Bagaimana AS Kehilangan Senjata Nuklir dalam Sejarahnya?

- Insiden Broken Arrow selama Perang Dingin mencakup kecelakaan senjata nuklir AS tanpa ledakan termonuklir, tetapi tetap memicu kehilangan bom, kerusakan, dan kontaminasi.
- Sejumlah senjata atau material nuklir AS hilang di laut, termasuk dekat British Columbia, Mediterania, Pulau Tybee, Laut Filipina, Atlantik, dan Palomares.
- Kecelakaan di Carolina Utara, Greenland, Spanyol, serta silo Titan II Arkansas menunjukkan bahan peledak konvensional dapat menyebabkan kerusakan serius meski hulu ledak nuklir tidak meledak.
Perang Dingin adalah masa-masa yang sangat tegang dalam sejarah. Sebab, dari akhir tahun 1940-an hingga runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, dua negara adidaya, Amerika Serikat dan Uni Soviet, terus-menerus berselisih dan saling menunggu pihak lain untuk memicu perang nuklir. Apalagi ini bukan perang konvensional. Alih-alih serangan darat atau pertempuran udara, jika Perang Dingin berubah menjadi perang terbuka, sudah pasti akan melibatkan peledakan beberapa persenjataan nuklir dunia.
Ada yang namanya Broken Arrow. Istilah militer ini merujuk pada kecelakaan yang melibatkan senjata nuklir, yang terjadi tanpa kesengajaan. Nah, hingga saat ini, belum melibatkan ledakan termonuklir yang sebenarnya. Namun, insiden tersebut mengakibatkan hilangnya enam bom nuklir, serta fragmentasi bom lainnya dan ledakan bahan peledak konvensional yang meratakan satu rumah di Carolina Selatan. Bagaimana penjelasannya?
1. Kecelakaan pesawat pengebom B-36B di pegunungan British Columbia pada tahun 1950

Pada Februari 1950, sebuah pesawat pengebom B-36B sedang melakukan latihan penerbangan dari Alaska ke Texas. Sebagai bagian dari latihan ini, Komando Udara Strategis telah meminjam senjata nuklir dari Komisi Energi Atom/Atomic Energy Commission untuk ditempatkan di pesawat, meskipun bom Mark IV yang mereka peroleh tidak memiliki pemicu plutonium. Uranium dan bahan peledak konvensionalnya (yang diperlukan untuk menjaga inti atom tetap utuh dan memastikan mencapai kritisitas) masih bisa menyebabkan banyak kerusakan, meskipun tidak akan sampai menghancurkan sebuah kota.
Saat B-36B terbang menembus udara dingin, es menumpuk di pesawat. Akibatnya, es ini memberatkan pesawat dan ngasih tekanan serius pada mesinnya, hingga tiga dari enam mesinnya terbakar dan dimatikan. Kemudian, pesawat pengebom tersebut mulai kehilangan ketinggian.
Nah, karena tidak ingin bom Mark IV jatuh ke tangan yang salah, awak pesawat lebih memilih untuk membuangnya di Samudra Pasifik. Sistem autopilot pesawat awalnya diatur untuk menjatuhkan bom tersebut ke laut, akan tetapi pesawat malah berbelok dan menabrak pegunungan British Columbia. Akibatnya, dari 17 awak pesawat, 12 orang selamat, sebagaimana yang dikutip History.
Ada teori konspirasi di balik tragedi ini. Teori ini menyatakan bahwa perancang senjata, Kapten Theodore Schreier, masih berada di dalam pesawat dan mencoba membawa pesawat kembali ke Alaska. Itu berarti, bom tersebut mungkin sudah mendarat di tanah Kanada. Namun, beberapa investigasi di lokasi kecelakaan di Gunung Kologet, tidak ditemukan bukti keberadaan senjata nuklir tersebut.
2. Hilangnya jet tempur yang membawa dua senjata nuklir

