5 Situs Kuno yang Menyaksikan Gerhana Matahari Cincin sejak Ribuan Tahun Lalu

- Chankillo Solar Observatory, kalender matahari horizontal tertua di Amerika
- Menara batu berfungsi sebagai kalender matahari presisi yang dapat mendeteksi gerhana cincin.
- UNESCO menetapkan Chankillo sebagai warisan dunia pada 2021 karena signifikansi astronominya.
- Mnajdra Temples, megalitik Mediterania yang mengunci matahari
- Kompleks megalitik tertua di Eropa ini selaras dengan titik matahari saat ekuinoks dan solstis.
- Data NASA menunjukkan bahwa kawasan Eropa Selatan mengalami berbagai gerhana annular dalam milenium terakhir.
- Nabta Playa, lingkaran batu 7000 tahun yang menghadap langit
Langit selalu lebih jujur daripada manusia. Ia tidak pernah berbohong tentang siklusnya. Terlebih tentang matahari yang datang dan pergi, tentang bayangan yang tiba-tiba memakan terang. Bagi kita hari ini, gerhana matahari cincin adalah fenomena astronomi yang bisa diprediksi oleh suatu badan atau lembaga dengan presisi per detik. Namun, ribuan tahun lalu, “cincin api” di langit adalah peristiwa kosmik yang bisa mengguncang tatanan spiritual, politik, bahkan psikologis sebuah peradaban.
Yang menarik, beberapa situs kuno di dunia ternyata menunjukkan orientasi akurat terhadap matahari, bahkan cukup valid untuk mendeteksi anomali seperti gerhana. Meski belum ada bangunan yang secara eksplisit yang dibangun hanya untuk gerhana cincin; kombinasi bukti arkeoastronomi, orientasi struktural, dan konteks geografis membuka kemungkinan besar bahwa situs-situs ini pernah menjadi saksi bisu “cincin api” ribuan tahun silam. Yuk, kita telusuri apa saja situs kuno yang kerap berkaitan dengan gerhana matahari cincin ini!
1. Chankillo Solar Observatory, kalender matahari horizontal tertua di Amerika

Chankillo yang dibangun sekitar abad ke-4 SM oleh peradaban Casma-Sechín, memiliki 13 menara batu yang berjajar di punggung bukit gurun Peru. Menurut penelitian Iván Ghezzi dan Clive Ruggles yang dipublikasikan dalam Science, struktur ini berfungsi sebagai kalender matahari presisi, di mana matahari terbit dan terbenam berpindah secara teratur di antara menara-menara tersebut sepanjang tahun.
Sebab, sistem ini mengandalkan pengamatan harian terhadap posisi matahari. Bahkan setiap fenomena besar, termasuk gerhana matahari cincin akan terlihat sebagai penyimpangan dramatis dari pola normal. Secara astronomis, wilayah Peru mengalami berbagai jenis gerhana dalam siklus Saros sekitar 18 tahun 11 hari. Sehingga dalam beberapa abad, kemungkinan besar masyarakat Chankillo menyaksikan fenomena “ring of fire”.
UNESCO bahkan menetapkan Chankillo sebagai warisan dunia pada 2021 karena signifikansi astronominya. Artinya, peristiwa gerhana bukan sekadar situs ritual, melainkan laboratorium langit prasejarah yang sangat mungkin pernah tercatat, baik secara visual atau simbolik.
2. Mnajdra Temples, megalitik Mediterania yang mengunci matahari

