Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mengapa Beberapa Anjing Memiliki Telinga Tegak dan yang Lain Terkulai?

Mengapa Beberapa Anjing Memiliki Telinga Tegak dan yang Lain Terkulai?
ilustrasi seseorang bermain bersama beberapa ekor anjing (pexels.com/Blue Bird)
Intinya Sih
  • Bentuk telinga anjing ditentukan oleh faktor genetik, terutama kekuatan tulang rawan dan variasi gen seperti MSRB3 yang memengaruhi panjang serta posisi telinga.
  • Manusia berperan besar melalui pembiakan selektif, menciptakan variasi telinga sesuai fungsi ras—anjing pemburu cenderung bertelinga terkulai, sedangkan anjing penjaga memiliki telinga tegak.
  • Proses domestikasi mengurangi ciri liar dan memunculkan sifat jinak seperti telinga terkulai, sementara bentuk telinga juga berdampak pada risiko infeksi atau cedera yang berbeda.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kalau kamu memperhatikan berbagai ras anjing, salah satu perbedaan yang paling mencolok adalah bentuk telinganya. Ada anjing dengan telinga tegak dan runcing seperti German Shepherd, tetapi ada juga yang memiliki telinga panjang dan terkulai seperti Basset Hound. Perbedaan ini bukan sekadar estetika—bentuk telinga anjing sebenarnya dipengaruhi oleh faktor genetik, proses domestikasi, dan juga seleksi yang dilakukan manusia selama ratusan tahun.

Keanekaragaman bentuk telinga ini menunjukkan betapa kompleksnya evolusi anjing sejak mereka mulai hidup berdampingan dengan manusia. Yuk, kita bahas lebih dalam mengapa beberapa anjing memiliki telinga tegak dan sebagian lainnya terkulai.

1. Dasar genetik bentuk telinga anjing

Bentuk telinga anjing pada dasarnya ditentukan oleh genetika. Beberapa gen memengaruhi perkembangan tulang rawan (kartilago) dan kekuatan otot di sekitar telinga.

Anjing dengan telinga tegak memiliki tulang rawan yang lebih kuat dan kaku sehingga mampu menopang telinga agar tetap berdiri. Struktur ini membantu anjing menangkap dan melokalisasi suara dengan lebih akurat.

Sebaliknya, anjing dengan telinga terkulai memiliki kartilago yang lebih lembut dan fleksibel. Akibatnya, telinga mereka melipat ke bawah dan tampak menjuntai.

Penelitian genetika modern menemukan bahwa variasi DNA di sekitar gen MSRB3 berperan dalam menentukan panjang dan posisi telinga. Gen ini sebenarnya juga berkaitan dengan fungsi pendengaran pada manusia. Kombinasi variasi gen tertentu dapat membuat telinga tumbuh lebih panjang, seperti yang terlihat pada ras Cocker Spaniel.

Menariknya, nenek moyang liar anjing—seperti serigala—umumnya memiliki telinga tegak. Variasi telinga terkulai baru muncul setelah anjing mengalami proses domestikasi.

2. Peran seleksi oleh manusia

Selain genetika alami, manusia juga berperan besar dalam membentuk variasi telinga anjing melalui proses pembiakan selektif. Selama ratusan tahun, manusia membiakkan anjing untuk tujuan tertentu. Misalnya, anjing pemburu yang mengandalkan penciuman seperti Beagle atau Bloodhound sering memiliki telinga panjang dan terkulai. Bentuk telinga ini dipercaya membantu “mengumpulkan” aroma dari tanah dan mengarahkannya ke hidung, sekaligus meredam suara yang bisa mengganggu fokus saat melacak jejak.

Sebaliknya, anjing penjaga atau penggembala, seperti Siberian Husky atau Belgian Malinois cenderung memiliki telinga tegak. Posisi telinga seperti ini memungkinkan mereka mendengar suara dari jarak jauh dan bereaksi cepat terhadap ancaman.

Ahli biologi evolusi Charles Darwin bahkan pernah membahas fenomena telinga terkulai dalam bukunya On the Origin of Species. Ia mengaitkan ciri ini dengan sesuatu yang disebut “domestication syndrome”, yaitu kumpulan perubahan fisik yang muncul ketika hewan dijinakkan oleh manusia.

3. Perspektif evolusi dan domestikasi

Anjing
ilustrasi anjing (pexels.com/Mihailo)

Ketika anjing mulai hidup bersama manusia, tekanan seleksi dari alam liar menjadi berkurang. Mereka tidak lagi harus selalu waspada terhadap predator.

Akibatnya, beberapa ciri “liar” seperti telinga tegak yang selalu siaga perlahan berkurang. Sebagai gantinya, muncul ciri-ciri yang lebih “jinak”, termasuk telinga terkulai, wajah yang lebih bulat, atau bahkan sifat yang lebih ramah.

Fenomena ini juga berkaitan dengan neoteny, yaitu kecenderungan mempertahankan ciri-ciri anak-anak hingga dewasa. Pada banyak hewan domestik, ciri yang terlihat “imut” atau ramah justru dipertahankan karena manusia menyukainya.

Eksperimen terkenal pada rubah yang dibiakkan untuk sifat jinak juga menunjukkan bahwa seleksi terhadap perilaku bisa memunculkan perubahan fisik, termasuk telinga yang terkulai, ekor melengkung, dan pola bulu bercak.

4. Apakah bentuk telinga berpengaruh pada kesehatan?

Bentuk telinga ternyata juga bisa memengaruhi kesehatan anjing. Anjing dengan telinga terkulai seperti Labrador Retriever atau Dachshund lebih rentan mengalami infeksi telinga. Hal ini karena telinga yang menutup dapat menjebak kelembapan, kotoran, dan bakteri di dalam saluran telinga—terutama pada anjing yang sering berenang atau memiliki alergi.

Gejala infeksi biasanya meliputi:

  • sering menggelengkan kepala
  • bau tidak sedap dari telinga
  • cairan atau kotoran berlebih

Sebaliknya, anjing dengan telinga tegak jarang mengalami masalah kelembapan. Namun, telinga mereka lebih terbuka sehingga lebih rentan terhadap cedera, misalnya sobekan atau benda asing yang masuk ke saluran telinga. Karena itu, baik anjing bertelinga tegak maupun terkulai tetap memerlukan perawatan telinga secara rutin.

5. Tidak selalu sama pada setiap anjing

Menariknya, tidak semua anjing langsung memiliki bentuk telinga yang jelas sejak lahir. Pada beberapa ras, anak anjing lahir dengan telinga yang masih terkulai dan baru akan tegak ketika tulang rawan menguat, biasanya pada usia 6–12 bulan. Pada anjing ras campuran, bentuk telinga bahkan bisa sangat bervariasi karena dipengaruhi oleh banyak gen sekaligus.

Pada akhirnya, bentuk telinga anjing merupakan hasil perpaduan antara genetika, proses domestikasi, dan preferensi manusia dalam membiakkan anjing selama berabad-abad. Variasi ini bukan hanya membuat setiap ras terlihat unik, tetapi juga mencerminkan perjalanan panjang anjing sebagai sahabat manusia.

Referensi

DoggyMom.com. Diakses pada April 2026. How Selective Breeding Shaped Dog Ears
Health Extension. Diakses pada April 2026. Floppy Ears vs. Erect Ears in Dogs: What’s the Difference?
Science Alert. Diakses pada April 2026. Here's The Simple Science of Why Some Dogs Have Floppy Ears
Vetted Pet Health. Diakses pada April 2026. Does My Dog Have An Ear Infection? 5 Tips On How To Spot Them!

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Science

See More