Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Common Parasol, Capung Tropis dengan Sayap Merah Menawan

5 Fakta Common Parasol, Capung Tropis dengan Sayap Merah Menawan
capung neurothemis fluctuans (commons.wikimedia.org/Charles J. Sharp)
Intinya Sih
  • Common Parasol adalah capung tropis dari keluarga Libellulidae dengan sayap merah mencolok pada jantan dan warna lebih pucat pada betina, menunjukkan dimorfisme seksual yang jelas.
  • Spesies ini tersebar luas di Asia, termasuk Indonesia dan Jepang, hidup di sekitar perairan tenang seperti kolam, rawa, serta sawah yang mendukung siklus hidupnya dari larva hingga dewasa.
  • Sebagai predator alami, Common Parasol membantu mengendalikan populasi serangga kecil seperti nyamuk dan lalat, menjaga keseimbangan ekosistem perairan melalui perannya di tahap larva maupun dewasa.
  • Common Parasol adalah capung tropis dari keluarga Libellulidae dengan sayap merah mencolok pada jantan dan warna lebih pucat pada betina, menunjukkan dimorfisme seksual yang jelas.
  • Spesies ini tersebar luas di Asia, termasuk Indonesia dan Jepang, hidup di sekitar perairan tenang seperti kolam, rawa, serta sawah yang mendukung siklus hidupnya dari larva hingga dewasa.
  • Sebagai predator alami, Common Parasol membantu mengendalikan populasi serangga kecil seperti nyamuk dan lalat, menjaga keseimbangan ekosistem perairan melalui perannya di tahap larva maupun dewasa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Capung Common Parasol merupakan salah satu spesies capung yang cukup mudah ditemukan di kawasan Asia tropis. Serangga ini dikenal karena warna sayapnya yang mencolok, terutama pada capung jantan yang memiliki warna merah atau cokelat kemerahan. Keindahan warnanya membuat spesies ini sering menarik perhatian para pengamat serangga dan pecinta alam.

Spesies ini termasuk dalam keluarga Libellulidae, salah satu kelompok capung terbesar di dunia. Common Parasol biasanya ditemukan di sekitar perairan seperti kolam, rawa, dan sawah. Berikut 5 fakta menarik capung tropis dengan sayap merah menawan.

1. Memiliki sayap merah yang mencolok

Capung Neurothemis fluctuans
capung neurothemis fluctuans (inaturalist.org/David Roche)

Salah satu ciri paling khas dari Common Parasol adalah warna sayapnya yang mencolok. Mars Project menyebutkan bahwa capung jantan memiliki sayap berwarna merah atau cokelat kemerahan dengan bagian ujung yang lebih transparan. Warna ini membuatnya mudah dikenali ketika sedang terbang atau bertengger di sekitar air.

Sementara itu, capung betina memiliki warna yang lebih pucat dibandingkan jantan. Sayap betina biasanya berwarna kecokelatan atau kekuningan dengan pola yang lebih sederhana. Perbedaan warna ini merupakan bentuk dimorfisme seksual yang cukup umum pada banyak spesies capung.

2. Tersebar luas di kawasan Asia

Capung Neurothemis fluctuans
capung neurothemis fluctuans (inaturalist.org/praveen pandian)

Common Parasol memiliki wilayah persebaran yang cukup luas di Asia. IUCN Red List menyebutkan bahwa spesies ini dapat ditemukan di berbagai negara seperti India, Thailand, Indonesia, hingga Jepang. Penyebaran yang luas tersebut menunjukkan kemampuan adaptasi spesies ini terhadap berbagai lingkungan tropis dan subtropis.

Capung ini biasanya ditemukan di daerah yang memiliki sumber air yang cukup. Area seperti sawah, kolam, rawa, dan parit sering menjadi tempat hidup favoritnya. Keberadaan air sangat penting karena capung berkembang biak dengan meletakkan telur di lingkungan perairan.

3. Sering terlihat di habitat air tenang

Capung Neurothemis fluctuans
capung neurothemis fluctuans (inaturalist.org/neilatnericon)

Common Parasol biasanya hidup di habitat perairan yang relatif tenang. India Biodiversity Portal menyebutkan bahwa kolam kecil, rawa, atau sawah menjadi tempat yang sering dihuni oleh spesies ini. Lingkungan tersebut menyediakan kondisi yang cocok untuk perkembangan larva capung.

Larva capung hidup di dalam air dan merupakan predator bagi berbagai organisme kecil. Mereka memangsa larva serangga lain, termasuk larva nyamuk. Setelah mengalami beberapa tahap perkembangan, larva kemudian keluar dari air dan berubah menjadi capung dewasa.

4. Memiliki perilaku bertengger yang khas

Capung Neurothemis fluctuans
capung neurothemis fluctuans (inaturalist.org/stuartmalcolm)

Capung Common Parasol sering terlihat bertengger di ujung rumput, ranting, atau tanaman yang berada di dekat air. Dilansir etawau.com, dari posisi tersebut, capung dapat mengawasi area sekitarnya untuk mencari mangsa. Perilaku ini juga membantu capung menghemat energi saat tidak sedang terbang.

Ketika ada serangga kecil yang lewat, capung akan segera terbang untuk menangkap mangsanya. Setelah itu, capung biasanya kembali ke tempat bertengger yang sama. Kebiasaan ini membuat spesies ini cukup mudah diamati oleh para pengamat serangga.

5. Berperan penting dalam mengendalikan serangga

Capung Neurothemis fluctuans
capung neurothemis fluctuans (inaturalist.org/尤冠智 (Yu Kuan Chih))

Seperti banyak capung lainnya, Common Parasol merupakan predator yang efektif bagi serangga kecil. Mereka sering memangsa nyamuk, lalat kecil, dan berbagai serangga lainnya yang terbang di sekitar perairan. Hal ini membuat capung berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Selain capung dewasa, larva capung juga merupakan predator aktif di dalam air. Larva tersebut memangsa berbagai organisme kecil yang hidup di perairan. Dengan peran ini, capung membantu mengendalikan populasi serangga dan menjaga ekosistem perairan tetap seimbang.

Common Parasol merupakan capung tropis yang menarik dengan warna sayap yang mencolok dan perilaku mudah diamati. Spesies ini juga memiliki peran penting dalam ekosistem sebagai predator serangga. Dengan penyebaran yang luas di Asia, capung ini menjadi salah satu spesies yang cukup dikenal di lingkungan perairan tropis.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More