Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Fakta Museum Capitoline, Museum Tertua dan Simbol Kejayaan Roma

6 Fakta Museum Capitoline, Museum Tertua dan Simbol Kejayaan Roma
Palazzo dei Conservatori, salah satu dari tiga istana utama yang membentuk Museum Capitoline di Roma, Italia. (commons.wikimedia.org/Tournasol7)
Intinya Sih
  • Museum Capitoline di Roma berdiri sejak 1471 dan resmi dibuka tahun 1734, menjadikannya museum tertua di dunia dengan koleksi seni serta artefak bersejarah dari berbagai era Romawi.
  • Kompleks ini terdiri dari tiga bangunan utama rancangan Michelangelo yang terhubung lorong bawah tanah, menampilkan patung ikonik seperti Serigala Capitoline dan karya seni legendaris lainnya.
  • Koleksinya mencakup patung, lukisan Caravaggio, koin kuno, perhiasan langka, hingga sisa Tabularium kuno yang kini menjadi bagian penting perjalanan sejarah Roma.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Siapa yang tidak terpesona dengan Roma? Ibukota Italia ini bukan sekadar kota biasa, melainkan sebuah "museum terbuka" raksasa yang menyimpan jejak kemegahan peradaban dunia. Roma begitu kaya akan warisan sejarah, mulai dari reruntuhan megah kekaisaran hingga karya seni Renaisans yang tak ternilai harganya. Salah satu kekayaan tersebut adalah Museum Capitoline, tempat menyimpan barang antik sekaligus museum tertua di dunia yang menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu.

Namun, tahukah kamu rahasia apa saja yang tersembunyi di balik dinding marmer dan patung-patung raksasa museum ini? Yuk, kita telusuri lebih dalam fakta-fakta menarik Museum Capitoline dalam artikel berikut ini!

1. Sejarah museum tertua di dunia

Palazzo Senatorio, salah satu dari tiga istana utama yang membentuk Museum Capitoline di Roma, Italia.
Palazzo Senatorio, salah satu dari tiga istana utama yang membentuk Museum Capitoline di Roma, Italia. (commons.wikimedia.org/Diego Delso)

Museum Capitoline adalah kompleks museum seni dan arkeologi ternama yang terletak di puncak Bukit Capitoline, Roma. Sejarahnya dimulai sejak tahun 1471 ketika Paus Sixtus IV menyumbangkan koleksi patung perunggu kuno kepada masyarakat Roma, yang kemudian terus berkembang dengan tambahan artefak Romawi, koin, hingga perhiasan langka. Museum yang dikelola oleh pemerintah kota Roma ini resmi dibuka untuk umum pada tahun 1734, menjadikannya salah satu institusi museum tertua dan paling bersejarah di dunia.

Koleksi berharga ini utamanya disimpan di dua bangunan megah, yaitu Palazzo Nuovo dan Palazzo dei Conservatori. Kedua gedung ini mengapit Piazza del Campidoglio, sebuah alun-alun indah yang dirancang oleh seniman besar Michelangelo Buonarroti pada abad ke-16. Desain visioner Michelangelo ini tidak hanya mengubah wajah pusat kota Roma, tetapi juga menjadi inspirasi besar bagi rancangan taman-taman indah di Italia dan Prancis pada masa-masa setelahnya.

2. Rumah bagi simbol kota Roma

Patung Serigala Capitoline (Lupa Capitolina) yang terletak di Museum Capitoline (Musei Capitolini) di Roma, Italia.
Patung Serigala Capitoline (Lupa Capitolina) yang terletak di Museum Capitoline (Musei Capitolini) di Roma, Italia. (commons.wikimedia.org/Carole Raddato)

Serigala Capitoline merupakan patung perunggu ikonik yang menjadi simbol utama kota Roma. Patung yang diperkirakan berasal dari abad ke-5 SM ini diyakini sebagai hasil karya seniman dari tradisi Etruria atau Magna Graecia. Awalnya, patung serigala betina ini diletakkan di bagian luar istana sebagai simbol keadilan, tetapi atas rancangan arsitektur Michelangelo, patung tersebut kemudian dipindahkan ke dalam museum di Bukit Capitoline agar lebih terjaga.

