5 Fakta Burung Manyar Tempua, si Penenun Pintar yang Ahli Beratraksi

- Burung manyar tempua dikenal karena kemampuan jantannya merajut sarang berbentuk kantong rumit untuk menarik pasangan, menggunakan serat daun dan rumput yang dikumpulkan ratusan kali.
- Spesies ini hidup berkelompok besar dengan pola terbang kompak, memakan biji-bijian serta serangga, dan membantu menjaga keseimbangan ekosistem meski sering dianggap hama oleh petani.
- Saat musim kawin, jantan berubah warna menjadi kuning cerah dan membangun koloni sarang untuk menarik betina; burung ini bersifat poligami dan berperan penting dalam budaya masyarakat Asia Selatan.
Burung manyar tempua (Ploceus philippinus), atau yang dikenal secara global sebagai Baya Weaver, adalah anggota keluarga Ploceidae yang tersebar di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Burung ini populer karena kemampuannya merajut sarang yang sangat rumit, sehingga dijuluki sebagai "burung penenun".
Meski sekilas terlihat seperti burung gereja biasa, manyar tempua memiliki keunikan yang luar biasa, mulai dari teknik membangun rumah hingga kehidupan sosialnya. Berikut adalah lima fakta menarik tentang manyar tempua.
1. Kemampuan membangun sarang berbentuk kantong

Kemampuan membangun sarang adalah ciri khas yang paling menonjol dari burung ini. Manyar jantan membangun sarang berbentuk kantong menggantung dengan pintu masuk berupa tabung panjang di bagian bawah. Untuk membuat satu sarang, burung jantan harus terbang bolak-balik sebanyak 500 kali guna mengumpulkan serat daun padi, rumput, atau serat palem sepanjang 20–60 cm.
Proses pembangunan ini juga menjadi cara menarik pasangan. Burung jantan akan membangun setengah bagian sarang terlebih dahulu untuk dipamerkan kepada betina. Jika burung betina setuju dan memilih sarang tersebut, barulah burung jantan akan menyelesaikan bagian tabung pintu masuknya.
2. Hidup berkelompok dan memiliki menu makanan beragam

Manyar tempua adalah hewan sosial yang selalu bergerak dalam kelompok besar. Saat terbang, mereka sering melakukan gerakan manuver yang kompak dan rapi.
Makanan utamanya adalah biji-bijian seperti padi dan rumput liar. Namun, saat sedang merawat anak-anaknya, burung ini juga memangsa serangga, kupu-kupu, katak kecil, cecak, hingga siput. Meski sering dianggap hama oleh petani karena memakan padi, mereka sebenarnya membantu mengendalikan populasi serangga di area persawahan.
3. Perubahan penampilan menjelang musim kawin

Pada hari biasa, manyar jantan dan betina sulit dibedakan karena keduanya memiliki bulu berwarna cokelat kusam dan paruh berwarna pucat. Namun, penampilan burung jantan akan berubah drastis saat memasuki musim kawin.
Mahkota kepalanya akan berubah menjadi kuning cerah, sementara bagian wajah dan tenggorokan menjadi hitam kecokelatan. Perubahan warna yang mencolok ini berfungsi untuk menarik perhatian betina sekaligus menandakan bahwa burung jantan siap bereproduksi.
4. Ritual perkawinan yang unik

Musim kawin manyar tempua biasanya terjadi pada musim hujan. Burung jantan akan membangun sarang dalam sebuah koloni yang terdiri dari 20 hingga 30 sarang di satu lokasi. Sambil bergelantungan di sarang yang belum selesai, jantan akan mengepakkan sayap dan berkicau nyaring untuk menarik betina.
Spesies ini bersifat poligami, di mana satu jantan dapat kawin dengan beberapa betina. Setelah betina memilih sarang, ia akan melapisi bagian dalamnya dengan lumpur. Di dalam sarang tersebut, betina biasanya bertelur sebanyak 2–4 butir yang akan menetas dalam waktu sekitar dua minggu.
5. Hubungan manyar tempua dengan manusia

Di beberapa wilayah di Asia Selatan, manyar tempua dikenal sebagai burung yang cerdas dan mudah dilatih. Mereka sering digunakan dalam pertunjukan tradisional untuk mengambil benda kecil, seperti koin, dari tangan penonton.
Di lingkungan masyarakat, burung ini sering membangun sarang di pohon dekat pemukiman atau bahkan di kabel telepon. Keberadaan mereka sering memicu reaksi berbeda, ada yang mengagumi keindahan sarangnya, namun ada pula petani yang mengusirnya karena dianggap merusak tanaman. Padahal, manyar tempua memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam sebagai pengendali hama serangga.


















