Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta Mourning Dove, Merpati yang Dikenal dengan Kicauan Sedihnya
Mourning Dove (commons.wikimedia.org/JeffreyGammon)
  • Mourning dove dikenal lewat kicauan lembut bernada sedih serta suara siulan sayapnya yang khas saat terbang, membuatnya mudah dikenali di alam liar maupun area permukiman.
  • Burung ini punya kemampuan adaptasi tinggi, termasuk bisa meminum air payau dan memilih berbagai lokasi buatan manusia seperti langkan jendela atau perabot luar rumah untuk bersarang.
  • Mourning dove berkembang biak sangat produktif hingga enam generasi per tahun, dengan kedua induk berbagi tugas mengerami telur dan memberi makan anak menggunakan cairan susu merpati.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mourning dove (Zenaida macroura) merupakan salah satu burung yang paling mudah dikenali dari suaranya. Kicauannya yang lembut dan bernada rendah sering terdengar di area permukiman, taman, hingga lahan terbuka. Burung bertubuh ramping ini juga cukup akrab dengan lingkungan manusia sehingga kerap terlihat bertengger di pagar, pepohonan, atau kabel listrik.

Selain dikenal karena suaranya yang khas, mourning dove juga memiliki berbagai karakteristik menarik yang mendukung kehidupannya di alam liar. Mulai dari kemampuan terbang yang cepat hingga persebarannya yang sangat luas, spesies ini menjadi salah satu burung yang paling umum dijumpai di Amerika Utara. Penasaran dengan rahasia di balik kehidupan merpati bersuara unik ini? Yuk, langsung kita ulas lima fakta menariknya di bawah ini!

1. Mengeluarkan kicauan sendu mirip ratapan

Mourning Dove (commons.wikimedia.org/Rhododendrites)

Suara khas yang keluar dari tenggorokan burung ini menjadi alasan utama di balik pemberian nama populer mereka di habitat aslinya. Dilansir laman All About Birds, mourning dove jantan kerap mengeluarkan nada panggilan berdurasi panjang yang terdengar sedih dan menyerupai sebuah ratapan. Alunan suara melankolis yang lembut ini menjadi ciri khas yang sangat melekat pada kawanan mereka saat berada di alam liar.

Selain dari tenggorokan, bulu sayap mereka juga menghasilkan fenomena unik berupa suara siulan tajam atau ringkikan nyaring setiap kali lepas landas. Bunyi siulan mekanis yang keras saat terbang atau mendarat ini berfungsi sebagai penanda visual bagi kelompoknya di sekitar lokasi bertengger. Kombinasi suara unik inilah yang membuat keberadaan mereka di atas kabel telepon atau tanah terbuka sangat mudah dikenali.

2. Memiliki toleransi tinggi terhadap air mata air payau

Mourning Dove (commons.wikimedia.org/Robert Taylor)

Kemampuan adaptasi yang luar biasa membuat kelompok merpati ini bisa mendiami berbagai jenis lingkungan, tidak terbatas di area perkotaan saja. Masih dari laman All About Birds, mourning dove sanggup meminum air dari mata air payau yang memiliki kadar garam mencapai hampir setengah dari salinitas air laut. Mereka bisa mengonsumsi sumber air asin tersebut tanpa mengalami dehidrasi atau gangguan organ dalam.

Keistimewaan fisik ini membedakan mereka dari sebagian besar makhluk hidup darat lainnya yang mutlak membutuhkan air tawar bersih. Sistem penyaringan di dalam tubuh bekerja sangat efisien dalam mengelola kadar garam berlebih yang masuk ke jaringan darah saat mereka menjelajahi wilayah baru. Alhasil, rombongan burung ini bisa bebas bepergian ke berbagai medan lingkungan yang minim pasokan air bersih sekali pun.

3. Menyimpan ribuan biji di dalam kantong tembolok

Mourning Dove (commons.wikimedia.org/Plismo)

Saat berada di atas tanah terbuka, aktivitas mencari makan dilakukan dengan sangat cepat demi menghindari ancaman predator. Dilansir laman Audubon, mereka langsung menelan biji-bijian dalam jumlah besar tanpa dikunyah terlebih dahulu untuk disimpan di dalam tembolok. Begitu kantong esofagus tersebut terisi penuh, mereka segera terbang menuju dahan pohon yang tinggi demi keamanan diri.

Proses pelunakan makanan di dalam lambung nantinya akan dibantu oleh kebiasaan menelan kerikil-kerikil kecil atau grit secara berkala. Batuan kecil yang ikut tertelan ini berfungsi sebagai penggilas alami untuk menghancurkan kulit biji yang keras. Sebagian besar menu harian mereka didominasi oleh biji tanaman liar atau sisa limbah ladang pertanian.

4. Memilih permukaan horizontal buatan manusia untuk bersarang

Mourning Dove (commons.wikimedia.org/Robert Taylor)

Kemampuan beradaptasi mourning dove juga terlihat dari pilihan lokasi sarangnya yang sangat beragam. Dilansir laman Mass Audubon, burung ini sering kali memanfaatkan berbagai fasilitas buatan manusia yang memiliki permukaan datar. Mereka tidak ragu mendirikan tumpukan ranting di atas sandaran sofa teras, ujung sapu halaman, hingga langkan jendela bangunan.

Sarang yang mereka bangun umumnya hanya berupa jalinan kayu kering yang tipis dan tampak sangat longgar saat dilihat dari bawah. Keberadaan pemukiman yang padat justru memberikan mereka banyak alternatif tempat berlindung yang aman dari jangkauan hewan pemangsa di darat. Pasangan yang sudah merasa cocok dengan suatu lokasi datar akan terus kembali ke tempat tersebut pada musim berikutnya.

5. Bereproduksi secara produktif sepanjang tahun

Anak Mourning Dove (commons.wikimedia.org/Jpabello)

Setelah sarang siap digunakan, mourning dove dapat berkembang biak dengan kecepatan yang mengesankan. Merujuk kembali pada laman Audubon, sepasang mourning dove sanggup membesarkan hingga lima sampai enam generasi anak burung baru dalam periode satu tahun yang sama. Kemampuan bertelur yang sangat cepat ini dipengaruhi oleh kondisi iklim wilayah yang cenderung hangat.

Ritual pendekatan dimulai dengan aksi jantan yang melakukan penerbangan melingkar secara kaku dengan dada yang dibusungkan ke depan di atas tanah. Setelah pasangan terbentuk dan sarang selesai dibuat, kedua induk membagi tugas secara adil, mulai dari proses pengeraman dua butir telur hingga pemberian pakan khusus berupa cairan susu merpati. Anak-anak burung biasanya sudah siap meninggalkan area sekitar sarang setelah memasuki usia dua minggu.

Kehidupan mourning dove di alam liar menunjukkan kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap berbagai jenis habitat, termasuk kawasan yang berada di sekitar permukiman manusia. Suara khas yang mereka hasilkan juga menjadi salah satu ciri yang mudah dikenali, baik di area hutan terbuka maupun lingkungan perkotaan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article