Kalau sebagian besar burung hanya hidup berpasangan saat musim berkembang biak, apostlebird (Struthidea cinerea) justru memiliki cara hidup yang jauh lebih unik. Burung asli Australia ini terkenal karena kebiasaannya hidup berkelompok, bekerja sama membangun sarang, hingga merawat anak secara bersama-sama. Bahkan, ada perilaku ekstrem yang membuatnya menjadi salah satu burung dengan kehidupan sosial paling menarik di dunia. yuk kenalan lebih dekat dengannya lewat lima fakta apostlebird berikut!
5 Fakta Apostlebird, Burung dengan Kehidupan Sosial yang Unik

1. Burung endemik Australia
Apostlebird merupakan burung endemik Australia yang tersebar di wilayah pedalaman bagian timur. Persebarannya membentang dari kawasan mallee di Victoria utara dan Australia Selatan bagian timur, melintasi New South Wales dan Queensland bagian tengah-barat, hingga Gulf Country di utara Australia. Selain itu, terdapat satu populasi yang terisolasi di Northern Territory.
Habitat favoritnya adalah hutan terbuka yang kering (dry open woodland). Di New South Wales, burung ini banyak ditemukan di hutan yang didominasi pohon Callitris, sementara di Queensland lebih sering menghuni kawasan bervegetasi Casuarina. Adapun populasi di Northern Territory hidup di komunitas tumbuhan yang didominasi lancewood dan bulwaddi.
2. Namanya yang unik berasal dari perilakunya yang suka berkelompok
Apostlebird termasuk ke dalam anggota keluarga Corcoracidae. Burung ini memiliki panjang tubuh sekitar 33 sentimeter dengan bulu berwarna abu-abu gelap. Ekornya panjang dan tampak berkilau kehijauan saat terkena sinar matahari. Kepala, leher, dan dadanya berwarna abu-abu pucat, sedangkan sayapnya kecokelatan. Paruh dan kaki berwarna hitam, sementara matanya dapat berwarna cokelat atau putih.
Burung ini hampir tidak pernah hidup sendirian. Mereka biasanya bepergian dalam kelompok yang terdiri atas sekitar 12 individu. Kebiasaan tersebut membuat spesies ini dinamai "apostlebird", merujuk pada 12 rasul dalam Alkitab yang selalu bersama mengikuti Yesus. Karena celotehannya yang ramai, apostlebird juga dijuluki CWA bird, sebab suaranya dianggap mengingatkan masyarakat Australia pada suasana rapat Country Women's Association.
3. Seluruh anggota kelompok bergotong royong membesarkan anak
Apostlebird merupakan salah satu contoh terbaik sistem cooperative breeding pada burung. Dalam satu kelompok berkembang biak biasanya hanya terdapat satu pasangan induk yang menghasilkan keturunan. Anggota lainnya merupakan anak dari musim berkembang biak sebelumnya, kerabat, atau burung dewasa lain yang ikut membantu.
Semua anggota kelompok bekerja sama membangun sarang berbentuk mangkuk dari rumput yang direkatkan menggunakan lumpur, mengerami telur, mempertahankan sarang dari predator, hingga memberi makan anak-anak burung setelah menetas. Mereka juga menjaga kebersihan sarang sehingga peluang anak untuk bertahan hidup menjadi lebih tinggi.
Anak apostlebird bahkan tetap tinggal bersama kelompoknya hingga sekitar 200 hari, jauh lebih lama dibandingkan kebanyakan burung lain. Setelah dewasa, mereka akan menjadi "helper" yang membantu membesarkan adik-adiknya pada musim berkembang biak berikutnya.
4. Memiliki kehidupan sosial yang sangat dinamis
Kehidupan sosial apostlebird tidak selalu berlangsung dalam kelompok yang sama sepanjang tahun. Spesies ini menerapkan sistem fission-fusion, yaitu kelompok-kelompok kecil akan bergabung membentuk kawanan besar selama musim dingin, lalu kembali terpecah menjadi kelompok berkembang biak saat musim reproduksi tiba.
Setiap kelompok berkembang biak mempertahankan wilayah kecil di sekitar sarangnya dan jarang tumpang tindih dengan kelompok lain. Sebaliknya, pada musim dingin mereka menjelajahi area yang lebih luas dan bebas berinteraksi dengan kelompok lain. Fleksibilitas ini membantu mereka mencari makanan sekaligus mempertahankan ikatan sosial antaranggota.
5. Dikenal karena perilaku "menculik" anak burung
Fakta paling mengejutkan dari apostlebird adalah strategi mereka untuk mempertahankan jumlah anggota kelompok. Jika salah satu induk dominan mati atau jumlah burung pembantu terlalu sedikit, kelompok dapat kehilangan kesempatan berkembang biak dengan sukses.
Penelitian pada kerabat dekatnya, white-winged chough, menunjukkan bahwa kelompok burung pembuat sarang lumpur ini terkadang menyerbu kelompok tetangga dan membawa pergi anak burung yang baru meninggalkan sarang. Anak burung tersebut kemudian dirawat layaknya anggota keluarga sendiri hingga dewasa dan akhirnya membantu membesarkan generasi berikutnya. Meski terdengar seperti tindakan "penculikan", perilaku ini diperkirakan merupakan strategi evolusi untuk menambah jumlah anggota kelompok. Semakin banyak burung dewasa yang membantu merawat anak, semakin besar pula peluang keberhasilan reproduksi kelompok di masa depan.
Apostlebird membuktikan bahwa kehidupan sosial di dunia burung bisa jauh lebih kompleks daripada yang dibayangkan. Mulai dari bergotong royong membangun sarang, merawat anak secara bersama-sama, hingga memiliki strategi unik untuk mempertahankan ukuran kelompok, spesies asal Australia ini menjadi salah satu contoh paling menarik tentang pentingnya kerja sama dalam dunia satwa.
Curated For You
- 5 Fakta Whiteheads Trogon, Burung Langka Penghuni Hutan Borneo08 Jul 2026, 18:49 WIB
- 5 Fakta Scaly Breasted Kingfisher, Burung Langka dari Hutan Sulawesi22 Jun 2026, 17:49 WIB