Menurut laporan Air & Space Forces Magazine, pada Maret 1956, sebuah pesawat pengebom B-47E Stratojet lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Macdill di Tampa, Florida. Pesawat ini ditugaskan untuk melakukan penerbangan tanpa henti ke Pangkalan Udara Ben Guerir di Maroko. Penerbangan jarak jauh ini akan dibantu oleh dua manuver pengisian bahan bakar di udara.
Pengisian bahan bakar pertama berlangsung sesuai rencana dan B-47E, dengan tiga awaknya, melanjutkan perjalanan. Namun, pertemuan kedua dengan pesawat tanker di udara tidak berjalan dengan baik. Diketahui bahwa B-47E sedang bersiap untuk pengisian bahan bakar kedua dengan turun menembus lapisan awan tebal hingga ketinggian 4.267 meter, di atas Laut Mediterania. Jarak pandang tidak terlalu bagus, tetapi, dengan dasar awan sekitar 4.419 meter, jet dan pesawat tanker pengisian bahan bakarnya seharusnya bisa saling melihat. Namun, B-47E tidak muncul-muncul.
Nah, yang lebih mengkhawatirkannya lagi adalah, B-47E membawa dua kapsul material senjata nuklir. Meskipun begitu, kapsul-kapsul tersebut berada dalam wadah dan belum dirakit menjadi bom. Terlepas dari pencarian besar-besaran dan laporan bahwa pesawat tersebut mungkin jatuh di dekat sebuah desa Aljazair di pesisir pantai, tapi tidak ada jejak pesawat atau tiga awaknya yang pernah ditemukan. Sejauh pengetahuan yang sangat terbatas, kedua wadah material nuklir tersebut jatuh bersama pesawat dan tenggelam bersama puing-puing pesawat lainnya.
3. Tabrakan udara di Pulau Tybee tahun 1958

Pada Februari 1958, sebuah pesawat pengebom B-47 bersiap melakukan misi pelatihan untuk menyerang Uni Soviet. Hanya saja, mereka berlatih di sebuah kota di Virginia sebagai pengganti Moskow. Pesawat tersebut juga membawa senjata nuklir Mark 15 yang asli. Hal ini dilakukan agar awak pesawat bisa merasakan bagaimana mengangkut bom seberat 3.448 kilogram selama berjam-jam waktu terbang, sebagaimana yang dijelaskan Super Sabre Society.
Semuanya tampak baik-baik saja hingga bagian terakhir perjalanan. Saat itu, dua pesawat B-47 dalam misi tersebut bertemu dengan penerbangan yang sedang melakukan latihan. Dalam kebingungan, pesawat B-47 yang membawa bom tersebut terkena tembakan. Jadi, meskipun masih di udara, pesawat tersebut harus melakukan pendaratan darurat sesegera mungkin. Hal itu mengharuskan pesawat melepaskan muatan beratnya, sehingga bom seberat 3,8 ton tersebut jatuh dari ketinggian 9.144 meter ke perairan dekat Pulau Tybee, tepat di sebelah timur Savannah, Georgia.
Untungnya, bom itu tidak meledak, tetapi muatannya berupa 181 kilogram bahan peledak ditambah sejumlah material nuklir yang tidak diketahui (beberapa orang menduga bahwa bom latihan itu sebenarnya berisi detonator plutonium, meskipun itu belum dikonfirmasi) membuat militer sangat ingin menemukannya. Upaya pencarian berlangsung selama lebih dari dua bulan, tetapi tidak ada yang ditemukan. Apa yang tersisa dari Bom Pulau Tybee Amerika, masih terkubur di suatu tempat di sedimen di lepas pantai Georgia.
4. Kecelakaan pesawat B-52 di Goldsboro tahun 1961 yang mengubur senjata nuklir

