5 Fakta Ratha Yatra, Festival Kereta Kuno yang Bertahan Ribuan Tahun

- Ratha Yatra di Puri, India, adalah festival keagamaan kuno yang menampilkan prosesi penarikan kereta raksasa membawa Dewa Jagannath, Balabhadra, dan Subhadra, berlangsung sejak abad ke-10.
- Festival ini menjadi simbol inklusivitas karena terbuka bagi semua orang dan menarik jutaan peserta setiap tahun, bahkan sempat dilarang pada masa kolonial Inggris sebelum kembali diizinkan pada 1905.
- Tradisi uniknya mencakup pembuatan kereta tanpa paku logam serta legenda patung dewa tak sempurna karya Vishwakarma, yang diganti setiap 12 tahun sesuai ritual turun-temurun.
Ratha Yatra berdiri sebagai salah satu perayaan keagamaan tertua dan terbesar di dunia yang berpusat di Puri, Odisha, India. Festival ini melibatkan prosesi akbar penarikan kereta kayu raksasa yang membawa Dewa Jagannath bersama saudaranya, Balabhadra dan Subhadra. Setiap tahun, jutaan umat berkumpul untuk menyaksikan perjalanan suci ini, menciptakan lautan manusia yang penuh dengan pengabdian dan sorak-sorai kemenangan di sepanjang jalan utama kota.
Tradisi ini telah berlangsung selama ribuan tahun dan tetap mempertahankan keaslian naskah kuno dalam setiap tahap persiapannya. Daya tarik utamanya terletak pada ritual pembangunan kereta baru yang dilakukan setiap tahun tanpa menggunakan paku logam sama sekali. Penasaran? Mari kita telusuri fakta-fakta di balik kemegahan festival kereta kuno yang terus hidup dan menginspirasi banyak orang melintasi berbagai generasi.
1. Sejarah ritual tertua sejak abad ke 10

Asal-usul Ratha Yatra berakar kuat pada mitologi Hindu mengenai perjalanan suci Dewa Jagannath sebagai inkarnasi Dewa Vishnu. Dilansir laman Babasfeed Project, festival ini merayakan momen saat Dewa Jagannath bersama kakak laki-lakinya, Balabhadra, dan saudara perempuannya, Subhadra, meninggalkan kediaman utama di Kuil Jagannath. Mereka melakukan perjalanan sejauh kurang lebih 2,5 mil atau sekitar 4 kilometer menuju Kuil Gundicha yang merupakan rumah bibi mereka.
Bukti sejarah tertua mengenai perayaan ini ditemukan pada catatan Raja Anantavarman Chodaganga Deva dari Dinasti Ganga Timur pada abad ke-10. Sebagai pengikut setia, sang raja berperan besar dalam mengembangkan struktur Kuil Jagannath serta membesarkan nama festival ini. Hingga saat ini, prosesi menarik kereta dari satu kuil ke kuil lainnya tetap menjadi inti dari upacara sakral yang berlangsung selama beberapa hari tersebut.
2. Menjadi simbol inklusivitas pemersatu dunia

Festival ini memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan sosial dan budaya di wilayah Puri karena sifatnya yang terbuka bagi siapa saja. Masih dari laman Babasfeed Project, meskipun sempat menghadapi tantangan pembatasan ketat pada masa kolonial Inggris, larangan tersebut akhirnya dicabut sepenuhnya pada tahun 1905. Hal ini memungkinkan prosesi kereta raksasa kembali berlangsung megah sekaligus menarik perhatian dunia internasional.
Sejak saat itu, Ratha Yatra terus berkembang menjadi salah satu festival budaya terbesar yang menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah dan negara. Banyak orang percaya bahwa mendapatkan kesempatan untuk menarik tali kereta atau sekadar menyentuhnya akan membawa keberuntungan. Suasana perayaan juga semakin meriah dengan lantunan lagu-lagu tradisional serta keterlibatan jutaan partisipan setiap tahunnya.
3. Legenda arsitek dewa pembuat patung

