Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Fakta Pulau Sado, Pernah Jadi Tempat Pengasingan Tokoh Penting Jepang

4 min read
5 Fakta Pulau Sado, Pernah Jadi Tempat Pengasingan Tokoh Penting Jepang
Pulau Sado (commons.wikimedia.org/MathieuMD)
  • Pulau Sado di Prefektur Niigata pernah menjadi lokasi pengasingan Kaisar Juntoku, pendeta Nichiren, dan seniman Noh Zeami, yang meninggalkan jejak sejarah serta karya penting.
  • Tambang emas dan perak Sado menjadi sumber pemasukan Keshogunan Tokugawa hingga berhenti pada 1989; kompleksnya ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada 2024.
  • Sado melestarikan tarai-bune, mendukung pemulihan burung toki melalui penangkaran dan perbaikan habitat, serta menjadi basis Kodo yang mempromosikan taiko internasional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pulau Sado merupakan sebuah pulau yang terletak di Prefektur Niigata, Jepang, tepatnya di Laut Jepang. Pulau ini dikenal dengan sejarah pertambangan emas dan peraknya serta berbagai tradisi masyarakat yang masih dilestarikan hingga sekarang.

Dalam sejarah Jepang, Pulau Sado pernah menjadi tempat pengasingan sejumlah tokoh penting, termasuk seorang kaisar. Selain itu, pulau ini memiliki perahu tradisional berbentuk bak kayu, menjadi habitat burung toki, serta merupakan tempat tinggal kelompok pemain drum taiko yang dikenal secara internasional. Penasaran dengan berbagai keunikannya? Yuk, simak lima faktanya berikut ini!

  1. 1. Dulunya menjadi tempat pengasingan kaisar dan tokoh penting Jepang

    letak Pulau Sado yang terpisah dari daratan utama
    letak Pulau Sado yang terpisah dari daratan utama (commons.wikimedia.org/LERK)

    Sejak dahulu, Pulau Sado dikenal sebagai tempat pengasingan bagi tokoh-tokoh yang kalah dalam konflik politik atau berselisih dengan penguasa Jepang. Letaknya yang terpisah dari pusat pemerintahan menjadikannya salah satu lokasi pengasingan bagi orang-orang yang dianggap menentang kekuasaan. Beberapa tokoh penting yang pernah diasingkan ke Sado adalah Kaisar Juntoku pada 1221, pendeta Nichiren pada 1271, dan seniman teater Noh, Zeami, pada 1434.

    Kehadiran mereka meninggalkan jejak dalam sejarah Sado. Kaisar Juntoku meninggalkan sejumlah situs bersejarah, seperti Kuroki Palace dan Mano Mausoleum. Sementara itu, Nichiren menulis beberapa karya penting selama pengasingannya, termasuk Kaimokusho. Adapun Zeami menghasilkan karya berjudul Kintosho selama berada di pulau tersebut. Jejak ketiga tokoh ini turut memperkaya sejarah dan kebudayaan Pulau Sado.

  2. 2. Memiliki tambang emas yang menjadi sumber kekayaan Jepang pada masa lalu

    bekas tambang emas di Pulau Sado
    bekas tambang emas di Pulau Sado (commons.wikimedia.org/日:Muramasa)

    Pulau Sado dikenal karena tambang emas dan peraknya yang berperan penting dalam perekonomian Jepang. Keberadaan emas di pulau ini telah tercatat sejak abad ke-12, kemudian kegiatan pertambangannya berkembang pesat setelah Tokugawa Ieyasu menempatkan Sado di bawah kendali langsung Keshogunan Tokugawa pada 1601. Hasil tambangnya menjadi salah satu sumber pemasukan penting bagi pemerintahan shogun.

