosi dan suhu di sekitarnya.

Penemuan spesies ini pada akhir abad ke-19 oleh para ilmuwan telah membuka tabir tentang keajaiban evolusi pertahanan diri hewan. Keberadaan mereka kemudian meluas hingga ke kepulauan Hawaii pada tahun 1970-an akibat perdagangan hewan peliharaan global. Di balik tampilannya yang mirip dengan dinosaurus mini, bunglon bertanduk tiga ini ternyata menyimpan berbagai kebiasaan unik yang sangat kontras dengan spesies bunglon lainnya di dunia.

1. Pejantan memiliki tiga tanduk untuk bertarung

Trioceros jacksonii (Ryan van Huyssteen, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Keberadaan tiga tanduk di bagian kepala membuat bunglon jantan terlihat sangat mirip dengan dinosaurus jenis Triceratops. Tanduk-tanduk kokoh tersebut tumbuh langsung dari tengkorak, tepatnya di atas hidung dan di dekat area matanya yang bulat. Bagian tubuh yang unik ini bukan hanya berfungsi sebagai hiasan kepala yang keren untuk menarik perhatian lawan jenis. Tanduk ini sebenarnya adalah senjata utama yang digunakan oleh para pejantan untuk mempertahankan wilayah kekuasaan mereka di atas pohon.

Ketika dua ekor pejantan bertemu di satu dahan yang sempit, mereka akan saling mengunci tanduk dengan sangat agresif. Pertarungan fisik ini dilakukan dengan cara mendorong satu sama lain hingga salah satu dari mereka terjatuh dari ranting. Menariknya, pemandangan luar biasa ini tidak akan kamu temukan pada bunglon betina dari spesies yang sama. Bunglon betina umumnya sama sekali tidak memiliki tanduk atau hanya memiliki benjolan kecil yang tidak berkembang sempurna di kepalanya.

2. Bunglon betina melahirkan anak secara langsung

Trioceros jacksonii (AMMuench, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Mayoritas spesies reptil, khususnya bunglon, berkembang biak dengan cara bertelur di dalam tanah yang hangat. Namun, Trioceros jacksonii memilih jalan evolusi yang sangat berbeda dan tergolong langka di dunia kadal. Bunglon betina dari spesies ini tidak menelurkan telur-telurnya ke tanah, melainkan langsung melahirkan anak-anak mereka yang sudah hidup. Fenomena reproduksi yang luar biasa ini dikenal dalam dunia sains dengan istilah ovoviviparitas.

Masa kehamilan induk betina berlangsung cukup lama, yaitu sekitar lima hingga enam bulan di dalam perut. Sekali melahirkan, induk bunglon bisa menghasilkan sekitar 8 sampai 30 ekor bayi bunglon yang sangat aktif. Bayi-bayi mungil tersebut lahir dalam kondisi terbungkus kantung selaput tipis yang lengket di dahan pohon. Mereka akan segera merobek selaput tersebut secara mandiri untuk memulai petualangan hidup mereka sendiri di dunia luar.

3. Hewan ini menjadi hama invasif di Hawaii

Trioceros jacksonii (Ryan van Huyssteen, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Habitat asli bunglon bertanduk tiga ini berada di kawasan hutan hujan yang sejuk di wilayah Afrika Timur. Namun, garis takdir membawa spesies ini melintasi samudra luas hingga mendarat di daratan Hawaii yang eksotis pada tahun 1972. Sebanyak 36 ekor bunglon awalnya diimpor secara resmi untuk memenuhi permintaan pasar hewan peliharaan setempat. Sayangnya, karena kondisi mereka yang lemas saat tiba, sang importir melepaskan mereka di halaman belakang rumahnya agar mendapat udara segar.

Keputusan tersebut ternyata berujung pada bencana lingkungan yang cukup serius bagi ekosistem asli kepulauan Hawaii. Tanpa adanya predator alami seperti ular pohon khas Afrika, populasi bunglon ini meledak dengan sangat cepat di alam liar. Mereka kini dikategorikan sebagai spesies invasif yang merusak karena sangat gemar memangsa serangga endemik. Bunglon ini juga terbukti memburu siput pohon Hawaii yang berstatus sangat langka dan dilindungi dari kepunahan.

4. Mata dan lidah mereka membantu perburuan di atas pohon

Trioceros jacksonii (Ryan van Huyssteen, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Struktur anatomi tubuh bunglon bertanduk tiga ini memang dirancang dengan sangat sempurna untuk berburu mangsa. Kedua mata mereka menonjol keluar dan dilindungi oleh kelopak mata berbentuk kerucut yang sangat unik. Hebatnya lagi, mata tersebut bisa berputar hingga 180 derajat secara mandiri tanpa memengaruhi gerakan mata yang satunya. Hal ini memungkinkan mereka untuk memantau keadaan sekitar hingga sudut 360 derajat demi menghindari ancaman predator berbahaya.

Selain mata yang canggih, senjata berburu paling mematikan yang mereka miliki terletak pada bagian lidahnya. Panjang lidah bunglon ini bisa mencapai hingga dua kali lipat dari panjang total tubuh mereka sendiri. Lidah elastis tersebut dapat ditembakkan dengan kecepatan luar biasa untuk menangkap serangga yang terbang bebas di udara. Ujung lidah mereka juga dilengkapi dengan air liur yang sangat lengket sehingga mangsa tidak akan bisa meloloskan diri.

Kehadiran Trioceros jacksonii di dunia ini membuktikan betapa indahnya keanekaragaman hayati yang tercipta melalui proses evolusi yang panjang. Karakteristik unik mereka mulai dari tanduk dinosaurus hingga cara reproduksi yang tidak biasa selalu berhasil memukau para peneliti. Meskipun sangat menggemaskan, keberadaan mereka di luar habitat asli tetap memerlukan pengawasan ketat demi menjaga keseimbangan ekosistem bumi kita.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article