Hal yang menarik adalah penambahan figur dua bayi kembar, Romulus dan Remus, yang baru dilakukan pada abad ke-15 (kemungkinan oleh seniman Pollaiolo). Penambahan ini mengubah makna patung dari sekadar simbol kuno menjadi sosok "Mater Romanorum" atau Ibu Bangsa Romawi, sesuai dengan legenda pendirian kota Roma. Perpaduan antara patung serigala kuno dan figur bayi kembar inilah yang kini dikenal dunia sebagai simbol abadi kota Roma.

3. Arsitektur Michelangelo dan lorong rahasia bawah tanah

Palazzo Nuovo di Museum Capitoline, Roma.
Palazzo Nuovo di Museum Capitoline, Roma. (commons.wikimedia.org/Ricardo André Frantz (User:Tetraktys))

Museum Capitoline terdiri dari tiga bangunan utama yang berdiri mengelilingi alun-alun Piazza del Campidoglio yang ikonik. Ketiga bangunan tersebut adalah Palazzo Senatorio yang bersejarah, Palazzo dei Conservatori yang menyimpan patung-patung kuno serta simbol kota Roma (Serigala Capitoline), dan Palazzo Nuovo yang memiliki desain kembar. Uniknya, ketiga istana ini saling terhubung melalui sebuah galeri bawah tanah bernama Galleria Congiunzione, yang dibangun di atas reruntuhan asli Romawi dari abad ke-2 Masehi.

Di dalam bangunan-bangunan ini, pengunjung dapat menjelajahi kekayaan seni yang luar biasa dari berbagai zaman. Palazzo dei Conservatori tidak hanya memamerkan patung Mesir dan Yunani, tetapi juga memiliki galeri lukisan, koleksi koin, serta perhiasan langka di lantai atasnya. Sementara itu, Palazzo Nuovo dan area galeri bawah tanah dipenuhi dengan prasasti, mosaik, dan artefak Romawi kuno lainnya. Seluruh kompleks ini menawarkan pengalaman sejarah yang lengkap, mulai dari kemegahan arsitektur rancangan Michelangelo hingga detail karya seni yang sangat berharga.

4. Menyimpan berbagai koleksi mahakarya ikonik

Lukisan berjudul "The Fortune Teller" karya seniman Barok Italia Michelangelo Merisi da Caravaggio, berada di Museum Capitoline di Roma.
Lukisan berjudul "The Fortune Teller" karya seniman Barok Italia Michelangelo Merisi da Caravaggio, berada di Museum Capitoline di Roma. (commons.wikimedia.org/Caravaggio)

Museum Capitoline menyimpan berbagai koleksi ikonik yang menjadi wajah sejarah Roma, seperti patung perunggu Kaisar Marcus Aurelius yang legendaris dan Serigala Capitoline. Pengunjung juga dapat mengagumi keindahan patung marmer seperti Venus Capitoline dan Galata yang Sekarat yang penuh emosi penderitaan. Selain patung raksasa seperti Kepala Kolosal Konstantinus yang setinggi dua meter lebih, museum ini juga menyimpan mahakarya unik seperti Spinario, pemuda pencabut duri yang sempat dicuri oleh Napoleon, serta patung Marforio yang dikenal sebagai salah satu "patung berbicara" di Roma karena sering ditempeli kritik anonim oleh warga.

Tak hanya seni pahat, museum ini juga memiliki galeri lukisan luar biasa yang memamerkan karya maestro Caravaggio, seperti Buona Ventura yang menggambarkan kecerdikan seorang gipsi dan Santo Yohanes Pembaptis dengan permainan cahaya yang dramatis. Ada pula lukisan altar raksasa karya Guercino yang menceritakan martir Santa Petronilla. Menariknya, keindahan karya-karya ini begitu diakui dunia hingga beberapa di antaranya, seperti patung Marcus Aurelius, pernah diabadikan dalam mata uang lira Italia dan dipuji oleh penulis ternama seperti Mark Twain. Keseluruhan koleksi ini menjadikan Museum Capitoline sebagai destinasi wajib bagi para pencinta seni dan sejarah dunia.

