5 Fakta Masjid Agung Gaza, Warisan Berharga dari Tanah Palestina

- Masjid Agung Gaza memiliki sejarah panjang sejak era Filistin, Bizantium, hingga Islam, menjadi simbol penting perjalanan spiritual dan identitas masyarakat Palestina selama berabad-abad.
- Bangunan masjid menampilkan perpaduan arsitektur Gotik dan Mamluk dengan menara khas serta interior marmer megah, mencerminkan warisan lintas peradaban di tanah Gaza.
- Akibat konflik 2023–2025, masjid dan perpustakaannya rusak parah, namun warga bersama relawan tetap berupaya memulihkan serta mendigitalisasi manuskrip demi menjaga warisan budaya Palestina.
Palestina adalah sebuah wilayah bersejarah di Timur Tengah yang terletak di antara Laut Mediterania dan Sungai Yordan. Negeri ini juga merupakan rumah bagi peradaban tertua di dunia dan situs suci berbagai umat beragama. Sayangnya, konflik berkepanjangan yang melanda tanah Palestina tidak hanya membawa duka bagi rakyatnya, tetapi juga menghancurkan warisan budaya yang tak ternilai harganya. Masjid Agung Gaza, yang telah berdiri kokoh melintasi berbagai zaman pun, kini harus menghadapi kenyataan pahit akibat kerusakan berat yang dialaminya dalam rangkaian peristiwa peperangan baru-baru ini.
Lantas, bagaimana sebenarnya rekam jejak sejarah masjid tertua di Gaza ini? Mari kita telusuri lebih dalam fakta dan pesona Masjid Agung Gaza yang melegenda dalam artikel berikut!
1. Jejak panjang sejarah di balik Masjid Agung Gaza

Masjid Agung Gaza berdiri di atas lahan yang memiliki sejarah spiritual yang sangat panjang, dimulai dari kuil kuno bangsa Filistin yang kemudian berubah menjadi gereja Bizantium pada abad ke-5. Setelah penaklukan Islam pada abad ke-7, bangunan ini diubah menjadi masjid dengan nama "Al-Omari" sebagai penghormatan kepada Khalifah Umar bin Khattab. Menariknya, di dalam bangunan ini sempat ditemukan pilar dengan simbol Yahudi (Menorah) yang diduga berasal dari sinagoge kuno, yang oleh para ahli dianggap sebagai bukti adanya kerukunan antarumat beragama di masa lalu.
Seiring berjalannya waktu, bangunan ini terus mengalami perubahan fungsi dan bentuk akibat dinamika kekuasaan di Palestina. Pada masa Perang Salib di abad ke-12, lokasi ini kembali dijadikan gereja besar sebelum akhirnya direbut kembali oleh pasukan Saladin dari Dinasti Ayyubiyah. Memasuki era Mamluk di abad ke-13 dan ke-14, masjid ini mengalami renovasi besar-besaran meski sempat hancur beberapa kali akibat serangan bangsa Mongol serta bencana gempa bumi yang dahsyat.
Pada masa Kesultanan Utsmaniyah hingga era modern, Masjid Agung Gaza terus dipugar dan menjadi pusat aktivitas sosial serta politik bagi masyarakat Gaza. Meskipun sempat mengalami kerusakan parah akibat pengeboman pasukan Sekutu pada Perang Dunia I karena dianggap sebagai tempat penyimpanan amunisi, tetapi masjid ini berhasil dibangun kembali pada tahun 1926. Hingga kini, masjid ini tetap menjadi simbol identitas yang sangat penting bagi warga Gaza dalam menghadapi berbagai tantangan sejarah.
2. Simbol keagungan arsitektur Mamluk dan Gotik

Masjid Agung Gaza memiliki luas sekitar 4.100 meter persegi dengan struktur bangunan utama yang unik karena menggunakan batu pasir laut lokal. Keindahan arsitekturnya merupakan perpaduan berbagai zaman, di mana pintu masuk bagian barat dan pilar-pilarnya masih mempertahankan gaya Gotik Italia peninggalan era Tentara Salib, sementara bagian dalamnya dihiasi marmer putih, ubin mengkilap, dan langit-langit beratap kubah yang megah. Di dalamnya juga terdapat mimbar marmer putih yang bersejarah serta mihrab kecil dengan prasasti dari era Ottoman sebagai penanda kejayaan masa lalu.
Ciri khas yang paling menonjol dari masjid ini adalah menaranya yang dibangun dengan gaya khas Mamluk, yaitu berbentuk persegi di bagian bawah dan berubah menjadi segi delapan di bagian atas. Menara ini berdiri di atas fondasi bangunan gereja lama, yang menunjukkan bagaimana material bangunan terdahulu dimanfaatkan kembali secara jenius. Dengan halaman luas yang dikelilingi lengkungan indah, masjid ini bukan hanya menjadi tempat ibadah yang tenang, tetapi juga menjadi mahakarya arsitektur yang merekam jejak berbagai peradaban di tanah Gaza.
3. Perpustakaan terbakar dan koleksinya menyusut drastis

