Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

3 Hal yang Lebih Penting dari Memindahkan Kereta Khusus Perempuan

3 Hal yang Lebih Penting dari Memindahkan Kereta Khusus Perempuan
ilustrasi KRL (pexels.xom/Qeis Ismail)

Kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Bekasi kembali memunculkan perhatian publik terhadap keselamatan transportasi kereta. Peristiwa ini tidak hanya dibahas dari sisi teknis, tetapi juga dari aspek perlindungan penumpang di ruang publik. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, kemudian menyoroti pentingnya keamanan perempuan dalam transportasi umum. Salah satu ide yang muncul ialah penataan ulang kereta khusus perempuan di dalam rangkaian KRL.

Usulan ini memicu diskusi di ruang publik karena dianggap sebagai respons langsung terhadap isu keselamatan. Namun, di balik perdebatan tersebut, muncul pertanyaan yang lebih besar, apakah ini benar-benar solusi utama atau ada hal lain yang lebih penting untuk dilakukan dalam sistem transportasi kereta? Berikut beberapa hal yang lebih krusial daripada sekadar memindahkan kereta khusus perempuan yang harus dilakukan oleh pemerintah.

1. Pengendalian kepadatan penumpang (crowding control)

ilustrasi penumpang KRL
ilustrasi penumpang KRL (pexels.com/Abud Suryo)

Salah satu hal yang lebih penting dalam keselamatan transportasi kereta ialah pengendalian kepadatan penumpang atau crowding control. Di Jakarta, kondisi ini sangat terasa, terutama di stasiun-stasiun transit, seperti Stasiun Manggarai dan Stasiun Tanah Abang, dengan kepadatan luar biasa pada jam berangkat serta pulang kerja. Pada jam-jam tersebut, penumpang bisa berdesakan di peron maupun di dalam KRL karena arus perjalanan yang menumpuk pada waktu bersamaan.

Situasi seperti ini bukan hanya membuat tidak nyaman, tetapi juga bisa memengaruhi rasa aman penumpang saat berada di ruang yang sangat penuh. Berdasarkan studi yang terbit dalam jurnal Transportation Research Part A: Policy and Practice pada 2013, kepadatan penumpang memiliki dampak langsung terhadap kenyamanan dan persepsi keselamatan dalam transportasi publik. Studi tersebut juga menjelaskan bahwa efek kepadatan ini terjadi di berbagai titik perjalanan, mulai dari stasiun hingga di dalam kereta. Artinya, masalahnya ada pada pengelolaan arus penumpang secara keseluruhan, bukan pada satu kereta tertentu. Oleh karena itu, pengendalian kepadatan menjadi kunci yang lebih penting dibanding hanya mengubah posisi kereta khusus perempuan.

2. Penguatan pengawasan dan respons cepat dalam sistem kereta

ilustrasi KRL
ilustrasi KRL (pexels.com/Maaule Cheeds)

Penguatan pengawasan dan respons cepat menjadi salah satu kunci utama dalam keselamatan sistem transportasi kereta. Sistem kereta modern bekerja dengan bantuan sinyal yang mengatur kapan dan bagaimana setiap kereta boleh bergerak di jalur tertentu. Sistem ini juga terhubung dengan pusat kendali yang memantau pergerakan kereta secara terus-menerus.

Dilansir Rail System, sistem communications-based train control (CBTC) memungkinkan komunikasi real-time antara kereta dan pusat kontrol untuk menjaga keamanan perjalanan. Dalam beberapa kasus kecelakaan kereta, termasuk yang terjadi di jalur padat seperti KRL dan KA jarak jauh, gangguan pada sistem sinyal atau signal error sering menjadi salah satu faktor yang diduga berperan. Ketika sistem sinyal tidak bekerja optimal, informasi posisi kereta bisa terlambat atau tidak terbaca dengan akurat.

Kondisi ini membuat respons pengaturan perjalanan menjadi tidak secepat yang seharusnya. Itulah kenapa keselamatan tidak hanya bergantung pada desain kereta atau posisi kereta, tetapi juga pada keandalan sistem pengawasan dan sinyal yang bekerja di belakangnya. Pemerintah seharusnya lebih memperhatikan hal ini daripada memindahkan kereta khusus perempuan di KRL.

3. Desain sistem transportasi yang menyeluruh

ilustrasi KRL
ilustrasi KRL (pexels.com/iqhtiar Ap)

Hal lain yang tak kalah penting dalam keselamatan transportasi kereta ialah bagaimana sistemnya dirancang sebagai satu kesatuan yang utuh. Kereta tidak hanya terdiri dari satu bagian, tetapi merupakan gabungan dari banyak elemen yang saling terhubung, seperti teknologi, manusia, dan proses operasional. Berdasarkan studi yang terbit dalam jurnal Proceedings of the Institution of Mechanical Engineers Part F: Journal of Rail and Rapid Transit pada 2007, sistem perkeretaapian dipahami sebagai socio-technical system.

Artinya, keselamatan tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada interaksi antara manusia dan sistem yang ada. Studi tersebut menekankan bahwa perubahan di satu bagian sistem dapat memengaruhi bagian lainnya secara keseluruhan. Karena itu, masalah keselamatan tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengubah satu elemen, seperti posisi kereta.

Pendekatan yang dibutuhkan ialah melihat bagaimana seluruh sistem bekerja bersama secara terintegrasi. Tanpa itu, perbaikan kecil tidak selalu cukup untuk meningkatkan keselamatan secara menyeluruh. Keselamatan transportasi kereta pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh satu kebijakan atau perubahan kecil, tetapi oleh bagaimana seluruh sistem bekerja secara menyeluruh. Menurutmu, langkah apa yang seharusnya lebih diprioritaskan pemerintah untuk benar-benar meningkatkan keamanan penumpang di KRL?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us

Related Articles

See More

4 Fakta Ilmiah tentang Cara Anjing Mengingat Perintah

30 Apr 2026, 20:15 WIBScience