Mnajdra yang dibangun antara 3600 sampai 2500 SMadalah salah satu kompleks megalitik tertua di Eropa. Publikasi dari Journal for the History of Astronomy menunjukkan bahwa pintu dan lorong kuil ini selaras dengan titik matahari saat ekuinoks dan solstis.
Letak geografis Malta di Mediterania membuatnya beberapa kali berada di jalur gerhana cincin sepanjang sejarah. Data dari NASA Eclipse Web Site menunjukkan bahwa kawasan Eropa Selatan mengalami berbagai gerhana annular dalam milenium terakhir. Jika masyarakat Neolitik Malta rutin mengamati matahari musiman, fenomena cincin api akan tampak sebagai peristiwa kosmik yang sangat mencolok.
Yang membuat Mnajdra menarik adalah presisinya, sinar matahari saat ekuinoks menembus tepat ke altar dalam ruangan. Presisi ini mengindikasikan pemahaman astronomi yang matang—cukup matang untuk menyadari ketika matahari “tidak lengkap”.
3. Nabta Playa, lingkaran batu 7000 tahun yang menghadap langit
Nabta Playa sudah berusia sekitar 6000—7000 SM yang lebih tua dari Piramida Giza. Menurut penelitian yang diterbitkan dalam Proceedings of the African Astronomical History Symposium, lingkaran batu di sini selaras dengan titik balik musim panas dan kemungkinan posisi bintang tertentu.
Di Gurun Nubia yang langitnya hampir selalu cerah, gerhana cincin akan terlihat sangat dramatis. Langit menggelap, tetapi tidak total, menyisakan lingkaran api tipis di tepi matahari. Secara astronomis, Afrika Utara telah mengalami ratusan gerhana annular dalam 8000 tahun terakhir.
Walau tidak ada catatan tertulis, keberadaan struktur astronomis seawal ini menunjukkan bahwa komunitas pastoral Sahara bukan sekadar penggembala, melainkan pengamat kosmos. Gerhana kemungkinan menjadi bagian dari kosmologi mereka.
4. Big Horn Medicine Wheel, lingkaran kosmik suku Plains

Struktur batu melingkar ini diperkirakan dibangun antara 1200 sampai 1700 M oleh masyarakat Pribumi Amerika Utara. Penelitian Astronomical Alignments of the Big Horn Medicine Wheel menunjukkan keselarasan dengan matahari saat solstis dan beberapa bintang terang seperti Aldebaran dan Sirius.
Tradisi lisan suku Plains menyebut fenomena ketika “matahari dimakan”, yang oleh banyak antropolog diinterpretasikan sebagai deskripsi gerhana. Wilayah Wyoming sendiri termasuk daerah yang berulang kali dilintasi jalur gerhana, termasuk annular dan total, menurut data WyoHistory.
Karena situs ini digunakan untuk upacara spiritual, bukan tidak mungkin gerhana cincin dianggap sebagai pesan kosmik, yakni sebuah interupsi langit yang sakral.
5. Hovenweep National Monument, menara batu dengan jendela presisi

Dibangun oleh leluhur Pueblo sekitar abad ke-13, beberapa menara Hovenweep memiliki jendela kecil yang tepat mengarah ke titik matahari saat solstis, menurut studi arkeoastronomi National Park Service.
Wilayah Southwest Amerika Serikat termasuk salah satu kawasan dengan frekuensi gerhana tinggi dalam 2000 tahun terakhir. Data NASA menunjukkan bahwa dalam rentang 1000 tahun, satu wilayah bisa mengalami puluhan gerhana (annular maupun total).
Jika sebuah komunitas membangun arsitektur yang begitu presisi terhadap matahari, maka fenomena “cincin api” hampir pasti pernah disaksikan. Tentunya, hal tersebut bisa dimaknai sebagai tanda kosmik.
Langit adalah arsip tertua umat manusia. Sebelum ada tinta, ada cahaya. Sebelum ada kitab, ada bayangan. Gerhana matahari cincin mungkin hanya berlangsung beberapa menit, tetapi dalam konteks prasejarah, ia bisa menjadi momen sakral yang mengubah mitologi, ritual, bahkan struktur sosial.
Meski takada prasasti yang berbunyi, “kami membangun ini untuk gerhana cincin”. Kombinasi orientasi astronomis, data siklus gerhana NASA, dan konteks budaya menunjukkan satu hal; yakni peradaban kuno bukan sekadar pembangun batu, melainkan pembaca langit. Dan mungkin, ribuan tahun sebelum kita menyebutnya “annular eclipse”, mereka sudah lebih dulu menyaksikan cincin api dan gemetar di bawahnya.


















