Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Ngeri-ngeri Sedap Gerhana Matahari Cincin pada 17 Februari 2026

5 Fakta Ngeri-ngeri Sedap Gerhana Matahari Cincin pada 17 Februari 2026
ilustrasi gerhana matahari cincin (pixabay.com/CharlVera)
Intinya Sih
  • Gerhana matahari cincin akan terjadi pada 17 Februari 2026 saat fase bulan baru, ketika Bumi, bulan, dan matahari sejajar sempurna membentuk konfigurasi langka di tata surya.
  • Fenomena “ring of fire” muncul karena bulan berada di titik terjauh dari Bumi (apoge), membuatnya tampak lebih kecil sehingga tidak menutupi seluruh piringan matahari.
  • Jalur utama gerhana hanya melintasi Antarktika dengan durasi singkat namun presisi tinggi, menjadi bagian dari siklus Saros yang berulang setiap sekitar 18 tahun.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Langit Februari 2026 bukan sekadar langit biasa. Pada 17 Februari 2026, Bumi, bulan, dan matahari akan membentuk konfigurasi kosmik yang jarang terjadi yakni gerhana matahari cincin. Fenomena ini bukan hanya soal “matahari tertutup”, melainkan tentang geometri langit, jarak orbital, dan ketepatan gravitasi yang bekerja presisi seperti jam raksasa semesta. Di tengah dinginnya Antarktika, cincin api akan terbentuk—tipis, terang, dan dramatis—sementara sebagian besar dunia hanya bisa menyaksikannya dari siaran langsung.

Yang membuatnya semakin menarik, gerhana ini terjadi tepat saat fase bulan baru (new moon). Banyak orang mengira itu kebetulan, padahal justru itulah syarat utama terjadinya gerhana matahari. Namun, tidak semua new moon menghasilkan gerhana, apalagi yang berbentuk cincin. Lantas, apa saja keunikan ilmiah di balik fenomena 17 Februari 2026 ini? Yuk, kita bedah satu per satu!

1. Selalu terjadi saat bulan baru, tidak semua berujung gerhana

ilustrasi gerhana matahari cincin saat bulan baru
ilustrasi gerhana matahari cincin saat bulan baru (pexels.com/Drew Rae)

Menurut penjelasan resmi dari NASA dalam laman edukasi gerhana mereka, gerhana matahari hanya bisa terjadi saat fase new moon, yaitu ketika bulan berada di antara Bumi dan matahari dalam satu garis lurus (syzygy). Tanpa fase bulan baru, gerhana matahari mustahil terjadi karena posisi bulan tidak sedang berada di depan matahari dari perspektif Bumi.

Namun, data astronomi menunjukkan bahwa dalam satu tahun terdapat sekitar 12—13 fase bulan baru. Meski demikian, tidak setiap bulan baru menghasilkan gerhana. NASA menjelaskan bahwa orbit bulan miring sekitar 5 derajat terhadap bidang orbit Bumi (ekliptika), sehingga pada sebagian besar new moon, bulan melintas sedikit di atas atau di bawah matahari tanpa menutupinya.

Gerhana 17 Februari 2026 menjadi istimewa karena new moon kali ini terjadi saat bulan berada cukup dekat dengan titik simpul orbitnya (node), sehingga memungkinkan terjadinya penjajaran sempurna. Inilah kombinasi langka antara fase lunar dan posisi orbital yang menjadikan fenomena ini bukan sekadar bulan baru biasa.

2. Ring of fire terjadi karena bulan di titik terjauh dari Bumi

ilustrasi gerhana matahari cincin yang disebut ring of fire
ilustrasi gerhana matahari cincin yang disebut ring of fire (pixabay.com/AstroGraphix_Visuals)

Kenapa bukan gerhana total? Jawabannya ada pada jarak. Berdasarkan penjelasan dari Space dan EarthSky, gerhana matahari cincin terjadi ketika bulan berada dekat apoge yakni titik terjauhnya dari Bumi. Pada posisi ini, diameter tampak bulan lebih kecil dibandingkan diameter tampak matahari.

Karena ukurannya tampak lebih kecil, bulan tidak mampu menutupi seluruh piringan matahari. Akibatnya, tepi matahari tetap terlihat sebagai lingkaran terang yang disebut “annulus” atau populer dengan istilah ring of fire. Inilah pembeda utama antara gerhana total dan gerhana cincin, meskipun keduanya sama-sama terjadi saat bulan baru.

Data prediksi astronomi global menunjukkan bahwa pada 17 Februari 2026, jalur annularitas melintasi wilayah Antarktika. Durasi maksimum fase cincin diperkirakan berlangsung hanya beberapa menit saja; singkat, tetapi sangat dramatis secara visual dan ilmiah.