5. Memiliki banyak koleksi koin dan perhiasan

Koin (didramma) dari seri “Romano-campana”. Herakles dan serigala menyusui si kembar.
Koin (didramma) dari seri “Romano-campana”. Herakles dan serigala menyusui si kembar. (museicapitolini.org)

Kabinet Koin Capitoline adalah bagian khusus dari museum yang menyimpan koleksi koin, medali, dan perhiasan berharga milik pemerintah kota Roma sejak tahun 1872. Koleksinya sangat luar biasa, mulai dari ribuan koin kuno hasil sumbangan tokoh penting seperti Ludovico Stanzani dan Augusto Castellani, hingga puluhan ribu artefak yang ditemukan dari penggalian bawah tanah saat Roma bertransformasi menjadi ibu kota Italia. Di sini, pengunjung bisa melihat sejarah mata uang dari masa Romawi, Bizantium, hingga abad pertengahan, termasuk harta karun emas seberat 17 kilogram yang ditemukan tersembunyi di dinding sebuah rumah tua di Via Alessandrina.

Selain koin, tempat ini juga memamerkan keindahan seni glitik atau batu permata berukir, segel kuno, dan perhiasan mewah dari berbagai zaman. Beberapa koleksi ikoniknya meliputi bros berbentuk elang dari abad ke-5, batu akik yang diukir dengan wajah anggota keluarga kekaisaran, hingga medali modern yang dicetak setiap tahun untuk merayakan ulang tahun kota Roma. Dengan penataan yang mengikuti urutan waktu, Kabinet Koin ini menjadi saksi perjalanan ekonomi dan kemewahan seni kriya dari zaman kuno hingga masa kini.

6. Tabularium: "Arsip" Bersejarah

Tabularium di Roma, Italia, yang dibangun di atas reruntuhan kuno Roman Forum, dan merupakan bagian dari kompleks Museum Capitoline.
Tabularium di Roma, Italia, yang dibangun di atas reruntuhan kuno Roman Forum, dan merupakan bagian dari kompleks Museum Capitoline. (commons.wikimedia.org/Nicholas Hartmann)

Tabularium adalah bangunan persegi megah yang berfungsi sebagai Kantor Arsip Publik pada masa Romawi kuno. Terletak di lereng Bukit Capitoline dan menghadap langsung ke Forum Romawi, gedung ini didirikan pada tahun 78 SM oleh konsul Quintus Lutatius Catulus untuk menyimpan dokumen negara yang sangat penting, seperti undang-undang, perjanjian, dan dekrit Senat. Karena fungsinya yang krusial, bangunan ini dibangun dengan fondasi yang sangat kokoh menggunakan teknik beton kuno tepat di bawah Kuil Jupiter yang suci.

Meskipun saat ini sebagian besar bangunan aslinya telah hilang, tetapi fondasi dan ruang bawah tanahnya yang berbentuk trapesium masih bertahan dan menjadi tumpuan bagi Istana Senator yang dibangun pada abad pertengahan. Salah satu keunikan arsitekturnya adalah adanya ceruk besar yang sengaja dibuat untuk menghormati Kuil Vejovis, sebuah kuil yang jauh lebih tua yang sudah ada di lokasi tersebut sebelumnya. Kini, sisa-sisa Tabularium menjadi bagian dari Museum Capitoline, memberikan akses bagi pengunjung untuk melihat pemandangan Forum Romawi yang menakjubkan dari ketinggian sejarah.

Museum Capitoline adalah sebuah perjalanan waktu yang membawa kita kembali ke pusat kejayaan masa lalu. Dan mengunjungi museum tertua di dunia ini adalah cara terbaik untuk benar-benar merasakan detak jantung sejarah Italia yang masih terasa hidup hingga saat ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More