Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Menarik Cerulean Chafer Beetle, Permata Biru Mungil dari Eropa

Kumbang Hoplia coerulea
kumbang hoplia coerulea (commons.wikimedia.org/Frank Vassen)
Intinya sih...
  • Warna biru cerah berasal dari struktur mikroskopis yang memantulkan cahaya, bukan pigmen biasa.
  • Kumbang ini bisa berubah warna saat basah karena struktur tubuhnya merespons kelembapan.
  • Cerulean Chafer Beetle tersebar di Eropa, terutama di padang rumput terbuka dan area berbunga.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di antara hamparan padang rumput Eropa saat musim semi, ada satu serangga kecil yang tampak seperti butiran permata hidup. Cerulean Chafer Beetle dikenal karena warna birunya yang mencolok dan berkilau saat terkena cahaya. Meski ukurannya hanya sekitar satu sentimeter, tampilannya begitu memikat perhatian.

Spesies bernama ilmiah Hoplia coerulea ini termasuk dalam keluarga Scarabaeidae. Ia biasanya muncul pada akhir musim semi hingga awal musim panas, terutama di area yang banyak ditumbuhi bunga liar. Yuk, kita telusuri 5 fakta menarik kumbang biru mungil dari Eropa ini!

1. Warna birunya bukan dari pigmen

Kumbang Hoplia coerulea
kumbang hoplia coerulea (inaturalist.org/Jesús María Moro Deordal)

Warna biru terang pada Cerulean Chafer Beetle bukan berasal dari zat pewarna biasa. Mengutip ScienceDirect, kilau tersebut dihasilkan oleh struktur mikroskopis pada sisik tubuhnya yang memantulkan dan membiaskan cahaya. Fenomena ini dikenal sebagai warna struktural, bukan warna pigmen.

Struktur nano pada permukaan tubuhnya bekerja seperti prisma kecil yang memecah cahaya. Karena itu, warna yang terlihat bisa berubah tergantung sudut pandang dan intensitas cahaya. Inilah yang membuatnya tampak iridesen dan berkilau seperti logam.

2. Bisa berubah warna saat basah

Kumbang Hoplia coerulea
kumbang hoplia coerulea (inaturalist.org/RUIZ Jean Marc)

Salah satu keunikan menarik dari spesies ini adalah kemampuannya berubah warna saat terkena cairan. Royal Society Publishing menjelaskan bahwa ketika sisik tubuhnya menyerap kelembapan, struktur nano yang memantulkan cahaya ikut berubah. Akibatnya, warna biru cerahnya bisa memudar atau tampak berbeda.

Perubahan ini bersifat sementara dan akan kembali normal setelah tubuhnya mengering. Mekanisme tersebut menjadi contoh menarik tentang bagaimana struktur biologis dapat merespons lingkungan. Fenomena ini juga sering menjadi bahan penelitian dalam bidang biomimetika.

3. Ditemukan di berbagai wilayah Eropa

Kumbang Hoplia coerulea
kumbang hoplia coerulea (inaturalist.org/David Gispert)

Cerulean Chafer Beetle tersebar di beberapa wilayah Eropa, terutama di Eropa Tengah dan Selatan. Ia lebih sering ditemukan di padang rumput terbuka, kebun, serta area yang kaya tanaman berbunga. Lingkungan tersebut menyediakan sumber makanan dan tempat berkembang biak yang ideal.

Dilansir Global Biodiversity Information Facility, keberadaannya biasanya terdeteksi saat musim semi karena pada periode inilah kumbang dewasa aktif. Aktivitasnya meningkat ketika suhu mulai hangat. Musim yang tepat membuatnya lebih mudah diamati di alam liar.

4. Termasuk keluarga kumbang daun dan bunga

Kumbang Hoplia coerulea
kumbang hoplia coerulea (inaturalist.org/Dani Rth)

Sebagai anggota keluarga Scarabaeidae, Cerulean Chafer Beetle memiliki hubungan kekerabatan dengan berbagai jenis kumbang lainnya. Banyak anggota keluarga ini dikenal sebagai pemakan daun atau bunga saat fase dewasa. Mereka berperan dalam ekosistem sebagai bagian dari rantai makanan dan proses penyerbukan tidak langsung.

Dilansir BugLife, larvanya hidup di dalam tanah dan biasanya memakan akar atau bahan organik. Siklus hidupnya mencakup fase telur, larva, pupa, hingga dewasa. Transformasi ini mencerminkan proses metamorfosis sempurna khas kumbang.

5. Inspirasi bagi teknologi dan desain

Kumbang Hoplia coerulea
kumbang hoplia coerulea (inaturalist.org/seobirdlifecatalunya)

Struktur warna pada Cerulean Chafer Beetle telah menarik perhatian para ilmuwan material. Nature menyebutkan bahwa cara tubuhnya memantulkan cahaya tanpa pigmen menjadi inspirasi dalam pengembangan material reflektif dan teknologi optik. Studi tentang warna struktural membantu pengembangan cat, tekstil, hingga perangkat sensor.

Penelitian terhadap struktur nano biologis seperti ini termasuk dalam bidang biomimetika, yaitu meniru desain alam untuk inovasi teknologi. Dari serangga kecil ini, para ilmuwan belajar tentang efisiensi cahaya dan struktur mikro yang kompleks. Permata biru mungil ini ternyata menyimpan potensi ilmiah yang besar.

Cerulean Chafer Beetle membuktikan bahwa keindahan alam sering kali tersembunyi dalam ukuran yang kecil. Warna birunya yang berkilau bukan hanya memikat mata, tetapi juga membuka pintu penelitian ilmiah yang luas. Dari padang rumput Eropa hingga laboratorium modern, permata biru mungil ini terus menginspirasi dan memukau.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More

4 Hewan yang Mampu Beradaptasi dengan Perubahan Musim Ekstrem

19 Feb 2026, 18:05 WIBScience