Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Fakta Portofino, Desa Nelayan Kuno yang Berkembang Menjadi Kawasan Elite

5 Fakta Portofino, Desa Nelayan Kuno yang Berkembang Menjadi Kawasan Elite
Portofino, Italia (unsplash.com/Peter Thomas)
Intinya Sih
  • Portofino bermula sebagai desa nelayan kuno bernama Portus Delphini sejak era Romawi, dikenal karena banyaknya lumba-lumba dan letaknya yang terlindung di teluk Mediterania.
  • Transformasi besar terjadi pada abad ke-20 ketika Portofino berubah menjadi destinasi favorit miliarder dan selebritas dunia, menjadikannya simbol kemewahan pesisir Italia.
  • Pemerintah setempat kini menerapkan denda bagi turis yang berhenti lama untuk selfie demi menjaga ketertiban, kenyamanan warga, serta privasi tamu elite.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Garis pantai Riviera Italia terkenal menyimpan deretan wilayah eksklusif dengan sejarah panjang yang masih terjaga hingga saat ini. Salah satu titik yang paling memikat perhatian dunia adalah Portofino, sebuah desa nelayan kecil yang terletak di wilayah Metropolitan Genoa. Pemukiman bergaya klasik ini berada di tepi tebing berbatu yang menghadap langsung ke lautan Mediterania.

Meskipun ukurannya tergolong sangat kecil, tempat ini memiliki daya tarik tersendiri yang mampu mengubah nasibnya dari pemukiman warga pesisir biasa menjadi tempat berkumpulnya kaum jetset. Pergeseran fungsi yang kontras ini menyajikan sisi historis dan transformasi yang sangat unik untuk dikulik. Yuk, intip lima fakta menarik seputar Portofino yang membuatnya menjelma jadi salah satu kawasan paling elite di daratan Eropa!

1. Julukan pelabuhan lumba-lumba sejak masa kekaisaran kuno

Portofino, Italia
Portofino, Italia (commons.wikimedia.org/Wiki rkit)

Kawasan pesisir ini sudah memiliki catatan sejarah yang sangat panjang sejak era peradaban Romawi kuno ribuan tahun lalu. Dilansir laman Outdoor Portofino, wilayah teluk ini awalnya diberi nama Portus Delphini oleh Plinius Secundus, seorang penulis dan perwira militer Romawi pada abad ke-1 Masehi. Nama kuno tersebut memiliki arti harfiah sebagai "Pelabuhan Lumba-lumba" yang merujuk pada kondisi asli perairan sekitarnya.

Penamaan unik ini diberikan karena banyaknya jumlah lumba-lumba yang sering terlihat berenang bebas di sepanjang kawasan teluk Mediterania tersebut. Letak geografisnya yang terlindung oleh tebing alami membuat area perairan ini menjadi tempat aman bagi mamalia laut untuk singgah sebelum area ini dipadati dermaga mewah. Identitas lawas sebagai pelabuhan kuno ini bahkan masih abadi berupa lambang abu-abu bergambar lumba-lumba yang terpasang di bawah kastel desa.

2. Barisan rumah warna-warni pemandu jalur pulang para pelaut

Portofino, Italia
Portofino, Italia (unsplash.com/Nick Fewings)

Pemandangan utama saat kapal memasuki area dermaga adalah deretan bangunan tinggi yang sengaja dicat menggunakan berbagai warna terang. Masih dari laman Outdoor Portofino, tradisi mewarnai dinding rumah dengan corak kuning, terakota, dan merah jambu ini sudah dilakukan oleh warga lokal sejak berabad-abad silam ketika fungsi desa ini masih murni sebagai pemukiman nelayan. Setiap pemilik rumah sengaja memilih warna yang kontras dengan bangunan di sebelah mereka.

Pilihan warna cerah tersebut awalnya bukan dibuat untuk kepentingan estetika visual atau memanjakan mata turis seperti sekarang. Para nelayan kuno sengaja mengecat rumah mereka dengan warna terang agar bisa melihat letak tempat tinggal mereka dari jarak jauh saat sedang berada di tengah laut. Fasad bangunan ini berfungsi sebagai pemandu arah pulang paling tepercaya saat kabut tebal sedang menyelimuti kawasan pantai.

