5 Fakta Marquesan Ground Dove, Merpati Tanah yang Sulit Dijumpai

- Marquesan ground dove adalah burung endemik langka dari Kepulauan Marquesas, Polinesia Prancis, dengan populasi sangat terbatas dan habitat di pulau kecil berbatu serta hutan kering tropis.
- Spesies ini berukuran kecil, berperilaku pemalu, lebih sering berjalan di tanah, dan berperan penting dalam penyebaran biji yang menjaga keseimbangan ekosistem lokal.
- Status konservasinya tergolong Endangered menurut IUCN, dengan ancaman utama dari predator introduksi seperti tikus dan kucing liar serta keterbatasan upaya pelestarian di wilayah terpencil.
Marquesan ground dove (Pampusana rubescens) adalah salah satu burung paling langka di kawasan Samudra Pasifik. Spesies ini berasal dari Kepulauan Marquesas, Polinesia Prancis, wilayah terpencil yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Keberadaannya yang jarang terlihat membuat burung ini menjadi misteri sekaligus simbol rapuhnya ekosistem pulau kecil.
Burung ini bukan sekadar merpati biasa yang mudah ditemui di taman kota. Populasinya sangat terbatas dan penyebarannya hanya di beberapa pulau kecil seperti Fatu Hiva dan mungkin Motu One. Fakta-fakta tentangnya membuka mata soal betapa rentannya spesies endemik terhadap perubahan lingkungan. Yuk, kenali lebih jauh tentang merpati tanah yang keberadaannya semakin sulit dijumpai!
1. Ukuran kecil dengan ciri fisik yang khas

Marquesan ground dove memiliki ukuran tubuh relatif kecil, dengan panjang sekitar 23–25 cm. Tubuhnya ramping dengan ekor pendek dan kaki yang tampak lebih panjang dibanding merpati kota pada umumnya. Posturnya terlihat rendah karena lebih sering berjalan di tanah daripada bertengger lama di dahan.
Ciri paling mencolok ada pada kombinasi warna bulunya. Bagian kepala dan dada menampilkan rona kemerahan lembut, sementara punggung cenderung cokelat zaitun dengan kilau halus. Matanya gelap dengan ekspresi tenang, membuat tampilannya terlihat sederhana namun elegan. Karakter visual ini membantu identifikasi di habitat aslinya yang lebat dan berbatu.
2. Habitat terbatas di pulau terpencil

Habitat utama marquesan ground dove berada di pulau berbatu dan hutan kering tropis di Kepulauan Marquesas, Polinesia Prancis. Lingkungan ini terdiri atas semak belukar, hutan sekunder, dan area berbatu dengan vegetasi rendah. Kondisi geografis pulau yang terisolasi membuat spesies ini berkembang secara endemik dan sangat spesifik terhadap lingkungannya.
Karena wilayah sebarannya sangat terbatas, gangguan kecil saja bisa berdampak besar pada populasinya. Perubahan vegetasi akibat aktivitas manusia maupun bencana alam menjadi ancaman nyata. Ketergantungan pada ekosistem pulau kecil membuat kelangsungan hidupnya sangat rentan terhadap perubahan ekstrem.
3. Perilaku pemalu dan ekologi unik

Marquesan ground dove dikenal memiliki perilaku sangat pemalu dan cenderung menghindari kontak dengan manusia. Burung ini lebih sering terlihat berjalan cepat di permukaan tanah daripada terbang jauh. Pola ini membuat pengamatan di alam liar menjadi tantangan tersendiri bagi peneliti dan pengamat burung.
Dari sisi ekologi, spesies ini memakan biji-bijian kecil, buah jatuh, dan kemungkinan serangga kecil. Perannya dalam penyebaran biji membantu menjaga regenerasi vegetasi lokal. Interaksi ekologis ini memperlihatkan bahwa meski ukurannya kecil, kontribusinya terhadap keseimbangan ekosistem tetap signifikan.
4. Pola pembiakan yang minim dokumentasi

Informasi tentang pembiakan marquesan ground dove masih terbatas karena sulitnya observasi langsung. Diduga burung ini membuat sarang sederhana di tanah atau semak rendah, dengan jumlah telur sedikit dalam satu periode bertelur. Strategi reproduksi ini umum pada burung pulau yang memiliki tekanan lingkungan tinggi.
Minimnya data reproduksi juga berkaitan dengan populasinya yang sangat kecil. Tingkat keberhasilan bertahan hidup anak burung dipengaruhi oleh predator dan kondisi habitat. Faktor ini membuat pertumbuhan populasi berjalan lambat dan sulit pulih jika terjadi penurunan drastis.
5. Status konservasi yang mengkhawatirkan

Marquesan ground dove berstatus Endangered menurut IUCN. Populasinya diperkirakan kurang dari 249 individu dewasa dan terus mengalami tekanan akibat predator introduksi seperti tikus dan kucing liar. Kehadiran spesies invasif ini menjadi ancaman besar bagi burung yang berevolusi tanpa perlindungan alami terhadap mamalia predator.
Upaya konservasi mencakup pemantauan populasi dan perlindungan habitat di pulau-pulau tempat burung ini masih ditemukan. Tantangan geografis dan keterbatasan sumber daya membuat program pelestarian berjalan tidak mudah. Status kritis ini menjadi pengingat bahwa spesies endemik pulau kecil sangat rentan terhadap perubahan yang tampak sederhana.
Marquesan ground dove adalah contoh nyata betapa rapuhnya kehidupan satwa di pulau terpencil. Ukurannya yang kecil menyimpan kisah besar tentang isolasi, adaptasi, dan ancaman kepunahan. Mengenal fakta-faktanya membantu menumbuhkan kesadaran bahwa konservasi bukan sekadar wacana, tetapi kebutuhan mendesak. Setiap informasi yang tersebar memberi peluang lebih besar bagi spesies langka ini untuk tetap bertahan.


















