Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Warna Asteroid Berbeda-beda? Jadi Petunjuk Penting bagi Ilmuwan

Kenapa Warna Asteroid Berbeda-beda? Jadi Petunjuk Penting bagi Ilmuwan
ilustrasi asteroid (unsplash.com/NASA Hubble Space Telescope)
Intinya Sih
  • Warna asteroid ditentukan oleh komposisi mineralnya, seperti tipe C yang kaya karbon berwarna gelap, tipe S dengan silikat lebih terang, dan tipe M yang cenderung kemerahan karena logam.
  • Pelapukan antariksa akibat radiasi dan mikrometeorit membuat warna asteroid berubah seiring waktu, di mana permukaan yang lebih tua biasanya tampak semakin kemerahan.
  • Perbedaan warna Bennu dan Ryugu menunjukkan usia permukaan memengaruhi rona asteroid, membantu ilmuwan memahami sejarah pembentukan serta evolusi benda langit di Tata Surya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kalau membayangkan asteroid, mungkin yang terlintas di pikiran adalah bongkahan batu berwarna abu-abu yang melayang di luar angkasa. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Asteroid memiliki beragam warna, mulai dari hitam pekat, abu-abu, cokelat kemerahan, hingga ada yang tampak sedikit kebiruan.

Perbedaan warna tersebut bukan sekadar soal penampilan. Bagi para astronom, warna asteroid ibarat sidik jari yang menyimpan banyak informasi tentang kandungan mineral, usia permukaan, hingga perjalanan panjang yang telah dialaminya selama miliaran tahun di Tata Surya. Lalu, kenapa warna asteroid bisa berbeda-beda? Berikut penjelasannya.

1. Kandungan mineral menjadi penyebab utama

Faktor terbesar yang menentukan warna asteroid adalah komposisi penyusunnya. Sama seperti batuan di Bumi yang memiliki warna berbeda karena mengandung mineral tertentu, asteroid juga demikian. Asteroid dikelompokkan ke dalam beberapa jenis berdasarkan spektrum cahaya yang dipantulkannya. Dari klasifikasi tersebut, muncul beberapa tipe utama.

Asteroid tipe C (carbonaceous) merupakan jenis yang paling banyak ditemukan, bahkan mencapai lebih dari 75 persen asteroid yang telah diketahui. Asteroid ini kaya akan karbon, mineral lempung, dan batuan silikat. Kandungan karbon yang tinggi membuatnya menyerap sebagian besar cahaya Matahari, sehingga tampak sangat gelap, mulai dari abu-abu tua hingga hampir hitam.

Sementara itu, asteroid tipe S (silicaceous) didominasi oleh mineral silikat, besi, dan nikel. Warnanya cenderung lebih terang dibanding tipe C. Tergantung komposisi mineralnya, asteroid jenis ini bisa tampak abu-abu terang, kehijauan, hingga sedikit kemerahan.

Ada pula asteroid tipe M (metallic) yang diduga tersusun terutama dari logam besi dan nikel. Dalam sejumlah pengamatan, asteroid logam ini terlihat memiliki rona kemerahan yang khas.

Perbedaan komposisi tersebut membuat dua asteroid yang berukuran sama bisa terlihat sangat berbeda. Ibarat membandingkan bongkahan batu bara dengan bijih besi di Bumi, keduanya tentu memiliki warna yang tidak sama meskipun sama-sama merupakan batuan.

2. Cuaca antariksa mengubah warna asteroid seiring waktu

Selain komposisi, warna asteroid juga dipengaruhi oleh proses yang dikenal sebagai space weathering atau pelapukan antariksa. Berbeda dengan pelapukan di Bumi yang melibatkan air dan angin, pelapukan di luar angkasa disebabkan oleh paparan radiasi Matahari, sinar kosmik, serta hantaman mikrometeorit yang terus-menerus terjadi selama jutaan hingga miliaran tahun.

Proses ini perlahan mengubah sifat permukaan asteroid sehingga cara permukaannya memantulkan cahaya juga berubah. Akibatnya, warna asteroid ikut mengalami perubahan.

Menariknya, semakin tua permukaan asteroid, warnanya cenderung semakin kemerahan. Perubahan tersebut terjadi secara perlahan layaknya kulit manusia yang berubah setelah lama terkena sinar Matahari, hanya saja prosesnya berlangsung dalam skala waktu astronomi.