Perpustakaan Masjid Agung Gaza merupakan pusat budaya dan intelektual tertua ketiga di Palestina yang menyimpan ribuan manuskrip langka mengenai hukum, kedokteran, hingga sastra. Sayangnya, serangan udara sejak Oktober 2023 telah menyebabkan kerusakan parah, di mana bagian barat perpustakaan terbakar dan koleksinya menyusut drastis dari 20.000 buku menjadi hanya tersisa sekitar 4.000 saja. Kondisi ini sangat menyedihkan karena banyak naskah bersejarah yang kini tertimbun puing, berdebu, dan terkena residu mesiu setelah terbengkalai selama ratusan hari di tengah konflik yang menghancurkan sebagian besar situs warisan budaya di Gaza.
Di tengah situasi yang sulit, muncul secercah harapan melalui inisiatif restorasi dan perlindungan digital yang dilakukan oleh para relawan serta tenaga ahli lokal. Melalui proyek penyelamatan darurat, ribuan fragmen dan ratusan manuskrip telah diperiksa fisiknya, dibersihkan dengan telaten, serta didigitalisasi ke dalam format berkualitas tinggi untuk menjamin keamanannya di masa depan. Upaya ini sekaligus menjadi langkah krusial untuk menjaga catatan sejarah dan identitas peradaban Palestina agar tetap dapat dipelajari oleh dunia meski bangunan fisiknya telah luluh lantak.
4. Ada luka mendalam di balik reruntuhan Masjid Agung Gaza

Tahun 2023 menjadi masa yang sangat kelam bagi Masjid Agung Gaza karena bangunan bersejarah ini mengalami kerusakan parah akibat pengeboman oleh Israel. Serangan tersebut menyebabkan sebagian besar struktur atap runtuh dan aula utamanya tertimbun puing-puing hingga menyisakan pemandangan memilukan di mana hanya sebagian dinding lengkung dan menara yang masih berdiri tegak di tengah kehancuran. Kejadian ini merupakan bagian dari dampak konflik besar yang telah mengubah banyak wilayah bersejarah di pusat kota Gaza menjadi tanah tandus.
Bagi warga setempat, kehilangan masjid ini bukan sekadar hilangnya bangunan fisik, melainkan hancurnya tempat penyimpanan kenangan kolektif mereka. Masjid Agung Gaza merupakan pusat kehidupan spiritual di mana warga biasa berkumpul untuk melaksanakan salat Idulfitri, ibadah di bulan Ramadan, serta berbagai momen penting lainnya. Kesedihan mendalam dirasakan masyarakat karena tempat yang selama ini menjadi saksi perjalanan hidup dan identitas mereka kini tinggal reruntuhan yang menyisakan lubang besar di hati sanubari warga Gaza.
5. Dihantam perang, dijaga dengan harapan

Masjid Agung Gaza mengalami kerusakan yang sangat berat akibat pengeboman oleh Israel, dengan laporan yang menunjukkan bagian tengah bangunan runtuh sepenuhnya dan menaranya roboh sebagian. Meskipun militer Israel mengklaim adanya aktivitas kelompok bersenjata di lokasi tersebut, tetapi bukti konkret tidak pernah diberikan untuk mendukung pernyataan tersebut. Kondisi ini menambah daftar panjang kehancuran situs warisan budaya di Gaza, di mana UNESCO mencatat lebih dari 140 situs bersejarah telah rusak parah akibat peperangan hingga akhir tahun 2025.
Namun, di tengah kehancuran fisik yang meluas, masih terdapat kabar baik mengenai penyelamatan warisan intelektualnya. Seiring dengan adanya kesepakatan gencatan senjata di tahun 2025, warga Palestina mulai bergerak bersama untuk membersihkan puing-puing dan melakukan langkah pemulihan awal, sambil menunggu pasokan bahan bangunan masuk untuk memperbaiki kembali simbol sejarah yang sangat mereka cintai ini.
Meskipun kini Masjid Agung Gaza tampak luluh lantak akibat konflik, tetapi semangat spiritual warga Gaza terbukti tidak pernah runtuh. Di tengah reruntuhan bangunan yang rusak parah, ratusan warga tetap setia berkumpul untuk menunaikan salat Tarawih, baik di halaman terbuka maupun di bagian bangunan yang telah diperbaiki secara darurat. Kehadiran mereka di tengah situasi yang masih belum sepenuhnya aman ini menjadi bukti nyata bahwa Masjid Agung Gaza tetap menjadi jantung kehidupan bagi masyarakat Palestina.


