3. Biara kuno tempat penahanan raja Prancis setelah perang

Biara La Cervara, Portofino, Italia
Biara La Cervara, Portofino, Italia (commons.wikimedia.org/Enric)

Sisi sejarah desa pesisir ini juga diperkuat oleh keberadaan kompleks bangunan religius tua yang berada sedikit di luar area pemukiman utama. Dilansir laman Britannica, sekitar 2,5 kilometer ke arah utara desa berdiri Biara La Cervara yang didirikan sejak abad ke-14. Kompleks bangunan ini dulunya menjadi tempat persinggahan penting bagi tokoh-tokoh besar dari berbagai wilayah di Eropa jauh sebelum Portofino dikenal sebagai resor wisata.

Salah satu peristiwa paling bersejarah terjadi pada tahun 1525 ketika Raja Francis I dari Prancis ditahan di dalam biara ini. Sang raja dijebak dan ditangkap oleh pasukan musuh setelah mengalami kekalahan telak dalam pertempuran besar di Pavia. Sebelum era penahanan tersebut, Paus Gregorius XI juga tercatat pernah menggunakan biara ini sebagai tempat beristirahat dalam perjalanannya dari Prancis menuju Roma.

4. Pusat kumpul konglomerat dan pesohor papan atas dunia

Portofino, Italia
Portofino, Italia (commons.wikimedia.org/Quintin Soloviev)

Perubahan status desa dari pemukiman nelayan sepi menjadi pusat perhatian kaum berduit mulai terjadi secara masif sejak pertengahan abad ke-20. Dilansir laman Taste Atlas, akhir tahun 1950-an menjadi gerbang pembuka masuknya gaya hidup mewah para elite global di sepanjang pesisir pantai Italia. Teluk kecil yang dulunya dipenuhi perahu kayu tradisional ini mendadak populer sebagai magnet liburan musim panas bagi miliarder dunia dan selebritas papan atas.

Nama-nama besar seperti Beyonce, Cher, hingga keluarga besar Kardashian tercatat sering menghabiskan masa liburan mereka di area marina ini. Jauh sebelum itu, bintang Hollywood legendaris seperti Elizabeth Taylor dan Frank Sinatra juga menjadikan Portofino sebagai markas peristirahatan eksklusif mereka. Kedatangan para konglomerat dengan kapal yacht super mewah mereka otomatis mengubah total perputaran roda ekonomi dan bisnis di wilayah setempat menjadi super premium.

5. Aturan denda administratif bagi turis penyuka foto selfie

Ilustrasi selfie
Ilustrasi selfie (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Popularitasnya yang terus bertahan hingga era modern belakangan ini mulai memicu masalah baru berupa penumpukan jumlah orang yang mengancam ketenangan desa. Masih dari laman Taste Atlas, tingginya volume kedatangan pelancong harian sering kali membuat area jalanan desa yang sempit menjadi macet total dan merusak atmosfer eksklusif kawasan elite ini. Otoritas pemerintah daerah akhirnya mengambil tindakan tegas dengan memberlakukan aturan khusus demi menjaga ketertiban.

Pemerintah setempat menerapkan sanksi denda administratif dalam jumlah besar bagi siapa saja yang kedapatan berhenti terlalu lama di zona pedestrian tertentu. Aturan ini sengaja menyasar para turis yang hobi menghalangi laju jalan orang lain demi mengambil foto selfie secara egois. Regulasi ketat tersebut memaksa pendatang untuk terus bergerak demi menghargai kenyamanan warga lokal serta menjaga privasi para tamu elite yang berlibur di sana.

Status Portofino sebagai destinasi favorit kalangan elite dunia saat ini tidak terlepas dari fondasi sejarah panjang yang dimilikinya. Berawal dari pelabuhan lumba-lumba dan desa nelayan kuno yang sederhana , kawasan ini berhasil mempertahankan karakter arsitektur klasiknya sambil bertransformasi menjadi salah satu ikon kemewahan paling eksklusif di pesisir Italia. Perpaduan antara warisan masa lalu dan atmosfer modern inilah yang membuat nama Portofino tetap berwibawa dan relevan hingga saat ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna

Related Articles

See More