Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

4 Sistem Irigasi Kuno yang Cocok Diterapkan Saat El Nino Datang!

4 Sistem Irigasi Kuno yang Cocok Diterapkan Saat El Nino Datang!
Potret subak (pexels.com/Rev. Lisa j Winston)
Intinya Sih
  • Empat sistem irigasi kuno—Subak, Qanat, Aflaj, dan Waru-waru—dipandang relevan menghadapi dampak kekeringan akibat El Nino karena efisien mengatur dan menyimpan air.
  • Subak dari Bali menonjol lewat pengelolaan air kolektif dan pembagian bergilir yang hemat, sementara Qanat Persia memanfaatkan jalur bawah tanah untuk mengurangi penguapan.
  • Aflaj Oman menekankan aturan komunitas dalam distribusi air, sedangkan Waru-waru Andes menjaga kelembapan tanah melalui kanal penyimpan air di sekitar lahan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Saat El Nino datang, persoalan air biasanya ikut naik ke permukaan. Sawah cepat kering, tanah kehilangan kelembapan, dan petani dipaksa memutar otak agar lahan tetap produktif. Menariknya, jawaban atas krisis itu kadang bukan teknologi yang serba rumit, tetapi pengetahuan lama yang sudah teruji zaman. Di banyak peradaban kuno, air diatur dengan cerdik, hemat, dan disiplin—persis hal yang dibutuhkan saat musim kering memanjang. Nah, berikut adalah empat sistem irigasi kuno yang cocok diterapkan begitu El Nino akan melanda!

1. Subak

Subak
Subak (pexels.com/Tina P.)

Jika bicara soal irigasi kuno yang masih relevan hari ini, subak layak masuk daftar teratas. Sistem dari Bali ini bekerja lewat jaringan saluran, teras sawah, bendung kecil, dan aturan pembagian air yang dikelola bersama oleh para petani. UNESCO mencatat subak sudah berakar sejak abad ke-9, dan bertahan melalui pola pengelolaan air yang kolektif di tingkat lanskap, bukan sekadar petak sawah per petak sawah.

Yang bikin subak tepat ketika El Nino adalah logikanya yang hemat dan tertib. Air tidak dilepas liar ke semua lahan sekalian, melainkan diatur bergiliran sesuai kebutuhan, makanya pasokan yang terbatas bisa dibagi lebih panjang. Di lapangan modern, prinsip ini dapat diterapkan berdasarkan pembagian jadwal aliran, prioritas blok tanam, serta koordinasi antarpetani dalam satu hamparan.

2. Qanat

Qanat
Qanat (commons.wikimedia.org/Archipenzolo, Public domain)

Di wilayah kering seperti Iran dan sekitarnya, masyarakat kuno telah lama paham bahwa air paling aman disimpan dan dialirkan melintasi bawah tanah. Dari sanalah lahir qanat, yaitu sistem terowongan landai yang menyalurkan air dari sumber bawah tanah di daerah tinggi menuju lahan pertanian dan permukiman. Laman Britannica mencatat teknologi ini sudah berkembang sekitar 2.500 sampai 3.000 tahun lalu dan dipakai luas di kawasan kering.

Keunggulan qanat terasa pas menghadapi El Nino, sebab air yang bergerak di bawah permukaan akan lebih minim hilang akibat penguapan. Dibanding kanal terbuka yang gampang menyusut kala matahari galak, jalur tertutup lebih efisien bagi wilayah panas dan berangin. Tentu membangun qanat utuh ala Persia tidak selalu realistis di semua tempat, namun prinsipnya bisa diadopsi dengan menggunakan saluran tertutup, pipa gravitasi, atau tampungan resapan yang menyalurkan air perlahan ke kebun dan sawah.

3. Aflaj

Aflaj
Aflaj (flickr.com/Richard Mortel, CC BY 2.0) <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0/>

Kalau qanat terkenal di Persia, Oman punya kerabat dekat bernama aflaj. Sistem ini mengalirkan air dari mata air atau sumber bawah tanah ke kebun dan permukiman memakai gaya gravitasi, lalu dibagi dengan aturan komunitas yang ketat. UNESCO menyebut ada sekitar 3.000 sistem aflaj yang tetap berfungsi di Oman, dan jejak irigasi semacam ini bahkan diperkirakan hadir sejak sekitar 2500 SM di kawasan yang sangat kering.

Saat pasokan air sedikit, yang menentukan keberhasilan tidak melulu infrastruktur, tetapi tentang siapa yang dapat jatah, kapan dialirkan, dan berapa lama dipakai. Di daerah rawan El Nino, pola sejenis ini cocok diterapkan dengan sistem giliran irigasi yang transparan, pencatatan debit, serta kesepakatan warga tani, supaya air tidak disedot pihak yang lebih dekat ke sumber.

4. Waru-waru

Waru-waru
Waru-waru (commons.wikimedia.org/Alfredobi, Public domain)

Dari kawasan Danau Titicaca di Peru dan Bolivia, ada sistem kuno dengan bentuk sederhana bernama waru-waru. Teknik ini membentuk bedengan atau lahan tanam yang ditinggikan, lamtas diapit kanal-kanal air di kanan kiri. Dalam kajian ilmiah (Carrasco dkk. 2021), waru-waru mampu menjaga kelembapan tanah, menyimpan air selagi periode kering, dan mengatur drainase ketika curah hujan berlebihan. Sistem ini sampai direvitalisasi kembali, lantaran dinilai tangguh menghadapi gangguan iklim.

Untuk konteks El Nino, waru-waru menarik sebab air tidak harus terus mengalir deras setiap hari. Kanal di sekeliling lahan bekerja seperti “tabungan air” mini yang meresap perlahan ke area tanam, sehingga tanah tidak cepat kering walau hujan jarang turun. Konsep ini cukup mungkin diadaptasi di lahan hortikultura, sawah tadah hujan, hingga kebun pangan skala desa dengan membangun guludan tinggi plus parit simpan air.

Di tengah cuaca yang kian sulit diprediksi, cara-cara lama ternyata belum kehilangan taji. Ketika air jadi urusan paling berharga, sistem irigasi kuno ini mengajarkan satu hal penting: bertani dengan cerdas jauh lebih menentukan daripada hanya mengandalkan pasokan. Kalau dikelola dengan tepat, warisan teknik silam di atas bisa jadi jawaban yang relevan bagi tantangan pertanian hari ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More