3. Misteri asteroid Bennu dan Ryugu membantu mengungkap jawabannya

ilustrasi asteroid 20 Massalia
ilustrasi asteroid (unsplash.com/Martin Balle)

Fenomena perubahan warna ini semakin jelas setelah dua misi antariksa terkenal berhasil mempelajari asteroid dari jarak dekat. Misi OSIRIS-REx milik NASA mengunjungi asteroid Bennu, sedangkan misi Hayabusa2 milik Jepang meneliti asteroid Ryugu.

Awalnya, ilmuwan dibuat bingung karena kedua asteroid tersebut memiliki komposisi mineral yang hampir sama. Namun, Bennu tampak sedikit kebiruan, sedangkan Ryugu terlihat lebih kemerahan. Setelah dianalisis lebih lanjut, ternyata penyebabnya bukan karena kandungan mineralnya berbeda, melainkan usia permukaannya.

Butiran batuan di permukaan Bennu telah terpapar lingkungan luar angkasa selama puluhan ribu tahun sehingga mengalami pelapukan lebih lanjut. Sebaliknya, permukaan Ryugu relatif lebih muda dengan usia paparan hanya beberapa ribu tahun. Temuan ini menunjukkan bahwa asteroid dapat mengalami perubahan warna seiring berjalannya waktu, meskipun berasal dari jenis batuan yang hampir sama.

4. Tabrakan membuat permukaan asteroid terus diperbarui

Banyak asteroid sebenarnya merupakan kumpulan pecahan batu yang saling terikat oleh gravitasi, atau sering disebut sebagai rubble-pile asteroid. Saat terjadi tumbukan dengan benda langit lain atau ketika struktur asteroid bergeser akibat gaya gravitasi, lapisan permukaan yang lama bisa tersingkap dan memperlihatkan batuan baru yang sebelumnya tersembunyi.

Material yang baru muncul ini belum mengalami pelapukan antariksa sehingga memiliki warna berbeda dibanding permukaan yang lebih tua. Setelah kembali terpapar radiasi dan mikrometeorit selama ribuan hingga jutaan tahun, warnanya pun perlahan berubah lagi. Karena proses tersebut terus berulang, warna asteroid tidak pernah benar-benar tetap.

5. Ukuran dan tekstur permukaan juga memengaruhi warna

Ukuran asteroid ikut memengaruhi tampilannya. Asteroid berdiameter kurang dari sekitar 20 kilometer cenderung tampak lebih kebiruan dibanding asteroid yang lebih besar.

Diduga, hal ini berkaitan dengan kondisi permukaannya. Asteroid kecil biasanya memiliki lebih banyak batuan besar yang terbuka, sedangkan asteroid besar lebih banyak tertutup regolit, yaitu lapisan debu halus hasil tumbukan selama miliaran tahun.

Batuan padat dan debu halus memantulkan cahaya dengan cara yang berbeda. Perbedaan inilah yang akhirnya memengaruhi warna yang terlihat dari Bumi maupun teleskop luar angkasa.

6. Kenapa warna asteroid penting untuk dipelajari

ilustrasi asteroid 20 Massalia
ilustrasi asteroid (unsplash.com/Bernd Dittrich)

Bagi ilmuwan, warna asteroid bukan sekadar informasi visual. Warna menjadi petunjuk yang sangat berharga untuk memahami karakter sebuah asteroid tanpa harus selalu mengirim wahana antariksa.

Melalui analisis warna, peneliti dapat memperkirakan jenis mineral penyusunnya, menentukan apakah permukaannya masih muda atau sudah tua, hingga menelusuri sejarah pembentukannya.

Yang tak kalah penting, asteroid merupakan sisa-sisa material pembentuk Tata Surya sekitar 4,6 miliar tahun lalu. Karena banyak asteroid yang relatif tidak berubah sejak masa awal pembentukannya, mempelajari warna dan komposisinya membantu ilmuwan memahami bagaimana planet, termasuk Bumi, terbentuk.

Singkatnya, warna asteroid adalah petunjuk alami yang menyimpan banyak informasi tentang asal-usul dan evolusi benda langit tersebut. Dari hitam, abu-abu, merah kecokelatan, hingga kebiruan, setiap warna memiliki cerita tersendiri mengenai komposisi, usia, serta perjalanan panjang asteroid di tengah kerasnya lingkungan luar angkasa.

Referensi

Biology Insights. Diakses pada Juli 2026. What Color Are Asteroids? From Black to Red
Discovermagz.com. Diakses pada Juli 2026. Asteroid Colors Reveal Secrets of Our Solar System
Universe Today. Diakses pada Juli 2026. Asteroids Change Colour With Age
Universe Today. Diakses pada Juli 2026. Scientists Solve the Mystery of Why Similar Asteroids Look Different Colours

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More