Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Rayap Lebih Suka Makan Kayu Mati daripada Pohon Hidup?

Kenapa Rayap Lebih Suka Makan Kayu Mati daripada Pohon Hidup?
Ilustrasi kayu mati yang di tempati rayap (pixabay.com/Nennieinszweidrei)
Intinya Sih
  • Rayap lebih memilih kayu mati karena pohon hidup masih memiliki pertahanan biologis, seperti getah, resin, dan senyawa antimikroba, yang menghambat serangan.
  • Pelapukan oleh jamur memecah lignin pada kayu mati, sehingga selulosa lebih mudah dijangkau, dikunyah, dan diolah rayap bersama mikroorganisme di ususnya.
  • Aktivitas rayap menguraikan kayu mati menjadi partikel kecil, mempercepat daur ulang unsur hara, menjaga kesuburan tanah, dan mendukung produktivitas ekosistem hutan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Di hutan, sebagian besar spesies rayap sering ditemukan menggerogoti batang pohon tumbang atau kayu lapuk daripada pohon yang masih sehat. Padahal, keduanya sama-sama tersusun atas serat kayu yang menjadi sumber makanan rayap. Fenomena ini terjadi karena ada perbedaan mendasar antara kondisi kayu mati dan kayu hidup, khususnya dari segi pertahanan biologisnya.

Nah, untuk memahami lebih dalam, simak tiga alasan utama mengapa rayap lebih memilih kayu mati sebagai santapan favorit mereka!

1. Kayu mati sudah kehilangan sistem pertahanan alami

Ilustrasi kayu mati di hutan
Ilustrasi kayu mati di hutan (unsplash.com/Jeffrey Eisen)

Pohon hidup tidak diam ketika ada organisme yang mencoba menyerangnya. Jaringan hidup masih bisa menghasilkan getah, resin, senyawa fenolik, tanin, serta berbagai zat antimikroba yang berfungsi menghambat serangga maupun jamur. Berdasarkan penjelasan dalam buku Compartmentalization of decay in trees (1977 & 1985), mekanisme pertahanan pohon bekerja melalui proses kompartementalisasi kerusakan (CODIT), yakni membatasi penyebaran luka dan infeksi supaya tidak menjalar ke seluruh batang.

Berbeda dengan kayu mati yang berhenti menjalankan fungsi biologisnya. Tidak ada lagi aliran getah maupun respons kimia yang sanggup menghalangi rayap saat menggigit permukaan kayu. Kayu mati cuma mengandalkan ketahanan fisik alami dari seratnya, tanpa kemampuan memperbaiki diri atau melawan patogen. Seiring waktu, kayu bakal semakin rapuh dan mudah terdegradasi.

2. Proses pelapukan membuat selulosa lebih mudah diuraikan

Potret rayap pada kayu lapuk
Potret rayap pada kayu lapuk (unsplash.com/malwina nogaj)

Makanan utama rayap berasal dari selulosa yang tersimpan di dalam dinding sel kayu. Walau begitu, selulosa pada kayu segar tersusun bersama lignin yang padat nan rapat, sehingga sulit dijangkau rayap. Setelah pohon mati, jamur pelapuk mulai memecah struktur lignin, yang mengakibatkan tekstur kayu berubah lunak dan gampang hancur.

Perubahan struktur tersebut memberi keuntungan bagi rayap. Energi yang dibutuhkan guna mengunyah kayu berkurang, sedangkan mikroorganisme di dalam saluran pencernaan rayap mampu mengolah selulosa secara efisien. Dengan demikian, hubungan simbiosis antara rayap dan mikroba usus benar-benar optimal, terutama bila material organik yang dikonsumsi telah mengalami pelapukan terlebih dahulu.

3. Mengonsumsi kayu mati juga menjaga keseimbangan ekosistem hutan

Potret tumpukan batang kayu tumbang
Potret tumpukan batang kayu tumbang (unsplash.com/Walter Martin)

Di balik reputasinya sebagai hama, rayap sebenarnya merupakan pengurai penting dalam ekosistem. Kayu mati yang dibiarkan menumpuk membutuhkan waktu sangat lama agar terurai secara alami. Aktivitas rayap mempercepat proses itu dengan menghancurkan jaringan kayu jadi partikel-partikel kecil yang kemudian dimanfaatkan mikroorganisme lain di dalam tanah.

Tanpa rayap dan organisme pengurai lain, tumpukan kayu mati akan terus bertambah dan memperlambat daur ulang unsur hara. Akibatnya, kesuburan tanah menurun lantaran nutrisi yang terkunci di dalam kayu tidak segera dilepaskan ke lingkungan. Berkat percepatan penguraian yang rayap lakukan, siklus hara kembali berjalan lancar dan hutan pun tetap produktif.

Pada akhirnya, preferensi rayap terhadap kayu mati adalah strategi adaptif demi memperoleh makanan dengan usaha minimal, sekaligus menjalankan fungsi ekologis yang tak tergantikan. Jadi, kalau melihat kayu lapuk yang dihuni rayap, ingatlah bahwa mereka sedang bekerja sebagai daur ulang alami, bukan sekadar perusak.

Referensi :

Shigo, A. L., & Marx, H. G. (1977). Compartmentalization of decay in trees (No. 405). Department of Agriculture, Forest Service.

Kirker, G. T. (2018). Wood decay fungi. John Wiley & Sons, Ltd: Chichester. 1-6., 1-6.

Himawanti, H., Widhiono, I., & Pratiknyo, H. (2019). Preferensi Rayap (F: Rhinotermitidae) Terhadap Berbagai Tonggak Pohon Jati (Tectona grandis) dan Wangkal (Albizia procera) di Kawasan Cagar Alam Bantarbolang, Pemalang, Jawa Tengah. BioEksakta: Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed, 1, 127-132.

Morris, H., Brodersen, C., Schwarze, F. W., & Jansen, S. (2016). The parenchyma of secondary xylem and its critical role in tree defense against fungal decay in relation to the CODIT model. Frontiers in Plant Science, 7, 1665.

Trisnu S., Lusyiani., & Yuniarti. (2022). Buku Ajar Hama & Penyakit Hasil Hutan. CV Banyubening Cipta Sejahtera.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More