Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Common Rose, Spesies Kupu-Kupu Cantik Tapi Beracun!
Common Rose (Pachliopta aristolochiae). (commons.wikimedia.org/Tisha Mukherjee)
  • Common Rose adalah kupu-kupu Papilionidae berwarna merah mencolok, berukuran kecil dengan rentang sayap kurang dari 30 mm; betinanya lebih besar dan bersayap depan lebih bulat.
  • Spesies ini tersebar dari Sri Lanka hingga Filipina, menghuni hutan terbuka dan area budidaya, serta memanfaatkan Aristolochia sebagai tanaman inang dan bunga Lantana sebagai sumber makanan.
  • Racun dari tanaman Aristolochia diserap sejak fase ulat, membuatnya tidak disukai predator namun umumnya tidak fatal bagi manusia; coraknya juga ditiru kupu-kupu lain melalui mimikri Batesian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Common Rose (Pachliopta aristolochiae) adalah kupu-kupu dari keluarga Papilionidae yang mudah dikenali lewat warna merah menyala di tubuhnya. Serangga cantik ini banyak ditemukan di berbagai wilayah di benua Asia. Kehadiran mereka sering memperindah pemandangan di taman-taman terbuka.

Di balik keindahannya, hewan ini menyimpan racun alami dari tanaman yang dimakannya sejak fase ulat. Racun tersebut membuat tubuh mereka tidak enak bagi pemangsa. Cara inilah yang membantu kupu-kupu Common Rose bertahan hidup di alam liar.

Yuk, langsung baca artikel ini untuk tahu lebih banyak fakta unik dan menarik tentang kupu-kupu Common Rose!

1. Kupu-kupu betina ukuran tubuhnya lebih besar daripada jantan

Common Rose (Pachliopta aristolochiae). (commons.wikimedia.org/Arky1993)

Dilansir Dilmah Conservation, kupu-kupu Common Rose memiliki ukuran tubuh yang tergolong kecil dengan rentang sayap kurang dari 30 mm. Meskipun jantan dan betinanya tampak mirip, sang betina mempunyai ukuran yang lebih besar dengan ujung sayap depan yang lebih bulat. Bagian kepala, dada, dan perutnya selalu dihiasi bercak merah yang berukuran sedikit lebih kecil pada betina.

Pada bagian sayap depan terdapat hiasan bercak putih yang membentuk pola rapi di antara urat-urat sayapnya. Sementara itu, sayap belakangnya memiliki pinggiran luar yang bergerigi dengan bagian bawah yang memanjang membentuk ekor. Di bagian tersebut juga terdapat deretan bercak merah muda berbentuk bulan sabit serta bercak putih yang variasi ukurannya bisa berbeda-beda pada setiap individu.

2. Banyak ditemukan di kawasan hutan terbuka

Common Rose (Pachliopta aristolochiae). (commons.wikimedia.org/Vis M)

Dilansir National Parks Board (NParks), kupu-kupu Common Rose tersebar luas mulai dari Sri Lanka, India, Tiongkok Tengah, hingga wilayah Malaysia, Singapura, dan Filipina. Secara alami, hewan ini merupakan spesies penghuni hutan yang banyak ditemukan di kawasan hutan terbuka. Mereka juga sering mendatangi area budidaya untuk mencari makan.

Kehadiran kupu-kupu ini di sekitar area budidaya biasanya berkaitan dengan tanaman inang utamanya yaitu Aristolochia acuminata. Baik jantan maupun betina juga gemar mencari makan dari bunga tanaman lain seperti Lantana camara. Tanaman berbunga tersebut menjadi sumber makanan favorit yang sangat mereka sukai.

3. Tubuhnya beracun, tapi tidak berbahaya bagi manusia

Ulat kupu-kupu Common Rose (Pachliopta aristolochiae). (commons.wikimedia.org/Sarpitabose)

Dilansir Picture Insect, kupu-kupu Common Rose memiliki sistem pertahanan tubuh yang sangat unik karena mengandung racun alami sejak masih berupa ulat. Saat fase larva, mereka memakan berbagai jenis tanaman sirih-sirihan seperti Aristolochia indica dan Aristolochia tagala untuk menyerap racunnya. Senyawa beracun tersebut tetap terbawa di dalam tubuh mereka bahkan setelah berubah menjadi kupu-kupu dewasa.

Kandungan racun ini membuat tubuh kupu-kupu Common Rose terasa sangat tidak enak dan berbahaya bagi para hewan pemangsa. Meskipun racun tersebut dapat memicu reaksi toksik yang parah bagi hewan penyerangnya, zat ini umumnya tidak berakibat fatal bagi manusia. Cara alami inilah yang membuat kupu-kupu ini lebih aman dari ancaman predator di alam liar.

4. Menjadi model untuk mimikri batesian

Common Rose (Pachliopta aristolochiae) yang baru muncul, tergantung di samping kepompongnya yang kosong. (commons.wikimedia.org/Sarpitabose)

Dilansir Cornell Chronicle, kupu-kupu betina dari genus Papilio memiliki kemampuan unik bernama mimikri Batesian untuk meniru corak kerabatnya yang beracun seperti Common Rose. Kemampuan menyamar ini membuat para burung pemangsa enggan mendekat karena mengira kupu-kupu tersebut sama berbahayanya. Berkat penyamaran ini, kupu-kupu betina yang meniru warna tersebut memiliki peluang hidup yang jauh lebih tinggi di alam liar.

Penelitian menunjukkan bahwa perubahan pola sayap yang menakjubkan ini dikendalikan oleh variasi dari satu gen tunggal bernama doublesex. Gen tunggal tersebut mampu mengubah seluruh bentuk dan warna sayap secara bersamaan agar penyamaran terlihat sempurna. Tanpa adanya gen pengendali khusus ini, perubahan sayap tidak akan terbentuk dengan baik sehingga gagal mengecoh predator.

5. Gemar terbang lambat tetapi stabil

Common Rose (Pachliopta aristolochiae). (commons.wikimedia.org/Tisha Mukherjee)

Dilansir Dilmah Conservation, kupu-kupu Common Rose umumnya gemar terbang di ketinggian sedang dengan kepakan sayap yang lambat tetapi stabil. Gerakan mereka akan menjadi lebih tinggi ketika sedang mencari bunga atau melakukan perjalanan migrasi. Selain itu, serangga cantik ini juga sering terlihat mendatangi area genangan lumpur untuk mencari nutrisi tambahan.

Pola terbang yang tenang dan tidak terburu-buru tersebut mencerminkan rasa percaya diri yang tinggi di alam liar. Hal ini karena mereka sadar tubuhnya sudah dilindungi oleh racun alami dari tanaman yang dimakannya sejak kecil. Alhasil, hewan pemangsa cenderung berpikir dua kali sebelum mendekati mereka.

Warna yang mencolok, pertahanan diri yang unik, serta cara terbang yang anggun membuat kupu-kupu Common Rose jadi keajaiban alam yang keren banget. Kenal lebih dekat dengan kehidupan serangga beracun ini pastinya bikin kita makin takjub tentang betapa hebatnya cara makhluk hidup menjaga kelestariannya di alam liar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article