Dilansir PBS, pada bulan pertama tahun 1961, sebuah pesawat pengebom B-52 terbang di atas Goldsboro, Carolina Utara. Pesawat itu sedang menjalankan misi siaga udara yang bertujuan untuk menjaga sejumlah pesawat bersenjata nuklir agar tetap berada di udara, dan mengawasi agresi Uni Soviet. Pesawat ini merupakan pendahulu atau peserta awal dalam Operasi Chrome Dome, sebuah inisiatif Angkatan Udara AS yang aktif dari tahun 1961 hingga 1968. Awak pesawat diharapkan melakukan misi panjang ini selama 24 jam yang mencakup pemberhentian pengisian bahan bakar di udara.
Namun, ada masalah sayap di pesawat tersebut yang menyebabkan kegagalan struktural dan pelepasan muatan pesawat berupa dua senjata nuklir. Kedua bom tersebut memiliki parasut darurat, tetapi hanya satu yang mengembang dan membawa bomnya dengan selamat. Bom lainnya menghantam tanah dan hancur berkeping-keping, meskipun tidak meledak.
Angkatan Udara AS kesulitan menemukan semua bagiannya. Jadi, bagian yang mengandung uranium hilang dan harus tetap berada di Carolina Utara. Pemerintah AS membeli hak atas lahan di area tersebut dan melarang penggalian tanpa izin. Dokumen resmi menyatakan tidak ada bahaya radiasi di area tersebut.
5. Kecelakaan pesawat A-4E di Laut Filipina tahun 1965

Menurut U.S. Naval Institute, pada beberapa minggu terakhir tahun 1965, sebuah pesawat A-4E Skyhawk jatuh ke laut di dekat USS Ticonderoga, sebuah kapal induk yang ditempatkan di dekat Jepang di Laut Filipina. Di dalamnya terdapat pilot, Letnan Muda Douglas Webster, dan sebuah bom nuklir B43 dengan daya ledak satu megaton, yang saat itu merupakan daya ledak maksimum yang tersedia untuk senjata jenis itu. Pesawat itu seharusnya menjadi bagian dari latihan. Awak pesawat diminta untuk memuat bom, memindahkan pesawat ke dek penerbangan, dan kemudian mempersiapkannya seolah-olah jet tempur tersebut akan lepas landas.
Kemudian, pesawat malah berguling. Douglas Webster tampaknya melewatkan sinyal untuk mengerem. Jadi, meskipun anggota awak berusaha menghentikan pesawat dengan ganjal roda, pesawat terbalik dan jatuh ke laut. Kepala Bintara Delbert Mitchell dan yang lainnya berlari ke tepi dek. Mereka hanya bisa menyaksikan tanpa daya saat Skyhawk tenggelam.
Alhasil, pesawat, pilot, dan senjata termonuklirnya, diduga berada di dasar laut. Adapun, AS memutuskan untuk tetap bungkam. AS baru mengungkapkan insiden ini kepada Jepang pada tahun 1989, meskipun kejadian itu terjadi sekitar 321 kilometer di timur laut pulau selatan Okinawa.
6. Insiden Broken Arrow USS Scorpion yang masih misterius

Berdasarkan catatan resmi Departemen Pertahanan AS, ada sesuatu yang hilang di laut Atlantik pada musim semi tahun 1968. Selain itu, tertulis, "Detailnya tetap dirahasiakan." Kita bisa saja berasumsi bahwa sebuah kapal AS yang membawa senjata nuklir hilang di suatu tempat di Atlantik pada puncak Perang Dingin. Banyak juga yang memperhatikan bahwa tempat, waktu, dan kemampuan senjata sesuai dengan hilangnya USS Scorpion, sebuah kapal selam bertenaga nuklir yang hilang pada Mei 1968. Akibatnya, 99 awak dan setidaknya satu senjata nuklir tenggelam bersama kapal selam tersebut, menurut sumber internal (meskipun informasi resmi pemerintah belum begitu terbuka).
Pada Oktober tahun itu, sebagai bagian dari pencarian yang lebih besar tersebut malah mengarah pada penemuan bangkai kapal Titanic. Yap, sebuah kapal penelitian Angkatan Laut AS menemukan bagian-bagian kapal selam yang hilang sekitar 3.048 meter di tengah Atlantik, atau sekitar 643 kilometer barat daya Azores. Lokasi tersebut telah disurvei beberapa kali sejak saat itu. Meskipun tidak jelas apakah ada material nuklir yang telah ditemukan dari reruntuhan.
Mengenai penyebab tenggelamnya USS Scorpion, sebagian besar sumber sepakat bahwa tenggelamnya disebabkan oleh semacam kegagalan mekanis. Jadi bukan serangan dari Uni Soviet seperti yang dikhawatirkan AS. Meskipun mungkin semua kerahasiaan itu berkaitan dengan kekhawatiran AS bahwa beberapa kapal Rusia ingin tahu rahasia militer AS atau bahkan mengambjk senjata termonuklir dari dasar bangkai USS Scorpion.
7. Insiden hilangnya senjata nuklir B-47 di Mars Bluff tahun 1958

