Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Kiwikiu, Burung Endemik Hawaii yang Berada di Ambang Kepunahan
Burung kiwikiu atau Maui parrotbill (commons.wikimedia.org/Zach Pezzillo)
  • Kiwikiu adalah burung endemik Hawaii dengan ciri khas alis kuning dan paruh tebal mirip nuri, hasil adaptasi untuk mencari serangga di balik kulit kayu.
  • Spesies ini bersifat monogami dan memiliki tingkat reproduksi sangat rendah, hanya menghasilkan satu anak setiap satu hingga dua tahun.
  • Populasi kiwikiu kini diperkirakan tinggal sekitar 150 ekor di Pulau Maui akibat perusakan habitat, penyakit malaria, dan predator pendatang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kepulauan Hawaii dikenal sebagai salah satu laboratorium evolusi paling unik di dunia. Letaknya yang terisolasi ribuan kilometer dari daratan membuat tumbuhan dan satwa di kepulauan ini berevolusi secara terpisah selama jutaan tahun hingga melahirkan ratusan spesies endemik. Sayangnya, banyak di antaranya kini berada di ambang kepunahan, termasuk kiwikiu (Pseudonestor xanthophrys).

Burung kecil dari kelompok honeycreeper ini memiliki penampilan yang cukup unik. Paruhnya sekilas menyerupai burung nuri, sehingga ia juga dikenal dengan nama Maui parrotbill. Namun, di balik bentuk paruhnya yang tak biasa, kiwikiu menyimpan banyak keunikan lain yang membuatnya berbeda dari burung Hawaii lainnya. Penasaran kan? Yuk, kenalan lebih dekat dengan kiwikiu lewat lima faktanya berikut ini!

1. Dijuluki si alis kuning

Burung kiwikiu atau Maui parrotbill (commons.wikimedia.org/John Gerrard Keulemans)

Kiwikiu merupakan anggota keluarga Fringillidae dengan panjang tubuh sekitar 12–15 sentimeter. Bulu tubuhnya didominasi warna hijau zaitun yang dipadukan dengan bagian bawah tubuh berwarna kuning pucat. Ciri paling mencoloknya adalah garis kuning terang di atas mata yang menyerupai alis. Keunikan tersebut bahkan tercermin dalam nama ilmiahnya, xanthophrys, yang berarti "alis kuning".

Selain itu, kiwikiu juga menunjukkan dimorfisme seksual yang cukup jelas. Burung jantan memiliki tubuh dan paruh yang lebih besar serta warna kuning yang lebih mencolok dibandingkan betina. Sementara itu, individu muda memiliki warna yang lebih kusam dengan garis keputihan di atas mata.

2. Memiliki paruh yang lebih mirip burung nuri

Jika melihatnya sekilas, banyak orang mungkin akan mengira kiwikiu sebagai kerabat burung nuri. Padahal, spesies ini merupakan anggota kelompok honeycreeper, bukan nuri. Dibandingkan honeycreeper lain yang umumnya memiliki paruh ramping dan melengkung, kiwikiu justru memiliki paruh yang tebal dan kuat.

Paruh bagian atasnya melengkung tajam ke bawah seperti paruh nuri, sedangkan paruh bawahnya lurus dan kokoh. Bentuk tersebut merupakan hasil adaptasi terhadap kebiasaan makannya. Sebagai burung insektivora, kiwikiu menggunakan paruh atas untuk mencungkil kulit kayu, sementara paruh bawah berfungsi membelah kayu lapuk atau membuka buah yang menyimpan larva dan serangga. Karena keunikan inilah burung ini mendapat julukan Maui parrotbill.

3. Hewan monogami yang memiliki tingkat reproduksi yang rendah

Burung kiwikiu atau Maui parrotbill (commons.wikimedia.org/Hiart)

Di alam liar, kiwikiu dikenal sebagai burung monogami yang hanya memiliki satu pasangan. Ikatan pasangan tersebut dapat bertahan seumur hidup. Sayangnya, kesetiaan tersebut tidak diimbangi dengan tingkat reproduksi yang tinggi. Sepasang kiwikiu umumnya hanya menghasilkan satu anak setiap satu atau dua tahun sekali. Bahkan, jika mereka berhasil membesarkan seekor anak pada satu musim berkembang biak, pasangan tersebut biasanya tidak akan kembali bersarang pada tahun yang sama. Laju reproduksi yang lambat inilah yang membuat populasinya sangat sulit pulih ketika mengalami penurunan.

4. Anak kiwikiu butuh waktu lama untuk belajar mencari makan

Sebagian besar burung kecil akan mandiri beberapa minggu setelah meninggalkan sarang. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi kiwikiu. Burung muda dapat tetap hidup bersama induknya selama lima hingga 17 bulan sebelum benar-benar mandiri.

Waktu belajar yang panjang ini diperlukan karena mencari makan bukanlah pekerjaan mudah. Anak kiwikiu harus mempelajari berbagai teknik menggunakan paruhnya, mulai dari mencungkil kulit kayu, membelah kayu lapuk, hingga mencari larva yang tersembunyi di dalam batang atau buah. Tak heran jika di alam liar, kiwikiu sering terlihat bergerak dalam kelompok keluarga kecil.

5. Populasinya kritis, kini diperkirakan tinggal sekitar 150 ekor

Kiwikiu kini hanya ditemukan di Pulau Maui, Hawaii (commons.wikimedia.org/Historynerd2)

Keberadaan kiwikiu tidak lagi mudah dijumpai di Hawaii. Awalnya, burung ini dapat dijumpai di dua pulau, yaitu Maui dan Moloka’i. Namun, saat ini wilayah jelajahnya menyusut drastis dan hanya bisa ditemukan di Pulau Maui. Burung ini hanya hidup di kawasan hutan dataran tinggi yang luasnya hanya sekitar 2.155 hektar saja.

Berdasarkan data dari Maui Forest Birds Recovery Project, para ilmuwan mengestimasi bahwa populasi kiwikui di alam liar kini hanya tersisa 150 ekor saja. Hal ini membuatnya masuk dalam kategori spesies sangat terancam punah atau Critically Endangered oleh IUCN. Penurunan drastis ini dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari perusakan habitat, penyakit malaria, serta adanya predasi dari predator pendatang seperti tikus, kucing liar, dan garangan (mongoose).

Itulah lima fakta menarik kiwikiu, burung endemik Hawaii yang punya bentuk paruh unik. Sayangnya, di balik keunikannya tersebut, spesies ini kini sedang berjuang untuk bertahan dari ancaman kepunahan. Semoga berbagai upaya konservasi yang dilakukan dapat menjaga agar burung langka ini tetap menjadi bagian dari kekayaan hayati Hawaii.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article