Keunikan patung dewa di dalam festival ini bermula dari legenda Raja Indradyumna yang bermimpi tentang kayu suci yang terapung di pantai Puri. Dilansir laman Rath Yatra, raja meminta bantuan arsitek dewa, Vishwakarma, yang menyamar sebagai tukang kayu tua untuk mengukir patung tersebut. Vishwakarma memberikan syarat bahwa tidak ada seorang pun yang boleh mengganggunya saat ia bekerja, atau ia akan pergi meninggalkan pekerjaannya dalam keadaan tidak tuntas.
Karena rasa tidak sabar, raja membuka pintu sebelum waktunya sehingga Vishwakarma menghilang seketika dari ruangan tersebut. Akibatnya, patung-patung kayu tersebut memiliki bentuk yang tidak sempurna, seperti tanpa lengan serta berkepala besar, namun raja tetap menyucikannya di dalam kuil. Tradisi ini terus dijaga melalui upacara penggantian patung setiap 12 tahun sekali, di mana patung baru tetap dibuat dalam bentuk tidak sempurna sesuai legenda aslinya.
4. Adanya ragam versi mitologi

Terdapat berbagai kisah mitologis lain yang menjelaskan alasan di balik prosesi kereta ini, termasuk kisah dari masa kehidupan Dewa Krishna di Mathura. Masih dari laman Rath Yatra, salah satu versi menyebutkan bahwa festival ini memperingati hari ketika Krishna serta Balaram meninggalkan Gokul menuju Mathura atas undangan paman mereka, Kansa. Versi lainnya merayakan momen saat penduduk Dwarika mengarak Krishna di atas kereta untuk menunjukkan kemegahan kota kepada saudara perempuannya, Subhadra.
Ada pula kisah tentang permohonan Resi Narad yang ingin melihat ketiga bersaudara tersebut dalam posisi berdiri bersama selamanya. Doa tersebut dikabulkan, sehingga mereka bertiga bersemayam di Kuil Puri yang menjadi satu-satunya tempat suci dengan tiga dewa bersaudara dalam satu altar. Semua narasi ini memperkaya makna spiritual di balik penarikan tiga kereta raksasa yang dilakukan oleh seluruh umat yang hadir.
5. Masa isolasi dewa akibat sakit demam

Sebelum prosesi dimulai, terdapat fase unik di mana pintu kuil ditutup selama seminggu penuh bagi siapa pun yang ingin masuk ke dalam. Dilansir laman BBC, dipercaya bahwa para dewa mengalami demam setelah mandi dengan 108 kendi air di bawah terik matahari, sehingga mereka harus menjalani masa pemulihan. Perjalanan menuju rumah bibi dengan kereta raksasa dilakukan sebagai bentuk "perubahan suasana" untuk memulihkan kesehatan para dewa setelah demam mereka mereda secara perlahan.
Momen yang paling ditunggu adalah saat seorang "raja" menyapu jalanan di depan kereta menggunakan sapu emas sebagai simbol kerendahan hati. Tiga kereta raksasa yang memiliki 18 roda tersebut dibangun selama 42 hari menggunakan lebih dari 4.000 keping kayu oleh keluarga khusus dengan hak turun-temurun. Skala serta kemegahan prosesi yang tidak terhentikan ini bahkan menginspirasi munculnya kata Juggernaut dalam kamus bahasa Inggris untuk menggambarkan kekuatan yang sangat masif.
Ratha Yatra masih terus berlangsung hingga sekarang sebagai salah satu festival tradisional terbesar di India. Di tengah perkembangan zaman, proses pembuatan kereta raksasa serta prosesi penarikannya tetap dipertahankan seperti yang telah dilakukan selama berabad-abad. Setiap tahunnya, perayaan ini kembali menarik jutaan orang yang datang untuk menyaksikan kemegahan arak-arakan kereta di jalanan Puri.

![[QUIZ] Dari Jenis Arus Laut Favoritmu, Ini Cara Kamu Menghadapi Perubahan Besar](https://image.idntimes.com/post/20250601/pexels-kellie-churchman-371878-1001682-49b55fb7e62e8698485c220fb59163fd-18adbe91d29be13511259e9ac6f41b6a.jpg)
