    Perkembangan pertambangan turut mendorong pertumbuhan permukiman dan aktivitas ekonomi di sekitar kawasan tambang. Berbagai teknik penambangan manual diterapkan untuk menyesuaikan proses penggalian dan pengolahan dengan kondisi endapan mineral di pulau tersebut. Meskipun kegiatan pertambangan akhirnya berhenti pada 1989, peninggalan sejarahnya tetap dilestarikan. Pada 2024, Kompleks Tambang Emas Pulau Sado resmi ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

  3. 3. Masyarakatnya memiliki perahu tradisional berbentuk bak kayu

    tarai-bune
    tarai-bune (flickr.com/Amanda Castleman)

    Salah satu tradisi masyarakat pesisir Pulau Sado adalah penggunaan perahu bernama tarai-bune. Perahu kayu berbentuk bundar menyerupai bak ini mulai digunakan pada awal Periode Meiji (1868–1912). Bentuknya yang khas membuat perahu ini lebih stabil saat digunakan di perairan pesisir yang dangkal, berbatu, dan bergelombang di sekitar pulau.

    Dahulu, nelayan, termasuk perempuan, menggunakan tarai-bune untuk mengumpulkan kerang, abalon, dan rumput laut dengan bantuan dayung. Kini, perahu tradisional tersebut juga menjadi daya tarik wisata. Di kawasan Pelabuhan Ogi, wisatawan dapat mencoba menaikinya sambil menikmati pemandangan perairan Pulau Sado.

  4. 4. Menjadi habitat burung toki yang pernah terancam punah

    burung toki
    burung toki (commons.wikimedia.org/Totti)

    Pulau Sado merupakan habitat penting bagi burung toki atau Japanese crested ibis (Nipponia nippon). Burung ini memiliki bulu berwarna putih yang dapat memperlihatkan semburat merah muda pada musim tertentu. Toki biasanya hidup di persawahan dan lahan basah, tempat mereka mencari ikan kecil, katak, serta hewan air lainnya. Namun, populasinya menurun akibat perburuan dan kerusakan habitat, termasuk penggunaan pestisida yang mengurangi ketersediaan sumber makanan.

    Untuk mencegah kepunahannya di alam liar, lima toki liar terakhir di Jepang ditangkap pada 1981 untuk menjalani program penangkaran. Kin, individu terakhir dari populasi asli toki Jepang, kemudian mati pada 2003 tanpa menghasilkan keturunan. Sebelumnya, Jepang telah menerima burung toki dari Tiongkok pada 1999 dan berhasil mengembangbiakkannya. Pelepasliaran pertama burung hasil penangkaran di Pulau Sado dilakukan pada September 2008. Upaya tersebut juga disertai perbaikan habitat dan penerapan metode pertanian yang lebih ramah lingkungan oleh masyarakat setempat.

  5. 5. Menjadi rumah bagi kelompok pemain drum tradisional yang mendunia

    kodo
    kodo (commons.wikimedia.org/Marco Tambara)

    Pulau Sado dikenal sebagai tempat kegiatan kelompok seni Kodo yang memperkenalkan musik drum tradisional Jepang atau taiko ke berbagai negara. Nama Kodo memiliki dua arti, yaitu detak jantung dan anak-anak drum, yang menggambarkan semangat kelompok ini dalam mengeksplorasi berbagai irama taiko. Sejak debut internasionalnya di Berliner Festspiele pada 1981, Kodo telah menggelar lebih dari 7.500 pertunjukan di lebih dari 50 negara dan wilayah.

    Selain tampil di berbagai negara, Kodo juga menyelenggarakan Earth Celebration, festival seni dan budaya internasional di Pulau Sado sejak 1988. Bekerja sama dengan masyarakat setempat, festival ini menghadirkan seniman dari berbagai negara untuk menampilkan musik dan budaya mereka. Kegiatan tersebut menjadi salah satu cara Kodo memperkenalkan seni taiko sekaligus budaya Pulau Sado kepada masyarakat internasional.

    Itulah lima fakta tentang Pulau Sado yang memperlihatkan beragam keunikan pulau ini. Perpaduan antara peninggalan sejarah, tradisi masyarakat, dan upaya pelestarian alam menjadikan Pulau Sado sebagai salah satu wilayah Jepang yang memiliki kekayaan budaya dan sejarah tersendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More