Bahkan ketika sebuah bom tidak berisi tombol plutonium murni sebagai pemicu, bahan peledak konvensional di dalam Broken Arrow masih bisa menyebabkan kerusakan serius, lho. Hal itu secara dramatis ditunjukkan pada Maret 1958, ketika sebuah pesawat pengebom B-47E Stratojet yang terbang di atas Florence, Carolina Selatan, secara tidak sengaja menjatuhkan senjata nuklirnya pada ketinggian 4.572 meter. Kejadian itu terjadi karena adanya mekanisme yang rusak dan kesalahan awak ketika navigator Bruce Kulka secara tidak sengaja menekan pin pelepas darurat saat memeriksa bom.
Bom tersebut memang tidak aktif, tetapi tetap menimbulkan bahaya serius saat jatuh. Untungnya, bom itu mendarat di Mars Bluff, daerah pedesaan dengan sedikit penduduk. Sayangnya, bom itu menghantam sangat dekat dengan rumah Walter Gregg dan keluarganya.
Entah bagaimana, semua orang selamat, tetapi banyak yang terhempas oleh kekuatan dahsyat ledakan bom tersebut. Beberapa terluka, sementara rumah keluarga Walter Gregg dan bangunan lain di dekatnya hancur. Lahan kebun didekatnya menjadi kawah sedalam lebih dari 6 meter dan selebar 15 meter.
Ella Davis Hudson baru berusia 9 tahun dan sedang bermain dengan sepupu-sepupunya dari keluarga Walter Greg. Ella sendiri tidak ingat ledakan itu, tetapi ia ingat luka di atas matanya, serta perjalanan panik ke rumah sakit dan staf medis yang mengacungkan alat pengukur radiasi (Geiger counter) di sekelilingnya. Sepupunya yang bernama Helen Gregg Holladay, ingat bahwa pesawat militer sering terbang di atas setelah kejadian tersebut untuk mengukur radiasi.
Adapun, Walter Gregg menggugat pemerintah atas insiden tersebut. Namun, dia hanya menerima 36.000 dolar AS atau setara dengan Rp650 juta. Uang itu tidak cukup untuk membangun rumahnya kembali. "Ayah saya menyimpan dendam itu sepanjang hidupnya," kata Helen Gregg Holladay kepada The Post and Courier.
8. Kecelakaan B-52 di Pangkalan Udara Thule tahun 1968

