Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Coco de Mer, Buah Terberat di Dunia Dari Kepulauan Seychelles
Coco de Mer (unsplash.com/Bram Wouters)
  • Coco de Mer, palem Lodoicea maldivica endemik Seychelles, menghasilkan biji terbesar dan terberat di dunia, mencapai sekitar 25 kilogram dengan panjang hingga setengah meter.
  • Spesies ini secara alami hanya terdapat di Pulau Praslin dan Curieuse; dahulu bijinya yang terdampar di Maladewa, India, dan Sri Lanka memicu anggapan berasal dari dasar laut.
  • Buah Coco de Mer matang hingga tujuh tahun, pohonnya bereproduksi setelah lebih dari dua dekade, serta menopang satwa endemik dan ekosistem hutan palem Seychelles.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Coco de Mer merupakan buah dari pohon palem Lodoicea maldivica yang hanya ditemukan secara alami di Kepulauan Seychelles, Samudra Hindia. Tumbuhan ini telah lama menarik perhatian karena ukuran buah dan bijinya yang jauh lebih besar dibandingkan tanaman lain. Keberadaannya juga menjadi salah satu simbol alam paling terkenal di negara kepulauan tersebut.

Keunikan Coco de Mer tidak hanya terletak pada ukurannya yang luar biasa besar. Selama berabad-abad, buah ini bahkan pernah dianggap berasal dari dasar laut karena bijinya sering ditemukan terdampar di berbagai pantai Samudra Hindia. Dari ukuran raksasa hingga sejarah misteriusnya, berikut sejumlah fakta menarik tentang Coco de Mer.

1. Memiliki biji terbesar dan terberat di dunia

Coco de Mer (commons.wikimedia.org/Reed Wiedower)

Menurut Royal Botanic Gardens Kew, Coco de Mer menghasilkan biji terbesar dan terberat di dunia. Berat bijinya dapat mencapai sekitar 25 kilogram dengan panjang hingga setengah meter. Ukuran tersebut menjadikannya pemegang rekor di antara seluruh tumbuhan yang masih hidup saat ini.

Dilansir dari UNESCO, Coco de Mer juga dikenal sebagai tumbuhan dengan biji terbesar di kingdom plantae. Rekor tersebut membuat spesies ini menjadi salah satu daya tarik ilmiah dan wisata yang paling terkenal di Kepulauan Seychelles. Keunikan ukurannya telah lama menarik perhatian peneliti maupun masyarakat umum.

2. Hanya tumbuh alami di dua pulau Seychelles

Coco de Mer (commons.wikimedia.org/Remi Jouan)

Berdasarkan penjelasan Missouri Botanical Garden, Coco de Mer merupakan tumbuhan endemik yang secara alami hanya ditemukan di Pulau Praslin dan Pulau Curieuse di Seychelles. Pohon palem ini dapat tumbuh sangat tinggi dengan batang lurus dan mahkota berupa pelapah berukuran besar. Persebaran yang sangat terbatas membuatnya menjadi spesies yang istimewa.

Melansir Seychelles Broadcasting Corporation yang mengutip Seychelles Islands Foundation, populasi alami Coco de Mer memang berpusat di dua pulau tersebut. Keterbatasan wilayah sebaran menjadi salah satu alasan pentingnya upaya konservasi terhadap spesies ini. Habitat aslinya juga menjadi rumah bagi berbagai organisme khas Seychelles.

3. Pernah dianggap berasal dari dasar laut

Coco de Mer (commons.wikimedia.org/Chb)

Menurut UNESCO, Coco de Mer dahulu dipercaya tumbuh di kedalaman laut. Keyakinan itu muncul karena buah atau bijinya sering ditemukan di pantai tanpa ada yang mengetahui asal pohonnya. Misteri tersebut bertahan selama bertahun tahun sebelum sumber aslinya berhasil ditemukan.

Dilansir dari Missouri Botanical Garden, selama berabad-abad tanaman ini hanya dikenal melalui bijinya yang terdampar di Maladewa, India, hingga Sri Lanka. Dari fenomena itulah muncul nama Coco de Mer yang berarti kelapa laut. Pohon yang menghasilkan biji misterius tersebut baru diketahui keberadaannya di Seychelles pada abad ke-18.

4. Buahnya membutuhkan waktu sangat lama untuk matang

Coco de Mer (commons.wikimedia.org/dronepicr)

Menurut Missouri Botanical Garden, buah Coco de Mer memerlukan waktu hingga tujuh tahun untuk mencapai kematangan penuh. Proses perkembangan yang sangat lambat ini berbeda dibandingkan banyak tumbuhan lain yang menghasilkan buah dalam waktu jauh lebih singkat. Karakteristik tersebut menjadi salah satu ciri khas spesies ini.

Pohon ini juga tumbuh sangat lambat dan membutuhkan lebih dari dua dekade untuk mencapai usia reproduktif. Sementara itu, Seychelles Broadcasting Corporation menyebutkan bahwa pohon Coco de Mer dapat mencapai kematangan ketika usianya puluhan tahun dan diperkirakan mampu hidup lebih dari dua abad. Siklus hidup yang panjang membuat regenerasinya berlangsung secara perlahan.

5. Memiliki peran penting bagi ekosistem Seychelles

Coco de Mer (commons.wikimedia.org/Dreizung)

Menurut Missouri Botanical Garden, Coco de Mer menyediakan tempat berlindung dan sumber daya bagi sejumlah satwa endemik Seychelles. Beberapa di antaranya adalah burung nuri hitam Seychelles, burung bulbul Seychelles, dan beberapa spesies tokek. Kehadiran pohon ini membantu menopang kehidupan berbagai spesies lokal.

Hutan palem yang didominasi Coco de Mer di Vallée de Mai merupakan ekosistem unik dengan proses alami seperti penyerbukan, penyebaran biji, dan siklus nutrien yang khas. Kawasan tersebut juga menjadi habitat bagi berbagai hewan endemik yang bergantung pada lingkungan hutan palem. Karena nilai ekologisnya yang tinggi, Coco de Mer dianggap sebagai spesies penting dalam keanekaragaman hayati Seychelles.

Coco de Mer merupakan salah satu tumbuhan paling unik di dunia karena menghasilkan biji terbesar yang pernah diketahui. Spesies endemik Seychelles ini memiliki sejarah yang unik, siklus hidup yang sangat lambat, serta peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan palem tropis. Kombinasi karakteristik tersebut menjadikan Coco de Mer sebagai salah satu keajaiban alam yang paling menarik untuk dipelajari.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article