Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Menarik Willemstad, Kota Warna-warni di Tepi Laut Karibia
Willemstad, Curaçao (unsplash.com/Aron Marinelli)
  • Willemstad berkembang sejak 1634 di sekitar pelabuhan alami Sint Anna Bay, dengan Fort Amsterdam dan distrik Punda menjadi pusat awal pemerintahan serta perdagangan.
  • Bangunan pastel berarsitektur Belanda di pusat kota terkait kebijakan kolonial awal abad ke-19; Punda dan Otrobanda dihubungkan Jembatan Ratu Emma yang mengapung.
  • Kilang minyak Royal Dutch Shell sejak 1918 mendorong perkembangan permukiman, sementara Otrobanda menjadi galeri mural terbuka dan bangunan bersejarah dialihfungsikan untuk usaha.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Willemstad merupakan ibu kota Curaçao, negara otonom dalam Kerajaan Belanda yang terletak di kawasan Karibia bagian selatan. Kota ini memiliki deretan bangunan dengan arsitektur Eropa dan warna cat yang beragam. Letaknya di tepi laut juga berkaitan erat dengan sejarah Willemstad sebagai kota pelabuhan.

Sejarah kota ini mencakup perkembangan perdagangan, kebijakan pemerintah kolonial, dan kedatangan berbagai kelompok masyarakat. Sejumlah bangunan lama masih digunakan hingga sekarang, sementara beberapa kawasan mengalami perubahan fungsi. Lantas, apa saja fakta lain yang membuat Willemstad punya sejarah berbeda dari kota-kota lain di kawasan Karibia? Yuk, simak.

1. Berkembang di sekitar pelabuhan alami Sint Anna Bay

Kapal Karel Doorman dan kapal-kapal lain di Sint Anna Bay, Curaçao, pada 1950-an (commons.wikimedia.org/Anefo)

Sejarah Willemstad bermula pada 1634, ketika Belanda mengambil alih Curaçao dan membangun permukiman di sekitar Sint Anna Bay. Dilansir laman Kupi, lokasi tersebut dipilih karena teluknya menyediakan perairan yang terlindung bagi kapal. Kondisi ini mendukung kegiatan pelayaran dan perdagangan yang berkembang di kawasan Karibia.

Belanda kemudian membangun Fort Amsterdam di dekat pintu masuk teluk untuk memperkuat pertahanan dan mengawasi aktivitas pelabuhan. Permukiman di kawasan tersebut berkembang menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan. Punda, distrik bersejarah di sisi timur Sint Anna Bay, kemudian berkembang sebagai salah satu kawasan tertua di Willemstad.

2. Warna bangunannya berkaitan dengan kebijakan kolonial

Willemstad, Curaçao (commons.wikimedia.org/xiquinhosilva)

Deretan bangunan berwarna pastel menjadi ciri yang mudah dikenali di pusat Willemstad. Dilansir laman UNESCO World Heritage Centre, Gubernur Jenderal Albert Kikkert dikaitkan dengan kebijakan pada awal abad ke-19 yang mendorong penggunaan warna selain putih pada bagian luar bangunan. Kisah yang banyak beredar menyebutkan bahwa pantulan cahaya matahari dari dinding putih membuatnya mengalami sakit kepala.

Seiring waktu, bangunan di kota ini dicat dengan beragam warna, seperti kuning, merah muda, hijau, dan biru. Deretan rumah dan bangunan komersial tersebut memiliki pengaruh arsitektur Belanda yang disesuaikan dengan kondisi setempat.

3. Punda dan Otrobanda dihubungkan oleh jembatan apung

Jembatan Ratu Emma, Willemstad, Curaçao (commons.wikimedia.org/Bjørn Christian Tørrissen)

Willemstad berkembang di kedua sisi Sint Anna Bay, dengan Punda di sisi timur dan Otrobanda di sisi barat. Dilansir laman Britannica, Koningin Emmabrug (Jembatan Ratu Emma) dibuka pada 1888 untuk menghubungkan kedua distrik tersebut. Jembatan dibuat untuk memudahkan orang berpindah dari satu sisi kota ke sisi lainnya.

Jembatan ini menggunakan ponton yang membuatnya mengapung di permukaan air. Struktur tersebut dapat dibuka ke samping ketika kapal perlu melewati teluk. Mekanisme ini membuat jalur penyeberangan tetap dapat digunakan tanpa menghalangi lalu lintas kapal menuju pelabuhan.

4. Galeri seni lukis dinding di distrik Otrobanda

Lukisan dinding di distrik Otrobanda (commons.wikimedia.org/Kattiel)

Kawasan permukiman tua Otrobanda memiliki deretan lukisan dinding atau mural berskala besar yang dibuat oleh seniman lokal dan internasional. Dilansir laman Luz Color Curaçao, karya-karya tersebut tersebar di sepanjang lorong dan jalan permukiman. Lukisan yang menghiasi dinding bangunan itu menampilkan beragam warna, bentuk, serta tema yang berkaitan dengan kehidupan dan budaya setempat.

Perkembangan seni mural di Otrobanda berkaitan dengan perubahan kawasan permukiman tua menjadi ruang ekspresi seni visual. Pemerintah kota dan komunitas seni lokal ikut mengembangkan kawasan ini sebagai galeri terbuka. Karya-karya modern tersebut berada di antara rumah-rumah tua berarsitektur khas Karibia, dengan bentuk bangunan dan warna dinding yang beragam.

5. Industri minyak mengubah perkembangan kota

Willemstad, Curaçao (commons.wikimedia.org/xiquinhosilva)

Perekonomian Willemstad mengalami perubahan besar setelah kilang minyak dibuka di Curaçao pada awal abad ke-20. Merujuk kembali pada laman Kupi, perusahaan Royal Dutch Shell mulai mengoperasikan kilang minyak di pulau tersebut pada 1918. Industri ini kemudian berperan besar dalam kegiatan ekonomi dan perkembangan permukiman di sekitar Willemstad.

Pertumbuhan industri minyak mendorong bertambahnya kebutuhan tempat tinggal dan fasilitas perkotaan. Seiring perkembangan kota, kawasan seperti Pietermaai dan Scharloo juga mengalami perubahan fungsi. Sejumlah bangunan bersejarah di kawasan tersebut kini digunakan sebagai hotel, restoran, dan ruang usaha lainnya.

Berada di tepi Laut Karibia, Willemstad memiliki ciri kota pelabuhan dengan bangunan berarsitektur Belanda dan deretan rumah berwarna-warni. Sejarah kolonial, perkembangan perdagangan, serta karya mural di Otrobanda membuat ibu kota Curaçao ini memiliki karakter yang khas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article