3. Fenomena super eksklusif yang hanya melewati Antarktika

ilustrasi gerhana matahari cincin yang melewati Antarktika
ilustrasi gerhana matahari cincin yang melewati Antarktika (pixabay.com/ELG21)

Menurut peta jalur gerhana yang dirilis oleh Space dan dikompilasi juga oleh EarthSky, jalur annularitas gerhana 17 Februari 2026 hampir sepenuhnya melintasi Antarktika. Artinya, hanya wilayah ekstrem selatan Bumi yang bisa menyaksikan cincin api secara langsung.

Wilayah lain seperti bagian selatan Afrika, Amerika Selatan, serta beberapa samudra hanya akan menyaksikan gerhana parsial. Indonesia sendiri tidak termasuk wilayah pengamatan, baik untuk fase cincin maupun parsial. Ini menjadikan fenomena tersebut sangat eksklusif secara geografis.

Keunikan ini juga memperlihatkan bagaimana gerhana tidak hanya fenomena waktu, tetapi juga ruang. Jalurnya selektif dan berpindah-pindah setiap peristiwa, mengikuti dinamika rotasi Bumi dan revolusi bulan. Jadi, meski gerhana terjadi beberapa kali setahun, lokasi spektakulernya selalu berbeda.

4. Durasi singkat, tapi perhitungannya super presisi

ilustrasi gerhana matahari cincin yang durasinya singkat
ilustrasi gerhana matahari cincin yang durasinya singkat (pixabay.com/Buddy_Nath)

Gerhana matahari bukan sekadar “bayangan lewat”. Perhitungan waktunya melibatkan mekanika langit yang sangat presisi. Berdasarkan data efemeris astronomi dari NASA, keseluruhan rangkaian gerhana—dari fase parsial awal hingga akhir—dapat berlangsung beberapa jam.

Namun fase puncak annularitas biasanya hanya berlangsung beberapa menit saja. Inilah momen ketika cincin api benar-benar terlihat sempurna. Setelah itu, bulan perlahan bergerak meninggalkan posisi sejajar dan matahari kembali utuh.

Presisi ini memungkinkan para ilmuwan memprediksi gerhana hingga ratusan tahun ke depan. Perhitungan berbasis hukum gravitasi Newton dan penyempurnaan model dinamika orbit modern menjadikan fenomena ini dapat dijadwalkan dengan akurasi tinggi, bahkan hingga hitungan detik.

5. Bagian dari siklus saros yang berulang setiap 18 tahun

ilustrasi gerhana matahari cincin yang bagian dari siklus saros
ilustrasi gerhana matahari cincin yang bagian dari siklus saros (pixabay.com/Terranaut)

Gerhana 17 Februari 2026 bukan peristiwa tunggal tanpa sejarah. Menurut penjelasan dari NASA, banyak gerhana terjadi dalam pola yang disebut siklus Saros, yakni periode sekitar 18 tahun 11 hari 8 jam di mana konfigurasi Bumi–bulan–matahari hampir terulang.

Artinya, gerhana ini memiliki “saudara kosmik” di masa lalu dan akan memiliki penerus di masa depan dalam seri yang sama. Meski lokasi tepatnya bisa bergeser, pola geometrinya serupa. Inilah yang membuat astronomi bukan sekadar observasi, melainkan juga studi tentang pola dan repetisi jangka panjang.

Keberadaan siklus ini menunjukkan bahwa gerhana adalah bagian dari ritme kosmik yang teratur. Ia bukan fenomena acak, melainkan bab dari narasi panjang mekanika tata surya yang terus berulang selama jutaan tahun.

Gerhana matahari cincin 17 Februari 2026 membuktikan bahwa langit bukan sekadar latar biru di atas kepala kita, melainkan panggung dinamika kosmik yang terukur dan elegan. Ia terjadi saat new moon—sebuah syarat mutlak—namun menjadi istimewa karena jarak bulan sedang di apoge dan jalurnya melewati Antarktika yang nyaris tak berpenghuni. Kombinasi fase lunar, jarak orbital, kemiringan 5 derajat, dan siklus Saros menjadikannya fenomena yang bukan hanya indah, tetapi juga sarat makna ilmiah.

Jadi, meskipun Indonesia tidak kebagian pemandangan cincin api kali ini, kita tetap bisa menikmati kekaguman ilmiahnya. Karena pada akhirnya, gerhana bukan hanya soal siapa yang melihatnya langsung, melainkan tentang bagaimana manusia memahami dan membaca pola semesta. Dan mungkin, di situlah letak keajaiban sebenarnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More