Pangkalan Udara Thule di Greenland diambil alih oleh pemerintah AS pada tahun 1951. Namun, itu adalah lokasi penting, memungkinkan pesawat untuk singgah dalam misi jarak jauh dan menampung sistem deteksi rudal. Bahkan sekarang, operasi tersebut—yang berganti nama menjadi Pangkalan Luar Angkasa Pituffik pada tahun 2023—masih dioperasikan oleh militer AS.
Pada Januari 1968, sebuah pesawat B-52 dalam misi siaga udara mengalami kebakaran di dalam kabin awak. Ketika pesawat mulai mendekati Pangkalan Udara Thule, awak pesawat melompat keluar. Dilaporkan bahwa enam orang selamat, tetapi anggota awak ketujuh terluka parah. Pesawat tak berawak itu jatuh ke lapisan es dengan empat senjata nuklir di dalamnya.
Menurut laporan resmi National Security Archive, bahan peledak konvensional senjata tersebut meledak. Namun, material nuklir tidak rusak dan laporan tahun 2001 menunjukkan bahwa paparan radiasi di Pangkalan Udara Thule berada dalam standar yang wajar. Tapi, beberapa pihak meragukan bahwa operasi pembersihan berjalan sempurna.
Evaluasi BBC terhadap dokumen pemerintah AS menunjukkan bahwa hanya tiga senjata yang ditemukan, dan senjata keempat—atau setidaknya sebagian darinya—mungkin masih tertanam di dalam es. Namun, jika ini benar, pemerintah AS kemungkinan kesulitan untuk mengambil sisa-sisa bom yang tertinggal.
9. Kecelakaan pesawat B-52F Stratofortress di Goldsboro pada tahun 1961

Dikutip PBS, salah satu insiden Broken Arrow bisa jauh lebih buruk jika bukan karena tindakan berani seorang pilot. Insiden itu terjadi pada tahun 1961, ketika sebuah pesawat pengebom B-52F Stratofortress yang membawa dua senjata nuklir sedang melakukan misi siaga udara. Kedua bom ini tidak sama dengan bom yang terlibat dalam kecelakaan Broken Arrow sebelumnya, yang seringkali kekurangan inti plutonium yang diperlukan jika ingin melakukan penghancuran skala penuh. Sebaliknya, setiap bom seberat 2.993 kilogram berisi inti komposit yang sepenuhnya tertutup rapat.
Namun, B-52 mulai mengalami berbagai masalah di awal penerbangan selama 24 jam yang direncanakan. Adapun, sistem pemanas pesawat tidak berfungsi dan panas berlebih pada elektronik ini memaksa awak pesawat untuk menurunkan tekanan kokpit. Hal ini akhirnya menyebabkan kerusakan instrumen dan gejala pada awak pesawat yang terkait dengan penurunan tekanan dan dehidrasi. Di sisi lain, pesawat tersebut tetap diperintahkan untuk terus terbang.
Kemudian, setelah 22 jam terbang, sambil menunggu pesawat tanker pengisian bahan bakar di udara, mesin kehabisan bahan bakar dan B-52 akhirnya mengalami kerusakan fatal. Sebagian besar awak pesawat harus terjun payung pada ketinggian 3.048 meter. Namun, komandan Mayor Raymond Clay memilih berada di dalam pesawat untuk mengarahkan pesawat menjauh dari daerah berpenduduk, dan baru terjun payung pada ketinggian 1.219 meter.
Semua awak pesawat selamat, tetapi pesawat tersebut jatuh di sebuah peternakan terpencil di California dan puing-puingnya, seperti bagian-bagian bom termonuklirnya, tersebar di area seluas 20 hektar. Untungnya, tim penyelamat menemukan bahwa bom-bom tersebut, meskipun rusak, belum meledak dan semua material radioaktif telah terkendali.
10. Desa di Spanyol secara tak sengaja terkena bom nuklir dalam kecelakaan Polarames

