5 Fakta Sigiriya, Benteng Batu Kuno Abad ke-5 di Sri Lanka

- Sigiriya dibangun oleh Raja Kashyapa I pada abad ke-5 sebagai benteng dan istana megah di atas batu setinggi 349 meter untuk melindungi diri dari serangan saudaranya, Moggallana.
- Setelah kekalahan dan kematian Kashyapa, Sigiriya berubah fungsi menjadi biara Buddha yang aktif selama berabad-abad sebelum akhirnya ditinggalkan pada abad ke-14.
- Sigiriya terkenal dengan gerbang cakar singa, lukisan dinding wanita cantik, serta dinding cermin berisi puisi kuno, menjadikannya Situs Warisan Dunia UNESCO yang memukau hingga kini.
Republik Sosialis Demokratik Sri Lanka merupakan sebuah negara kepulauan yang terletak di Samudra Hindia, Asia Selatan. Di balik keindahan alamnya, negara ini menyimpan banyak peninggalan sejarah yang luar biasa. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah Sigiriya, atau yang sering dijuluki sebagai Batu Singa.
Kira-kira, apa saja cerita menarik dan rahasia yang tersembunyi di balik megahnya batu raksasa ini? Yuk, kita kupas faktanya satu per satu!
1. Istana yang lahir dari konflik kekuasaan

Menurut catatan kuno Cūḷavaṃsa, semua drama ini dimulai pada tahun 477 M ketika Kashyapa I merebut takhta lewat kudeta. Karena dia adalah anak dari selir dan bukan keturunan bangsawan asli, takhta itu sebenarnya adalah hak milik saudara tirinya, Moggallana. Dibantu komandan tentara bernama Migara, Kashyapa tega menyingkirkan ayahnya sendiri, Raja Dhatusena, dengan cara mengurungnya hidup-hidup di dalam tembok.
Ketakutan akan keselamatannya, Moggallana akhirnya kabur ke India Selatan sambil bersumpah akan kembali untuk balas dendam. Tahu kalau saudara tirinya pasti akan kembali menuntut balas, Kashyapa langsung memindahkan ibu kota dan istananya dari Anuradhapura ke puncak batu Sigiriya yang jauh lebih aman dari serangan. Selama masa pemerintahannya dari tahun 477 hingga 495 M, Kashyapa mengubah batu raksasa ini menjadi sebuah kompleks kota penjelajah dan benteng pertahanan yang sangat megah.
2. Berubah fungsi menjadi biara buddha

Siasat pertahanan ketat yang dibangun Kashyapa I akhirnya runtuh juga ketika Moggallana datang kembali membawa pasukan perang yang besar. Kashyapa kalah telak dalam pertempuran tersebut dan memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Setelah kematian Kashyapa, Moggallana memutuskan untuk memindahkan kembali ibu kota kerajaan ke tempat asalnya, yaitu Anuradhapura.
Sejak saat itu, kompleks istana megah di puncak Sigiriya pun berganti fungsi total menjadi sebuah biara Buddha. Tempat ini berubah menjadi pusat spiritual yang tenang dan damai bagi para biksu yang ingin mendalami agama. Kompleks batu ini terus aktif digunakan sebagai tempat ibadah selama berabad-abad, sampai akhirnya benar-benar ditinggalkan pada abad ke-14.
3. Ada gerbang cakar singa yang monumental
Kashyapa I sengaja membangun istananya di atas batu ini demi berlindung dari kejaran musuh-musuhnya. Bayangkan saja, batu monolitik ini menjulang setinggi 349 meter di atas permukaan laut, atau sekitar 180 meter dari dataran rendah di sekitarnya. Dengan posisi setinggi itu, istana ini jadi tempat persembunyian yang sangat ideal sekaligus sulit ditembus.
Nama "Sigiriya" sendiri diambil dari kata Sinha-giri yang artinya Batu Singa. Dulu, siapa pun yang ingin naik ke puncak harus berjalan melewati tangga di dalam patung singa—tepatnya masuk lewat rahang dan tenggorokannya yang terbuka lebar. Walau sekarang bagian kepala dan tubuh singanya sudah runtuh, dua cakar singa yang terpahat di batu kokoh masih berdiri utuh menyambut para wisatawan.
4. Lukisan dindingnya menampilkan ratusan sosok wanita cantik

Di salah satu sisi tebing Sigiriya, terdapat lukisan dinding kuno yang menampilkan ratusan sosok wanita cantik. Banyak yang menggambarkan mereka sebagai apsara atau peri surgawi yang bagian atas tubuhnya muncul dari balik awan sambil menghujani bumi dengan bunga. Konon, mahakarya seni ini dulunya sangat besar hingga menutupi hampir seluruh permukaan dinding barat batu, dengan bentangan panjang mencapai 140 meter dan tinggi sekitar 40 meter.
Meskipun dulu ada lebih dari 500 sosok wanita yang digambarkan di sana, makna dan fungsi asli dari lukisan-lukisan gua ini masih menjadi misteri besar yang belum terpecahkan hingga sekarang. Beberapa ahli mengira mereka adalah para selir raja, sementara yang lain percaya kalau lukisan anggun ini merupakan simbol dari makhluk-makhluk suci yang turun dari langit.
5. Ada juga dinding cermin
Sebelum naik lewat tangga spiral menuju area lukisan, pengunjung akan melewati dinding cermin yang ikonik. Dinding bata sepanjang 15 meter dan tinggi 1,5 meter ini dulunya dilapisi plester putih khusus yang dipoles sangat halus hingga mengkilap. Saking mengkilapnya, Kashyapa I bahkan bisa melihat bayangannya sendiri terpantul jelas saat berjalan di samping dinding ini.
Sekarang, permukaan dinding tersebut dipenuhi oleh lebih dari 1.500 coretan puisi kuno dari para pengunjung abad ke-8 hingga ke-10. Menariknya, sebagian besar puisi ini ditulis oleh para pria yang memuji kecantikan wanita di lukisan dinding, serta para wanita yang mengungkapkan rasa iri mereka. Meski begitu, ada juga curhatan dari pengunjung wanita zaman dulu yang terkesan cuek dan sama sekali tidak kagum dengan lukisan tersebut.
Sigiriya adalah mahakarya sejarah yang luar biasa. Diakui dunia sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO, tempat ini menjadi salah satu contoh perencanaan kota kuno yang paling rapi dan terawat dengan sangat baik hingga hari ini. Menjelajahi Sigiriya rasanya seperti berjalan melintasi waktu, di mana kita bisa melihat langsung kehebatan dan keindahan peradaban masa lalu yang masih berdiri kokoh.

















