Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Fakta Rangkong Von Der Decken, Menjalin Hubungan Unik dengan Luwak

5 Fakta Rangkong Von Der Decken, Menjalin Hubungan Unik dengan Luwak
Rangkong von der Decken asal wilayah Afrika timur. (commons.wikimedia.org/John Mackenzie Burek)
Intinya Sih
  • Rangkong von der Decken berasal dari Afrika Timur dan hidup di habitat sabana, semak berduri, serta hutan semi-kering hingga ketinggian 1.530 meter.
  • Burung ini mudah dibedakan antara jantan dan betina lewat warna paruhnya, menunjukkan dimorfisme seksual yang jelas pada spesies berukuran sekitar 35 sentimeter ini.
  • Rangkong von der Decken menjalin hubungan mutualisme dengan luwak kerdil, saling membantu dalam mencari makan dan menjaga keamanan dari predator di alam liar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Di Afrika, rangkong dikenal sebagai burung berparuh besar yang menghuni beragam tipe habitat, mulai dari hutan hujan hingga sabana yang kering. Salah satu spesies yang cukup menarik perhatian adalah rangkong von der Decken (Tockus deckeni). Selain memiliki perbedaan warna paruh yang mencolok antara jantan dan betina, burung ini juga terkenal karena menjalin hubungan unik dengan luwak, lho. Penasaran dengan burung satu ini? Yuk, langsung saja simak lima fakta rangkong von der Decken berikut!

1. Rangkong yang berasal dari wilayah Afrika timur

Rangkong von der Decken asal wilayah Afrika timur.
Rangkong von der Decken asal wilayah Afrika timur. (commons.wikimedia.org/Lip Kee)

Rangkong von der Decken adalah spesies rangkong yang hidup di wilayah Afrika timur. Dilansir Birdlife Datazone, burung ini mendiami wilayah Ethiopia, Kenya, Somalia, dan Tanzania. Ia umumnya menghuni habitat sabana terbuka, semak berduri, hutan dengan pepohonan yang jarang, serta berbagai habitat semi-kering. Rangkong von der Decken juga sering ditemukan di kawasan yang didominasi pohon berduri dan tumbuhan Commiphora. Di Ethiopia, spesies ini bahkan dapat dijumpai hingga ketinggian sekitar 1.530 meter di atas permukaan laut.

2. Jantan dan betina mudah dibedakan dari warna paruhnya

Rangkong von der Decken jantan memiliki paruh berwarna merah, sementara betina memiliki paruh berwarna hitam.
Rangkong von der Decken jantan memiliki paruh berwarna merah, sementara betina memiliki paruh berwarna hitam. (commons.wikimedia.org/Frank Wouters)

Dengan panjang tubuh sekitar 35 sentimeter, rangkong von der Decken tergolong sebagai rangkong berukuran kecil. Tubuhnya didominasi bulu hitam dan putih, dengan bercak putih pada punggung, sayap, serta bulu ekor bagian luar. Bagian bawah tubuh dan kepalanya didominasi warna putih, sementara ekornya tampak panjang.

Kamu dapat dengan mudah membedakan jantan dan betina dari spesies ini lewat warna paruhnya. Dilansir Birds of the World, jantan memiliki paruh merah dengan ujung berwarna krem dan tepi paruh berwarna hitam. Sebaliknya, betina memiliki paruh yang seluruhnya berwarna hitam serta berukuran lebih kecil. Perbedaan penampilan antara jantan dan betina menunjukkan adanya dimorfisme seksual pada rangkong von der Decken.

3. Namanya diambil dari seorang penjelajah Jerman

Nama rangkong von der Decken diambil dari seorang penjelajah Jerman.
Nama rangkong von der Decken diambil dari seorang penjelajah Jerman. (commons.wikimedia.org/Lip Kee)

Mendengar namanya, kamu mungkin sudah menduga bahwa "Von der Decken" merujuk pada nama seseorang. Dugaan itu memang benar, lho. Rangkong von der Decken dinamai untuk menghormati Baron Karl Klaus von der Decken, seorang penjelajah asal Jerman yang pertama kali mendokumentasikannya. Dahulu, beliau melakukan berbagai ekspedisi di kawasan Afrika Timur pada abad ke-19.

Pemberian nama spesies berdasarkan nama tokoh merupakan hal yang umum dalam dunia taksonomi. Cara ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada ilmuwan, penjelajah, atau orang-orang yang berjasa dalam penemuan maupun penelitian suatu spesies.

4. Burung omnivora yang lebih sering mencari makan di permukaan tanah

Rangkong von der Decken lebih sering mencari makan di permukaan tanah.
Rangkong von der Decken lebih sering mencari makan di permukaan tanah. (commons.wikimedia.org/Lip Kee)

Rangkong von der Decken termasuk burung omnivora. Menu makanannya sangat beragam. Burung ini bisa mengonsumsi serangga, buah-buahan, biji-bijian, hingga tunas muda. Ia juga memangsa siput, tikus kecil, kadal, katak pohon, bahkan anakan burung.

Berbeda dengan burung lain yang lebih sering mencari makan di antara dahan pohon, rangkong ini justru berbeda. Sekitar 93 persen aktivitas mencari makan rangkong von der Decken dilakukan di permukaan tanah. Burung ini biasanya berjalan menyusuri tanah untuk mencari mangsa atau meluncur turun dari dahan untuk menyergapnya. Namun, ketika sedang memakan buah, ia lebih sering mencari makan di bagian atas pohon.

5. Menjalin hubungan saling menguntungkan dengan luwak kerdil

Salah satu hal unik dari rangkong von der Decken adalah hubungannya dengan luwak kerdil (Helogale undulata). Luwak ini merupakan salah satu karnivora terkecil di Afrika. Kedua spesies ini hidup dalam hubungan mutualisme yang saling menguntungkan, lho.

Saat luwak mencari makan, ia secara tidak sengaja mengusir serangga dari balik rerumputan sehingga lebih mudah ditangkap oleh rangkong. Sebagai imbalannya, rangkong bertindak sebagai penjaga yang mengawasi lingkungan sekitar. Dengan penglihatannya yang tajam, burung ini akan mengeluarkan suara peringatan jika ada predator yang mendekat, sehingga luwak dapat segera menyelamatkan diri.

Hubungan unik tersebut membuat kedua spesies sama-sama memperoleh keuntungan. Luwak dapat mencari makan dengan lebih tenang, sementara rangkong mendapatkan sumber makanan yang lebih mudah ditangkap. Selain itu, rangkong von der Decken juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dengan membantu mengendalikan populasi serangga dan menyebarkan biji melalui kotorannya.

Itulah lima fakta mengenai rangkong von der Decken. Rangkong asal Afrika timur ini menampilan keunikan tersendiri dari kehidupannya. Mulai dari kebiasaannya mencari makan di permukaan tanah, hingga hubungan mutualisme yang dijalinnya dengan luwak kerdil, semunya menunjukkan adaptasi yang menarik. Saat ini populasinya masih tergolong aman dengan status least concern menurut IUCN. Semoga ke depannya populasi rangkong ini tetap stabil sehingga keberadaannya di alam tetap terjaga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More