Insiden Palomares memang tidak menjadi masalah internasional, tapi insiden itu membahayakan sebuah desa terpencil di Spanyol selatan pada tahun 1966. Seperti yang dijelaskan BBC, insiden itu dimulai ketika sebuah pesawat pengebom B-52 AS sedang dalam misi siaga udara yang membawanya melintasi Eropa. Namun, ketika pesawat pengebom itu mulai mendekati pesawat pengisian bahan bakar, pilotnya kesulitan mengendalikan kecepatan pesawat dan menabrak pesawat lain. Alhasil, menewaskan empat awak di pesawat pengisian bahan bakar.
Di pesawat B-52, empat orang selamat, meskipun tiga lainnya tewas. Pesawat yang kini terbakar itu hancur berkeping-keping di atas desa Palomares. Juga, meninggalkan puing-puing yang hangus dan empat senjata termonuklir yang ada di dalamnya.
Untungnya, tidak ada seorang pun di darat yang terluka. Bahkan, penduduk di desa Spanyol itu langsung bergotong-royong untuk mengambil jenazah dan menyelamatkan para korban selamat. Sementara itu, nelayan menjemput tiga awak yang mendarat di Laut Mediterania terdekat. Di samping itu, personel Angkatan Udara AS segera tiba dan mengumpulkan puing-puing serta ribuan ton tanah lapisan atas yang terkontaminasi. Mereka juga menandai area yang terkena radiasi dan mencoba mengatasi salah satu tumpahan zat beracun terburuk dalam sejarah.
Namun, setelah seminggu, Angkatan Udara AS hanya menemukan tiga bom. Pada titik ini, Angkatan Laut AS bergabung dalam pencarian, setelah mendapat informasi dari nelayan yang mengaku melihat anggota kru lain tenggelam ke dalam air. Mereka menduga bahwa itu sebenarnya bom keempat. Setelah berbulan-bulan mencari, sebuah kapal selam akhirnya menemukan senjata tersebut dan diangkat ke ketinggian hampir 914 meter.
11. Ledakan rudal Titan di Damaskus, Arkansas pada tahun 1980

Dikutip Encyclopedia of Arkansas, hulu ledak termonuklir yang berada di dalam rudal di Kompleks Peluncuran Titan II 374-7 dekat Damascus, Arkansas, memiliki tinggi lebih dari 30 meter dan berat sekitar 149.685 kilogram, dengan bahan bakar yang cukup untuk membawa senjata sembilan megaton itu sejauh lebih dari 14.484 kilometer. Rudal Titan II sendiri sudah beroperasi selama lebih dari 20 tahun, tetapi komponennya bisa menyebabkan masalah, seperti ketika kebocoran bahan kimia pada tahun 1978 di kompleks Damascus yang mengharuskan evakuasi.
Insiden tahun 1980 dimulai ketika seorang teknisi perawatan yang sedang mengerjakan rudal menjatuhkan kunci inggris seberat 3,6 kilogram. Kunci inggris itu jatuh dan mengenai salah satu tangki bahan bakar Titan II. Akibatnya, bahan bakarnya mengalami kebocoran. Area tersebut pun kembali dievakuasi. Para pejabat khawatir jika ada percikan api yang bisa menyulut uap bahan bakar dan menyebabkan ledakan hulu ledak nuklir W-53 rudal tersebut. Tim dikirim untuk mengukur konsentrasi bahan bakar di dalam silo.
Beberapa jam setelah kecelakaan awal, dua penerbang sedang melakukan hal itu, tapi rudal tiba-tiba meledak. Salah satunya, Sersan Jeff K. Kennedy, terlempar sejauh 45 meter dan mengalami patah kaki. Ada pula Penerbang Senior David Livingston, yang mengalami luka fatal dan menjadi satu-satunya korban jiwa hari itu.
Hulu ledak tersebut terbang sekitar 30 meter, tetapi sebagian besar tetap utuh dan mengandung semua material radioaktifnya. Setelah operasi pembersihan di area seluas 400 hektar, Angkatan Udara AS menimbun silo dengan tanah dan puing-puing.
Amerika dan Uni Soviet berada dalam keadaan siaga tinggi saat Perang Dingin. Belum lagi, militer di kedua pihak mempersenjatai kapal selam, pesawat terbang, roket, dan lainnya dengan hulu ledak nuklir. Peluncuran yang tidak disengaja juga bisa menjadi kemungkinan yang sangat nyata. Ditambah lagi kecelakaan yang tidak disengaja bisa sangat mungkin terjadi.





















